Senin, 16 Sep 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Theresa May Mundur, Begini Cara Inggris Memilih Perdana Menteri Baru

Theresa May Mundur, Begini Cara Inggris Memilih Perdana Menteri Baru

admin Minggu, 09 Juni 2019 12:06 WIB
AFP
Theresa May (kiri) saat berjabat tangan dengan presiden Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker. Theresa May resmi mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Inggris, Jumat (7/6) waktu London sebagai buntut kegagalannya meloloskan Brexit.
London (SIB) -Setelah berkuasa selama 1.059 hari, Perdana Menteri Inggris Theresa May secara resmi mundur sebagai ketua partai yang berkuasa, Konservatif, Jumat (07/6). Namun ia tetap akan menjabat sebagai perdana menteri sampai penggantinya dipilih dan diperkirakan pada minggu ketiga bulan Juli. May akan tetap memegang posisi penjabat ketua partai sampai proses pemilihan selesai.
Selama menjabat sebagai perdana menteri, Theresa May gagal menyelesaikan tugas paling pentingnya, menyelesaikan Brexit.

Warga Inggris memilih untuk berpisah dari Uni Eropa dengan suara 52% dan suara yang menolak 48% dalam referendum Juni 2016. Dua setengah tahun kemudian, kesepakatan dicapai antara Inggris dan Uni Eropa terkait proses Brexit. Namun anggota Partai Konservatif merasa kesepakatan itu buruk dan beberapa menteri May mundur.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa ditunda sampai 31 Oktober dan dengan semakin tingginya tekanan, May mengumumkan pengunduran dirinya dua minggu lalu.

Sejauh ini sudah ada 11 orang yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin partai Konservatif, yang pada ujungnya akan terpilih sebagai perdana menteri. Boris Johnson, mantan menteri luar negeri dan wali kota London saat ini adalah favorit. Namun favorit tidak selalu menang. Johnson pernah jadi favorit tahun 2016 sebelum pendukung utamanya, Michael Gove muncul. Kali inipun, Gove mantan menteri dalam negeri juga mencalonkan diri. Dari 11 calon, dua adalah perempuan.

Pemenang pemilihan Partai Konservatif harus mendapat dukungan dari anggota parlemen dan juga anggota partai lainnya. Untuk dapat dipilih, calon perlu mendapat tanda tangan dari delapan sesama anggota parlemen. Calon kemudian dipilih hanya dua dalam pemungutan suara rahasia oleh anggota parlemen Partai Konservatif. Pemilihan diakhiri dengan pemungutan suara yang dibuka untuk mereka yang membayar untuk menjadi anggota partai.

Pemilihan ini hanya diikuti oleh 124.000 orang, dan mereka inilah yang akan memilih pemimpin negara dengan penduduk lebih dari 65 juta orang. Sebagian besar anggota partai berusia lebih dari 55 tahun dan mayoritas adalah dari kelas atas. Pemenang pemilihan ketua yang akan menjadi perdana menteri baru akan diumumkan pada minggu ketiga bulan Juli.

Partai Konservatif adalah partai yang berkuasa saat ini dan tidak perlu mengadakan pemilihan umum. Namun perdana menteri baru mungkin merasa perlu untuk mendapatkan dukungan publik atas rencana Brexit. Perdana menteri bisa mengusulkan pemilu bila disepakati oleh dua pertiga anggota parlemen.

Walaupun Theresa May mundur, masalah Brexit masih jauh dari selesai. Ada sejumlah pilihan. Pertama adalah meloloskan usulan May, gagasan yang didukung salah satu calon pemimpin Konservatif, Rory Stewart. Namun gagasan ini sudah ditolak tiga kali.

Yang kedua adalah negosiasi ulang kesepakatan yang ada. Inilah yang banyak diinginkan pemimpin partai. Namun Uni Eropa telah mengatakan kesepakatan yang ada tidak bisa diubah. Pilihan ketiga adalah melakukan referendum Brexit lagi. Namun para anggota parlemen sebelumnya belum pernah mendukung pemungutan suara ulang. Secara singkat, walaupun Theresa May mundur, masalah Brexit ini tetap tidak mudah diselesaikan. (BBCI/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments