Minggu, 17 Nov 2019

Asosiasi Pelaku Kopi Karo Gelar Ngopi Kampung di Festival Bunga dan Buah

admin Jumat, 12 Juli 2019 15:36 WIB
SIB/dok
NGOPI KAMPUNG : Asosiasi Pelaku Kopi Karo gelar ngopi bernuansa kampung di Festival Bunga dan Buah, Jumat (5/7)
Tanah Karo (SIB) -Ngopi keren bernuansa kampung merupakan tema yang disajikan Asosiasi Pelaku Kopi Karo (APK2) pada Festival Bunga dan Buah, Jumat-Minggu (5-7/7) di Taman Mejuah-juah Berastagi. Selain menyediakan minuman kopi, AP2K juga menyajikan edukasi pertanaman dan ruang pembinaan).

"Asosiasi terpanggil untuk ikut serta dalam penyelenggaraan even ini. Selain sebagai peserta, kami juga merasa perlu mengadakan edukasi lapangan walau dalam skala kecil. Baik itu mulai dari proses pembibitan, budi daya serta perawatan dan pasca panen sampai kopi siap disajikan," ujar Ketua APK2, Antoni Bangun kepada wartawan, Minggu (7/7).

Menurutnya, keikutsertaan asosiasi dalam even Festival Bunga dan Buah kali ini, sengaja menyajikan nuansa ngopi pedesaan. Lokasi yang dipilih di sekitar pepohonan, dengan tempat minum kopi bertiang bambu, beratap rumbia menambah keren suasana.

Nuansa khas yang dibangun, ditargetkan menarik minat pengunjung untuk mampir. "Ketika pengunjung melintas, tentunya mereka melihat nuansa yang berbeda dengan tempat lainnya di even ini. Petani, pecinta kopi dan masyarakat, kita harapkan singgah. Dari kehadiran pengunjung di tempat kita. Kami dapat menunjukkan sampel berbagai varietas bibit hingga proses. Termasuk cara bertani dan berternak sebagai sarana penunjang pertanaman kopi. Ini yang mau sampaikan kepada masyarakat luas," ujarnya.

Lanjut Antoni Bangun, dalam even ini pihaknya berupaya mengenalkan proses budidaya kopi untuk peningkatan kesejahteraan petani Tanah Karo. Dimana selama ini masih kurang maksimal, agar ke depannya ditingkatkan. Sehingga melalui perlakuan yang tepat dan standart, nilai jual kopi Karo semakin meningkat dan menambah pendapatan perkapita petani dan pelaku. "Memang ini bukan hal yang mudah. Butuh waktu untuk pembenahan dari hulu hingga hilir. Bukan menuduh, tetapi mungkin selama ini ada peran mafia kopi di balik harga dan minimnya edukasi terhadap petani. Secara perlahan coba kita luruskan. Apabila kita sudah mampu menghasilkan produk standart, mengapa proses transaksi Kopi Karo, tidak dilakukan di pusat produksinya. Ini salah satu target yang akan kita kejar," beber Antoni.

Sehubungan dengan peran asosiasi tersebut dalam Festival Bunga dan Buah, Kepala Dinas Pertanian Karo, Sarjana Purba, kepada wartawan mengatakan pihaknya tetap mengapresiasi pihak yang memiliki kepedulian terhadap petani Karo, khususnya yang bergerak di pertanaman kopi. Sarjana juga mengakui masih dibutuhkannya beberapa perbaikan, mulai dari bibit, pertanaman, budi daya, dan proses pasca panen.

"Keberadaan APK2, di even ini membantu dari segi edukasi. Beberapa ekor kambing yang dihadirkan, tentunya membuka mata petani kita untuk menjadi petani dan peternak. Sebenarnya boleh hewan apa saja, tetapi dalam proses pertanaman kopi. Persandingan antara kopi, lamtoro dan kambing sudah cukup tepat guna dan sasaran. Kopi sebagai tanaman utama, lamtoro pelindung dan pakan ternak yang mengandung protein tinggi. Kotoran kambing sebagai kompos," beber Sarjana. (BR2/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments