Sabtu, 04 Apr 2020

Warga Minta Direlokasi Secepatnya

Badai Abu Vulkanik Rusak 10.779,49 H Lahan Pertanian

Rabu, 15 Januari 2014 12:44 WIB
SIB/Alexander Hr Ginting
Rusak : warga melihat lahan Pertanian miliknya yang rusak akibat erupsi gunung Sinabung
Tanah Karo (SIB)- Badai abu vulkanik  erupsi Sinabung, sejak Rabu (8/1) sampai, Jumat (10/1)  merusak 10.779,49 hektar lahan pertanian warga di 7 desa, radius 4 kilometer puncak kawah. Kerusakan parah tampak  jelas di  Desa Sigarang garang, Kutarayat, Kuta Gugung, Kebayaken, Sukanalu, Bekerah dan Simacem.

Kadis Pertanian dan Perkebunan Pemkab Karo Agustoni Tarigan, kepada wartawan, Senin (13/1) menyatakan angka itu masih sementara,   mengingat aktivitas Sinabung belum usai.  Material abu campur pasir yang keluar dari lubang sulfatar Sinabung, menimbun sejumlah jenis komoditi pangan, holtikultura  dan perkebunan.

Diuraikannya, dari hasil survei Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemkab Karo, dampak erupsi gunung tiga hari   belakangan yang mengeluarkan material berat (abu dan  pasir yang bercampur air hujan) menjadi sedimen, menyebabkan terjadinya gagal panen terhadap sejumlah komoditi petani. Di antaranya tanaman pangan, seluas 1.636,62 Ha, Holtikultura 7.120,29 Ha dan perkebunan 2.857.48 Ha.

Pantauan wartawan di lapangan, abu vulkanik campur pasir yang terkena air hujan, menjadi sedimen di atas lahan pertanian warga. Tanaman penduduk secara kasat mata seluruhnya berwarna putih keabu-abuan dan sulit dikenali jenisnya.  Bahkan komoditi holtikultura yang baru ditanam, rata dengan tanah dan tertimbun   di kedalaman variatif, antara  3 Cm  sampai 10 Cm.

Para pengungsi yang ditemui wartawan di camp penampungan mengaku sangat sedih mendengar   peristiwa yang melanda desa mereka. Apalagi tumpuan harapan akan perolehan materi dari tanaman yang ada diladang  kini menjadi pupus.

Beberapa diantaranya tidak lagi mampu memberi komentar, hanya terduduk lesu  sambil mengeluarkan air mata.

“Apalagi yang  bisa kami  harap akan saat ini. Hampir seluruh impian kami  sirna. Bagaimana nantinya kami ini jika erupsi usai. Tidak terpikirkan lagi, bisa-bisa  menjadi depresi, apalagi  kepastian kapan pulang belum ada mengingat aktivitas gunung masih tetap tinggi. 

Hanya bisa berserah kepada Yang Kuasa,” ujar Meninta  Br Sembiring warga asal Desa  Sigarang-garang sambil mengusap air matanya.

Beberapa di antara pengungsi yang ditemui di lapangan saat mengevakuasi barang yang tersisa dari rumah mereka, sudah mengalami keputusasaan. “Dari pada begini terus, sebaiknya kami direlokasi saja.

Sudah  letih begini terus, sejak September tahun 2013 lalu. Jantung  kami tidak lagi normal, anak-anak juga mengalami  trauma  berat,” papar Ginting warga Desa Simacem.

Menurutnya, hal yang terbaik saat ini adalah proses relokasi perkampungan zona merah sesuai rekomendasi pihak PVMBG. Karena bagaimanapun kedepannya, kawasan itu tetap akan mengalami masalah yang sama, seperti pada 2010 lalu, 2013, 2014, dan tahun-tahun mendatang.  Oleh karenanya pemerintah  diharapkan segera  bertindak bijaksana.

“Jika sudah dipindahkan, tentunya kami tidak akan lagi sesengsara ini. Tetapi mengapa  diperlambat, itu yang  mulai menjadi pertanyaan. Kami dengar pemerintah pusat sudah menyiapkan dana relokasi, tetapi mengapa tersendat di Pemerintahan Kabupaten Karo dalam hal lokasi. Jangan sempat  warga pengungsi bertindak,  bisa berakibat fatal. Jadi sebelum terjadi, pikirkanlah,” tegas Ginting.

Terkait rencana relokasi,  Komandan Satgas Tanggap Darurat Penanggulangan Bencana Erupsi   Sinabung, Sabrina Br Tarigan kepada wartawan mengatakan belum dapat memberi rincian pasti. “Masih dalam pembahasan. Kita akan melakukan  yang terbaik bagi warga pengungsi, khususnya yang berasal dari kawasan zona merah,” ujarnya.

Disinggung rencana lokasi relokasi oleh Pemkab Karo terhadap sejumlah desa yang rawan bencana, khususnya   ancaman bahaya aliran lava pijar dan awan panas, Dan Satgas,  juga belum dapat memastikan tempat perpindahan.

Sesuai keterangannya, saat ini masih dalam  kajian Bapedda Pemkab Karo.
Sehubungan lahan, rumah warga, dan fasilitas pemerintah yang rusak di radius 3-4 kilometer akibat badai abu vulkanik tiga hari belakangan di  pekan lalu, Sabrina Br Tarigan menyatakan akan membuat solusi.

“Akan kita perhatikan nantinya. Sekarang belum dapat kita paparkan secara rinci, mengingat kawasan itu merupakan zona terlarang. Kalau diperbaiki juga tentunya mengancam nyawa para pekerja (tukang),” paparnya.

Back Up Pemkab Karo
Pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kemenkokesra) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan membantu Pemkab Karo untuk menangani bencana erupsi Gunung Sinabung.

“Bantuan dari pusat akan datang dan sekarang masih di perjalanan,” ujar Komandan Tanggap Darurat Gunung Sinabung, dr Saberina Br Tarigan, di poskonya, Minggu (12/1).

Wanita yang juga Plt Asisten II Pemkab Karo ini menyebutkan, hasil pertemuannya dengan Kemenkokesra dan BNPB di Jakarta bahwa Pemkab Karo tidak sendiri. Pemerintah pusat akan mem-back up penanganan erupsi Gunung Sinabung.

“Mereka berpesan agar memberikan hal-hal yang terbaik ke masyarakat. Anak-anak harus sekolah. Pengungsi tidak boleh tidak makan dan harus memiliki tempat tinggal. Semua harus di-handle,” katanya.

Sebelumnya, logistik makanan di posko utama yang digunakan untuk menampung bantuan sebelum disalurkan ke posko pengungsian mengalami krisis. Dalam beberapa hari terakhir, posko yang ditangani Pemkab Karo ini tidak melakukan aktivitas masak memasak untuk kebutuhan para relawan dan sejumlah petugas yang berada di posko.

Namun, Saberina membantah jika itu disebabkan oleh krisis logistik makanan di posko tersebut. Menurutnya, dapur umum yang dalam beberapa hari terakhir tidak beraktivitas karena petugasnya yang enggan untuk memasak.

“Itu hanya karena orang ini yang malas masak. Waktu ditelpon ada masalah di sini, saya langsung bilang beli saja,” katanya.

Saberina menambahkan, badan jalan penghubung yang sempat menutup akses menuju Sinabung juga sudah dibersihkan. Dia juga membantah adanya rumah permanen milik warga yang rubuh lantaran terkena erupsi gunung.

“Rumah yang rubuh itu rumah di ladang, beratap tepas. Nanti kita akan perbaiki itu. Tapi, yang runtuh bukan rumah yang ditinggali warga,” pungkasnya. (B1/d)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments