Kamis, 24 Sep 2020

Warga Rawang Asahan Berharap Presiden Terpilih Lebih Perhatikan Nasib Petani

Senin, 30 Juni 2014 14:51 WIB
Rawang Panca Arga (SIB)- Siapapun Capres/Cawapres terpilih nanti, hendaknya lebih memperhatikan nasib petani yang hidupnya kebanyakan di bawah garis kemiskinan.

Harapan ini diungkapkan H Panjaitan, S Sinaga, L Sinurat, dan Gultom warga Kecamatan Rawang Panca Arga Kabupaten Asahan yang berprofesi sehari-hari sebagai petani dalam perbincangan dengan SIB, Sabtu (28/6) sekira pukul 14.00 WIB.

Menurut mereka, menjelang pemilihan baik itu legislatif, kepala daerah bahkan presiden, para petani dari dulu hanya menjadi jualan para elit politik. Begitu terpilih atau tercapai tujuan mereka nasib para petani pun sama seperti sebelumnya terabaikan.

“Dari dulu memang petani hanya menjadi komoditas politik,” ujar mereka.

Seperti penuturan Sinaga, dia mengherankan pemerintah sepertinya tidak berdaya ataupun bisa diartikan tidak mau tau menghadapi masalah klasik yang dihadapi petani seperti pupuk menjadi langka, bahkan menghilang di sejumlah daerah saat memasuki masa tanam. Kemudian harga benih terlalu tinggi, sehingga petani terpaksa menggunakan benih tak bersertifikat atau penyisihan dari panen sebelumnya.

“Begitu juga saat tanaman dalam masa pertumbuhan dan pembuahan, lagi-lagi muncul gangguan mulai dari air yang tiba-tiba kurang, obat-obatan mahal. Demikian pula memasuki masa panen, lagi-lagi sejumlah persoalan menghadang, mulai dari harga jatuh karena kelebihan pasok sampai serapan pasar rendah,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Sinaga, mereka sebagai warga yang menggantungkan hidup dari menanam padi mengharapkan calon Presiden Indonesia siapapun terpilih pada tanggal 9 Juli 2014 nanti mempunyai komitmen memperhatikan nasib petani hingga tidak ada lagi petani hidup di bawah garis kemiskinan.

“Kita berharap pemerintahan baru agar memperhatikan dan  membantu petani dengan memberikan kemudahan pelayanan pupuk subsidi serta obat-obatan secara gratis agar nasib petani  yang sudah diujung tanduk ini tak terpaksa menjual lahannya hanya karena tak lagi bisa mengelola lahan akibat tingginya biaya operasional ketimbang hasil yang diperoleh dengan penjualan gabah kering tersebut,” harap mereka.(MS/BR4/d)
T#gs warga
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments