Minggu, 16 Jun 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Trump Perintahkan Jajarannya Hindari Konfrontasi Militer dengan Iran

Trump Perintahkan Jajarannya Hindari Konfrontasi Militer dengan Iran

admin Minggu, 19 Mei 2019 12:15 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Washington (SIB) -Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan jajaran pemerintahannya untuk menghindari konfrontasi militer dengan Iran. Media New York Times melaporkan bahwa Trump, dalam rapat di Gedung Putih pada Rabu (15/5) pagi waktu setempat, menyampaikan pesan kepada para bawahannya bahwa dia tidak ingin kampanye tekanan AS terhadap Iran meledak menjadi konflik terbuka. "Trump tegas dalam menyatakan dirinya tidak menginginkan bentrokan militer dengan Iran," demikian dilaporkan New York Times yang mengutip lima pejabat senior AS.

Hal senada diberitakan kantor berita Reuters, Sabtu (18/5) yang menyebutkan bahwa Trump telah menyampaikan kepada tim keamanan nasionalnya dan para pejabat lain untuk menghindari konflik bersenjata dengan Iran. "Dia (Trump) tidak ingin berperang," ujar seorang pejabat yang tak ingin disebut namanya.

Media Reuters melaporkan bahwa Trump secara khusus menyampaikan keprihatinan mengenai sejumlah penasihatnya, seperti John Bolton, yang mendesak untuk perang dengan Iran. Belum lama ini, Bolton mengumumkan bahwa AS mengirimkan sebuah kapal induk dan pesawat-pesawat pengebom ke Timur Tengah untuk melawan "ancaman" dari Iran.

Bahkan beberapa pejabat dari tim Trump dilaporkan telah bertindak lebih jauh, dengan menyusun kemungkinan serangan militer yang bisa melibatkan pengiriman sekitar 120 ribu tentara AS ke wilayah Timur Tengah.

Pemerintahan Trump belakangan ini meningkatkan ketegangan dengan Iran yang telah menjadi musuh lama AS dan sekutu-sekutu penting AS, yakni Israel dan Arab Saudi. Ketegangan meningkat setelah Trump secara sepihak memutuskan menarik diri dari perjanjian nuklir Iran yang dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada tahun 2018. Juga setelah Amerika menerapkan sanksi-sanksi baru terhadap Iran dan secara praktis memaksa negara-negara lain turut mengembargo Iran.

Namun di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan bahwa tak akan ada perang dengan negara tersebut. Khamenei mengatakan bahwa ketegangan antara negara republik Islam itu dengan AS lebih sebagai ujian tekad, bukannya pertarungan militer.

"Pertarungan ini bukan militer karena tidak akan ada perang. Baik kita maupun mereka (AS) tidak mencari perang. Mereka tahu itu bukan untuk kepentingan mereka," ujar Khamenei. "Keputusan pasti bangsa Iran adalah untuk melawan Amerika," kata Khamenei, seraya menambahkan bahwa "dalam pertarungan ini Amerika akan dipaksa mundur ... karena tekad kita lebih kuat."

Namun laporan pejabat intelijen menyebutkan memiliki foto rahasia kapal rudal Iran berlayar di Teluk Persia untuk menunjukkan kekuatan terhadap gugus tempur AS di sana. Laporan ini pertama kali diterbitkan oleh New York Times. Sementara Washington Post melaporkan Presiden Donald Trump diduga frustasi atas pendekatan yang dilakukan oleh penasihat keamanannya terhadap Iran.

Intelijen AS menunjukkan kapal Iran dengan rudal balistik jarak pendek beredar di Teluk Persia. Laporan intelijen ini disebut sebagai salah satu alasan AS mengerahkan gugus tempur kapal induk dan pesawat pengebom B-52 ke wilayah Teluk, menurut beberapa pejabat AS.

Foto rudal Iran adalah informasi intelijen yang membuat Gedung Putih bertindak atas ancaman Iran, menurut laporan New York Times pada Rabu kemarin. Bagaimanapun dua pejabat AS mengatakan kepada New York Times bahwa foto intelijen ini tidak kurang meyakinkan untuk ancaman Iran. Foto ini belum dirilis oleh Departemen Pertahanan.

Foto lain menunjukkan Korps Garda Revolusi Iran, yang dimasukkan Trump ke dalam daftar teroris, sedang mengangkut rudal ke kapal dan sejumlah pelabuhan Iran, menurut dua pejabat yang mengetahui laporan intelijen ini. Laporan intelijen ini memicu perdebatan di antara Gedung Putih, Pentagon, CIA dan sekutus AS lainnya terkait adanya ancaman Iran. (Detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments