Rabu, 18 Sep 2019

Meski Hujan Turun Sesekali di Kawasan Labusel

Air Sungai Barumun di Kotapinang Surut 10 Meter

admin Rabu, 11 September 2019 12:46 WIB
SIB/Barita Manullang
SURUT: Air Sungai Barumun dan Sungai Kanan surut 10 meter akibat musim kemarau yang berkepanjangan di kawasan Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), foto dipetik, Selasa (10/9).
Kotapinang (SIB) -Meski hujan sudah mulai turun sesekali membasahi wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) namun volume air Sungai Barumun tidak kunjung naik dan bahkan terlihat semakin surut.

Pantaan SIB, Selasa (10/9) di Kotapinang, permukaan air Sungai Barumun masih seperti biasanya yakni surut sekitar 10 meter dari garis sungai. Bahkan, untuk kebutuhan mandi dan mencuci, warga harus rela turun ke dalam alur sungai.

"Semakin surut airnya, untuk kebutuhan mandi dan mencucipun harus turun ke dalam alur sungai," kata Haholongan Pane, warga Jalan Labuhan Baru Kotapinang, kepada SIB.

Hal sama terlihat pada volume air Sungai Kanan di Langga Payung. Para awak perahu kapal boat pengangkut pasir harus berjibaku memindahkan pasir muatannya dari badan perahu kapal boat yang berada jauh di bawah dermaga bongkar muat Sungai Kanan.

Keterangan diperoleh SIB dari warga Langga Payung menyebutkan, surutnya air Sungai Kanan dan Sungai Barumun ini sudah berlangsung sejak akhir Juni 2019. Setiap harinya, air Sungai Kanan dan Sungai Barumun merupakan kebanggaan dan menjadi andalan masyarakat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) kini sudah semakin surut dan diperkirakan air surut sekitar 10 meter.

Surutnya air Sungai Barumun dan Sungai Kanan ini diprediksi karena musim kemarau berkepanjangan dan tingginya aktivitas eksploitasi air oleh perusahaan pabrik kelapa sawit yang setiap harinya menggunakan air Sungai Kanan dan Sungai Barumun untuk kebutuhan pengolahaan kelapa sawit.

Akibat kondisi musim kemarau yang berkepanjangan ini, para petani di Kecamatan Sungai Kanan dan Kotapinang banyak yang mengalami gagal panen karena tanaman padi, jagung, kacang dan sayur-sayuran lainnya gagal tumbuh hingga mati karena kekeringan.

Belum lama ini, masyarakat Kotapinang mengeluhkan kurangnya perhatian Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan dalam menyediakan sarana air bersih. Akibatnya, beberapa warga dari kalangan ekonomi lemah terpaksa mencari air untuk kebutuhan sehari-harinya ke selokan-selokan. Sejumlah warga mengaku, selain sulitnya mendapatkan air bersih untuk mandi dan mencuci juga memenuhi kebutuhan tanaman-tanaman di ladang maupun dipekarangan rumah sudah banyak yang meti mengering akibat panas musim kemarau.

"Panas musim kemarau mengkahwatirkan, banyak tanaman-tanaman petani mati mengering," katanya.

Mahdin, warga Kotapinang mengakui musim kemarau yang berkepanjangan ini membuat beberapa warga yang giat berkebun menanam cabai dan sayur sayuran mengalami gagal panen.

"Sudah layu mengering semuanya, warga pun sudah tidak bisa mendapat hasil dari usaha berkebunnya untuk di jual ke pasar", katanya. (L05/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments