Kamis, 21 Nov 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Trump Tidak Datang di KTT ASEAN, Pemimpin Asia Tenggara Tolak Bertemu Pejabat AS

Trump Tidak Datang di KTT ASEAN, Pemimpin Asia Tenggara Tolak Bertemu Pejabat AS

redaksi Selasa, 05 November 2019 14:58 WIB
internasional.kompas.com
Trump Tidak Datang di KTT ASEAN
Bangkok (SIB)
Sejumlah pemimpin Asia Tenggara dilaporkan menolak bertemu pejabat AS setelah Presiden Donald Trump tidak datang di KTT ASEAN di Bangkok, Thailand. Hanya tiga dari 10 pemimpin yang datang dalam pertemuan bilateral dengan AS, ditambah dengan sejumlah menteri luar negeri Asia Tenggara. Trump dituduh meninggalkan sekutu Asia dengan keluar dari pakta dagang.

Di tengah upaya China memaksimalkan investasi dan kepentingannya di kawasan. Washington sama sekali tidak mengirim pejabat tinggi dalam KTT ASEAN. Hanya menempatkan Menteri Perdagangan Wilbur Ross dan Penasihat Keamanan Nasional Robert O'Brien.

Agenda Senin (4/11) yang dihadiri O'Brien sangat berbeda dibandingkan pertemuan sebelumnya, di mana dihadiri banyak kepala negara. "Tidak layak bagi ASEAN mengirim pemimpin sementara di sisi lain, level perwakilan AS tak setara," ujar seorang diplomat kepada AFP.

Sementara diplomat anonim lain mengatakan, para pemimpin Asia Tenggara tidak sedang melakukan boikot. Melainkan ada agenda lain yang harus dihadiri. Dalam pertemuan Senin, O'Brien membacakan surat dari Trump, di mana sang presiden mengundang ASEAN untuk datang ke AS pada awal 2020. Presiden 73 tahun itu diberitakan dua kali tidak datang ke KTT ASEAN. "Saya ingin mengundang para pemimpin Asia Tenggara bergabung bersama di AS untuk pertemuan khusus pada awal 2020," ujar O'Brien di KTT ASEAN. Surat dari presiden 73 tahun itu memaparkan, AS akan memberikan "kesempatan besar" untuk meningkatkan "kerja sama yang penting ini".

Selain tahun ini, pada 2018 dia hanya mengutus Wakil Presiden Mike Pence ke Manila. Seorang sumber di dalam Gedung Putih menerangkan, Trump dan Pence absen karena mereka sedang disibukkan dengan agenda kampanye dalam negeri.

Ketika menjabat pada 2017, salah satu kebijakan pertama Trump adalah memutuskan keluar dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), yang diklaim jadi pakta terbesar dunia. Analis dari Capital Economics Alex Holmes mengatakan, penarikan AS itu merupakan aksi simbolis yang kuat dan dengan tren tindakan itu berlanjut. "Keputusan itu membuat China bisa menancapkan pengaruhnya di kawasan," ujar Holmes. TPP pun terlahir kembali sebagai perjanjian tanpa AS.

Satu kesepakatan baru yang didukung China dan disebut bakal menjadi perjanjian perdagangan terbesar dunia, sedang dipersiapkan. Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang bakal disepakati tahun depan berisi 16 negara, 30 persen GDP dunia, dan setengah rakyat Bumi ini.

Perjanjian itu bakal mencakup 10 negara Asia Tenggara ditambah China, India, Jepang, Australia, Selandia Baru, maupun Korea Selatan. Rancangan itu meraih momentum di tengah perang dagang AS dan China, di mana IMF sempat memperingatkan pertumbuhan ekonomi bakal menurun di titik terendah dalam 10 tahun terakhir akibat perang tarif dua negara.

Berdasarkan draft yang ada, pengusul RCEP sedang menyelesaikan detil terakhir sebelum kesepakatan itu diterapkan Februari 2020. Pembicaraan berdurasi 11 jam itu diadakan ketika ASEAN dan sekutunya mendukung adanya perdagangan bebas di kawasan tersebut.

Dalam pernyataannya, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in berujar sekali lagi, dunia tengah menghadapi angin proteksionisme perdagangan. "Kami harus melindungi kesepakatan perdagangan bebas. Dan membawa kembali ekonomi dunia kembali ke jalur yang benar," ujar Moon.

Donald Trump mengecam negara Asia karena dianggap memperoleh surplus perdagangan dari Negeri "Uncle Sam". Karena itu, dia sempat berjanji akan mengejar kesepakatan bilateral alih-alih menerapkan pakta perdagangan yang lebih luas. Dia menandatangani kesepakatan dagang bebas dengan Jepang awal tahun ini dan menegosiasikan ulang perjanjian dengan Korea Selatan. (Channel News Asia/kps/
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments