Selasa, 29 Sep 2020
  • Home
  • Luar Negeri
  • Trump: Hubungan AS-Saudi Jauh Lebih Penting Ketimbang Khashoggi

Senat AS Minta Trump Pastikan Peran Putra Mahkota MBS

Trump: Hubungan AS-Saudi Jauh Lebih Penting Ketimbang Khashoggi

Kamis, 22 November 2018 12:06 WIB
Washington (SIB) -Senat Amerika Serikat meminta Presiden Donald Trump memastikan apakah putra mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), berperan dalam pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi. Untuk itu, Trump didorong menggelar investigasi kedua yang secara khusus tertuju kepada sang pangeran sehingga bisa "menentukan apakah orang asing bertanggung jawab atas pembunuhan ekstrayudisial, penyiksaan, atau pelanggaran berat lainnya".

Permintaan tersebut diungkapkan Senator Bob Menendez dan Senator Bob Corker selaku pemimpin fraksi Demokrat dan Republik di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS dalam sebuah surat. Berdasarkan Undang-Undang Pertanggungjawaban Hak Asasi Manusia Global Magnitsky, permintaan tersebut harus ditanggapi dalam kurun 120 hari. Sementara itu, Senator Lindsey Graham dari Partai Republik memprediksi adanya sokongan bipartisan di Kongres AS dalam menjatuhkan sanksi terhadap Arab Saudi, "termasuk anggota keluarga kerajaan".

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menegaskan sikapnya terkait pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi. Dalam keterangan resminya, Trump mengatakan mereka mungkin tidak akan bisa mengungkap semua kebenaran terkait pembunuhan tersebut. Dikutip AFP Selasa (20/11), dia mengungkapkan ada kemungkinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ( MBS) mengetahui pembunuhan tersebut. "Bagaimanapun, Amerika bakal mempertahankan hubungan yang teguh dengan Kerajaan Arab Saudi," ujar Trump dalam pernyataannya itu. 

Di pernyataan yang dirilis Kantor Pers Gedung Putih, Trump menitikberatkan hubungan bilateral dua negara jauh lebih penting daripada dugaan keterlibatan MBS. Presiden dari Partai Republik itu menjelaskan baik MBS maupun Raja Salman telah berulang kali membantah mengetahui atau merencanakan pembunuhan itu. Trump punya alasan mengapa dia begitu kukuh mempertahankan relasi dengan Riyadh. Salah satunya adalah kontrak pembelian senjata bernilai 450 miliar dollar AS, atau Rp 6.568 triliun. "Jika kami gegabah memutus kontrak itu, maka pihak yang bakal mengambil keuntungan adalah Rusia serta China," papar Trump dikutip Sky News. 

Selain itu, Saudi selama ini telah menjaga harga minyak dunia tetap stabil. Dia berujar harga minyak bakal meroket jika Washington bertindak ceroboh. Trump menyatakan telah melihat laporan Badan Intelijen Pusat (CIA) di mana The Washington Post melansir, CIA yakin perintah pembunuhan datang dari MBS. "CIA telah melakukan penyelidikan. Namun laporan yang mereka rilis tidak bersifat menentukan," beber presiden 72 tahun tersebut. Trump memahami jika Kongres telah menyuarakan agar Gedung Putih menjatuhkan sanksi kepada MBS, dan mengambil tindakan terhadap kepemimpinan Saudi. "Saya bakal mempertimbangkan segala ide yang disodorkan ke saya. Hanya jika ide itu sejalan dengan keamanan dan keselamatan Amerika," jelasnya. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo sependapat dengan atasannya. Dia menjelaskan hubungan bilateral dua negara jauh lebih penting daripada kasus pembunuhan itu. 

Pompeo berkata, adalah kewajiban Presiden AS untuk menjalankan kebijakan yang mengedepankan keamanan dalam negeri. "Jadi sesuai dengan arahan Presiden, AS bakal terus mempertahankan hubungan dengan Saudi di mana mereka merupakan rekan penting bagi kami," lanjut Pompeo. Khashoggi yang merupakan kolumnis The Post dibunuh pada 2 Oktober di Konsulat saudi di Istanbul, Turki, saat mengurus dokumen pernikahan dengan tunangannya, Hatice Cengiz. 

Walaupun mengakui pembunuhan Jamal Khashoggi "mengerikan", Trump menyatakan "kita mungkin tidak pernah tahu tentang semua fakta" tentang kematiannya. "Amerika Serikat bermaksud untuk tetap menjadi mitra setia Arab Saudi untuk memastikan kepentingan negara kita, Israel dan semua mitra lain di kawasan ini."

Ketika kasus itu mencuat, Riyadh bersikukuh jurnalis berusia 59 tahun itu telah meninggalkan gedung sebelum akhirnya mengakui dia tewas dalam pembunuhan berencana. Dalam pernyataan resmi pekan lalu, Kantor Jaksa Saudi menyatakan Khashoggi ditangkap oleh tim beranggotakan 15 orang, dan dibunuh dengan obat bius dosis tinggi. Jenazahnya kemudian dikatakan dimutilasi dan diserahkan kepada seorang agen yang telah menunggu di luar gedung. 

Saudi menegaskan telah menahan 21 orang yang diduga terlibat. Lima di antaranya bakal dituntut hukuman mati karena dianggap merencanakan serta melaksanakan pembunuhan terhadap Khashoggi. Keterangan itu dibantah kolumnis harian Turki Hurriyet, Abdulkadir Selvi, yang telah mendengarkan bukti rekaman pembunuhan. Dampak dari kasus pembunuhan itu, sejumlah pangeran Dinasti Saudi dilaporkan mulai menginginkan MBS lengser dari jabatan putra mahkota. (SkyNews.com/AFP/Kps/Detikcom/h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments