Kamis, 24 Sep 2020

Mewujudkan Danau Toba Jadi Taman Dunia

Masyarakat Kawasan Danau Toba Perlu Dibuat Mengerti

* Pemda Sekitar Danau Toba “Melempem” ?
Selasa, 01 Juli 2014 13:32 WIB
SIB/Horas Pasaribu
GEOPARK DANAU TOBA: Peserta Diskusi Terfokus "Danau Toba Apa Kabarmu" foto bersama usai diksusi, Kamis (26/6) di Kantor Harian Umum KOMPAS Perwakilan Medan.
Medan (SIB)- Tim Percepatan Proses Pengajuan dan Penetapan Danau Toba untuk menjadi objek taman bumi kelas dunia (Geopark Toba) akan menempuh proses ‘gerak cepat’ untuk mencapai tahap final sebagai nominasi Geopark Dunia, pada akhir 2014 atau paling lambat di awal tahun 2015.

Direktur Jenderal Pemasaran dan Promosi Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) RI, Akhyaruddin SE dan Asisten II Ekbang Pemprovsu Dra Sabrina selaku Ketua Tim Percepatan Proses Geopark Toba menyatakan, pihaknya telah siap dengan agenda dan materi proses lanjut Geopark Toba untuk ditelusuri tim peninjau dari UNESCO nantinya.

“Ada beberapa langkah yang kita tetapkan sebagai upaya gerak cepat dalam proses Geopark Toba ini, sekaligus sebagai tindak lanjut kordinasi dan komunikasi proses dengan pihak Pemprovsu yang ditangani bu Sabrina (ketua tim percepatan) selama ini. Misalnya dalam pekan ini kita akan siapkan semua plank merek (sign board) Geopark Toba di setiap gerbang kabupaten se kawasan Danau Toba, persiapan bahan final untuk kunjungan tim peninjau dari UNESCO-GGN pada awal Agustus, hingga agenda lanjut pada September nanti, apakah Danau Toba bisa jadi geopark internasional pada akhir 2014 ini atau di awal-awal 2015 nanti,” papar Akhyaruddin di Medan, Kamis (26/6).

Dia mengutarakan itu dalam acara diskusi khusus dialog terfokus mengenai Geopark Toba di aula kantor harian Kompas perwakilan Sumut di Medan.

Hadir di acara yang berlangsung seru itu, Kepala Badan Geologi Indonesia Kementerian ESDM Indiyo Pratomo, Dr Hinca Panjaitan (moderator), mantan Kepala Badan Pengelolaan Ekosistem DanauToba (BP-EKDT) Dr Edward Simanjuntak, mantan Bupati Dairi Drs SI Sihotang yang juga mantan Kepala Dinas Pariwisata Sumut, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumut Ir Gagarin Sembiring, Kepala Dinas Pariwisata Samosir Dra Theodora Sihotang, Kepala LPPM USU dr Linda Trimurti Maas, Kepala LPPM Universitas Quality Ir Hasudungan Butar-butar, mantan Kadis Pariwisata Sumut Ir Nurlisa Ginting, termasuk pejabat dari Dinas Pariwisata Sumut.

Dari kalangan masyarakat, tampak hadir Rohani Manalu dari LSM KSPPM Samosir, Mangaliat Simarmata SH dari Earth Society, Ronald Naibaho SH dari Center of Regional Development Analyst (CreDA), Marandus Sirait dari LSM Taman Eden Tobasa, dan sejumlah aktivis LSM lain yang aktif di bidang lingkungan hidup, budaya, wisata.

Sesi tanya jawab dalam acara diskusi itu berlangsung hangat dan seru, karena mayoritas peserta atau undangan selaku elemen masyarakat menyatakan masih belum tahu soal apa dan untuk apa geopark tersebut. Sehingga, mereka yang juga terdiri dari kalangan akademisi seperti dokter Linda Trimurti dan Ir Alimin Ginting (geolog dari Jakarta) merasa bersyukur adanya acara dialog yang digagasi RE Foundation tersebut.

Soalnya, sebagaimana dicetuskan Rohani Manalu dari LSM KSPPM Samosir, pihaknya sempat pesimis akan realisasi proses Danau Toba menjadi geopark tersebut. Selain karena prosesnya sempat terkesan lamban karena sudah diproses dan sudah sempat ditinjau wakil dari GGN-UNESCO pada 2012 lalu, juga karena maraknya aksi perusakan hutan lingkungan di Samosir sehingga sempat menjadi  sorotan dunia internasional. Selain itu juga terungkap bahwa belum adanya alokasi yang ditampung dalam APBD oleh 7 pemerintah kabupaten di kawasan Danau Toba untuk keperluan mendukung proses pengusulan ini ke UNESCO. Sementara seperti diketahui, pada Maret lalu Presiden SBY telah menetapkan Danau Toba sebagai Taman Bumi Nasional (dalam rangka memasukkan Danau Toba dalam usulan ke UNESCO sebagai Taman Bumi Dunia).

Soalnya, ujar dia, misi pengajuan dan penetapan Danau Toba sebagai geopark kelas dunia  adalah pelestarian trilogi warisan bumi yaitu pelestarian objek geodiversity, pelestarian objek konservasi yang meliputi lingkungan hidup, dan pengembangan ekonomi rakyat yang meliputi usaha pariwisata, kebudayaan lokal dan lainnya. Sehingga dengan terpilihnya Danau Toba jadi jaringan Taman Bumi Dunia oleh UNESCO, maka kawasan yang menjadi warisan keajaiban alam Kepada masyarakat Tapanuli/Sumut akan terlindungi dari pengrusakan.

Atas kondisi ini, DR RE Nainggolan selaku elemen dan tokoh masyarakat Sumut, menilai aspek-aspek normatif untuk memenuhi syarat dan kriteria untuk mencapai status geopark dunia itu harus diprioritaskan, sehingga hal-hal yang merusak lingkungan atau hutan sekitar kawasan Danau Toba harus dihentikan dan dicegah.
PERSYARATAN BELUM DISIAPKAN

Diskusi tentang Geopark Toba masih akan berlanjut. Topik bahasannya akan difokuskan pada bedah dossier (proposal yang hingga sekarang belum dimulai penyusunannya), dan menghimpun konsep atau aspirasi dan peran setiap daerah se-kawasan Danau Toba. Sementara, peserta diskusi mengemukakan, selama ini pemda se kawasan Danau Toba   pada umumnya belum maksimal mensosialisasikan kepada masyarakatnya atas manfaat dan pentingnya Danau Toba masuk dalam jaringan taman dunia UNESCO. Keanggotaan Taman Dunia di UNESCO berlaku selama 4 tahun dan dilakukan validasi ulang.

Pada dialog lanjutan yang dijadwalkan pada tanggal 27 Juli mendatang di Aula Kantor Harian SIB di Medan akan mengundang semua kepala daerah atau pejabat yang mewakili (namun harus berkompeten dan menguasai permasalahan), ujar RE Nainggolan kepada pers seusai diskusi, yang dilanjut dengan diskusi khusus dengan panitia dan pejabat tertentu. (R1/A5/d)
T#gs masyarakat
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments