Senin, 18 Nov 2019

Aksi Rompak Marak di Perairan Langkat-Aceh, Nelayan Tradisional Terancam

Rabu, 12 Februari 2014 15:29 WIB
SIB/Int
Ilustrasi
Pangkalansusu (SIB)- Seorang aktivis nelayan Langkat Syaiful mendesak Pemkab Langkat agar segera melakukan kordinasi dengan Pemkab Aceh Tamiang dan Aceh Timur demi keamanan para nelayan tradisional asal Pangkalansusu saat mencari nafkah di perairan perbatasan Langkat-Aceh.

Desakan ini disampaikan, Saiful mengingat belakangan ini, kawanan bersenjata api acap melancarkan aksi perompakan terhadap nelayan tradisional Pangkalansusu, Langkat, di perairan Aceh Tamiang, seperti terjadi Senin (10/2) subuh.

Menurut Saiful, aktivis DPC HNSI Langkat, jika Pemkab Langkat tidak segera melakukan pendekatan dengan Pemkab Aceh Tamiang dan Pemkab Aceh Timur, Langsa, termasuk dengan instansi aparat penegak hukum lainnya,  maka dikuatirkan penderitaan nelayan tradisional akan semakin bertambah.

Periode Januari–Februari 2014, komplotan OTK telah tiga kali melakukan perompakan terhadap nelayan tradisional asal Pangkalansusu.

Untuk menghentikan aksi para bajak laut itu, diminta aparat keamanan Pemkab Langkat bekerjasama dengan aparat dari Aceh harus segera melakukan tindakan tegas terhadap kawanan OTK bersenjata tersebut.

Keterangan diperoleh SIB menyebutkan, para  pelaku merampas ikan kerapu hasil tangkapan nelayan selama beberapa hari melaut diperkirakan mencapai 110 kg, satelit, komputer dan radio komunikasi milik nelayan. Kerugian akibat peristiwa ini diperkirakan mencapai Rp25 juta.

Keterangan yang diperoleh SIB, Selasa (11/2) dari warga di perkampungan nelayan Lingkungan XI, Kelurahan Berasbasah, Kecamatan Pangkalansusu, Ishak, Tekong Boat, Syamsul Bakhri bersama dua anggotanya (kru), Paino dan Kinaoi, hanya dapat pasrah menghadapi keganasan OTK.

Ishak mengatakan, kehidupan nelayan tradisonal saat ini sangat terancam. Melaut di pinggiran selalu menjadi sasaran perompak, sementara melaut ke tengah harus berhadapan dengan aparat Malaysia, seperti yang dialami, Misnan, beberapa pekan lalu.

“Kami mohon perhatian pemerintah terkait masalah ini,” ujarnya. Aksi perompakan yang dilakukan komplotan OTK bersenjata terhadap nelayan tradisonal asal Pangkalansusu sudah berulang kali terjadi, namun sampai sejauh ini belum ada terlihat upaya maksimal dari aparat Pol Air dan Kamla menjaga keamanan di wilayah teritorial laut.

Menurut catatan SIB, dalam tahun 2014 ini tercatat sudah tiga kali terjadi aksi perompakan. Sebelumnya, tekong KM Bahagia Suheri Tanjung, dirompak di perairan Langsa dan menyusul aksi serupa terhadap, Akhyar dan yang terakhir dialami Syamsul Bakhri. (B3/x)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments