Minggu, 21 Apr 2019

Vietnam Calon Lokasi Pertemuan Kedua Trump-Kim

admin Selasa, 08 Januari 2019 16:49 WIB
Washington (SIB) -Rencana pertemuan lanjutan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un tahun ini masih terus dibicarakan. Kabarnya pejabat Kementerian Luar Negeri AS beberapa kali bertemu dengan perwakilan Korea Utara di Ibu Kota Hanoi, Vietnam, untuk membahas soal itu.

Dalam pertemuan itu dilaporkan kedua pihak membahas perencanaan dan jadwal pertemuan kedua antara Trump dan Kim seperti yang diberitakan surat kabar Korea Selatan, yang dikutip AFP pada Senin (7/1). Menurut sumber-sumber diplomatik, ibu kota Vietnam itu sepertinya akan menjadi tuan rumah pelaksanaan pertemuan penting tersebut.

Hal ini diduga bukan hanya karena perencanaan pertemuan antara kedua pihak dilakukan di Hanoi. Namun, juga berkaca pada hubungan diplomatik antara Vietnam dengan AS dan Korut. Menanggapi hal tersebut, juru bicara Kedutaan Besar AS di Seoul, Korea Selatan enggan memberi komentar.

Pada pekan lalu, Trump mengatakan sedang berunding untuk menentukan waktu dan lokasi pertemuan lanjutan dengan Kim. Meskipun belum menjelaskan kepastian soal pertemuan itu, Trump sempat menyinggung peluang kembali berjumpa dengan Kim seperti pada Juni 2018 lalu. "Kami masih merundingkan lokasi pertemuan," kata Trump kepada wartawan sebelum menaiki helikopter di Camp David, Maryland.

Ketika ditanyakan lebih lanjut mengenai rincian pertemuan, Trump mengatakan kemungkinan akan mengumumkannya dalam waktu dekat. "Mereka ingin bertemu dan kami ingin bertemu, kita lihat saja apa yang terjadi. Kami memiliki komunikasi yang baik dengan Korut. Secara tidak langsung saya berkomunikasi dengan Kim," kata Trump.

Surat terbaru dari Kim diterima Trump setelah pemimpin Korut itu mengancam akan membatalkan denuklirisasi jika Washington tak turut melonggarkan sanksi yang diberikan, pada pidatonya menyambut pergantian tahun. Menanggapi pernyataan tersebut, Trump berkeras akan tetap mempertahankan sanksi terhadap Korut sampai AS melihat reaksi dan hasil yang positif.

Pada pertemuan pertama antara kedua kepala negara tersebut, Trump dan Kim sepakat untuk memajukan denuklirisasi semenanjung Korea. Atas pertemuan itu, Trump mengklaim tanpa dirinya terpilih sebagai presiden, Asia bisa diselimuti peperangan. "Anda bisa berada di tengah perang besar di Asia dengan Korut jika saya tidak terpilih sebagai presiden," katanya.

Hingga 2017, Korut telah melakukan enam ledakan atom dan meluncurkan roket yang mampu menghabiskan seluruh daratan AS. Namun dalam setahun belakangan ini, Korut belum menguji senjata nuklir mereka. Namun sampai saat ini, persetujuan di antara keduanya masih terhambat. Belum ada kelanjutan yang pasti mengenai kesepakatan antara kedua negara terhadap denuklirisasi.

Dalam pidato perayaan Tahun Baru yang dipantau oleh publik global, Kim mengatakan dia masih berkomitmen untuk denuklirisasi, tetapi memperingatkan bahwa jika AS tidak mencabut sanksi, maka dia akan mempertimbangkan mengambil jalan berbeda.

Korea Utara dilaporkan murka pada bulan lalu, ketika AS menjatuhkan sanksi baru pada tiga pejabat seniornya, setelah sebuah laporan mengungkapkan serangkaian pelanggaran hak asasi manusia. Pyongyang menyatakan "kaget dan marah" pada langkah-langkah baru AS, mengatakan bahwa kebijakan Washington adalah "tekanan maksimum" yang berisiko menjadi "kesalahan perhitungan terbesar". Korea Utara juga dikenai berbagai rangkaian sanksi Dewan Keamanan PBB terkait dengan program senjata nuklir dan balistik yang dilarang. (CNNI/l)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments