Rabu, 23 Okt 2019

Terancam Dimakzulkan, Trump Minta China Selidiki Biden

* Joe Biden: Trump Takut Saya Kalahkan di Pilpres AS 2020
admin Sabtu, 05 Oktober 2019 15:18 WIB
abcnews
Capres dari Partai Demokrat Joe Biden (kiri) terlibat pertikaian dengan Presiden AS Donald Trump menyusul bocornya pembicaraan Trump berusaha menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki Biden dan putranya, Hunter.
Washington (SIB) -Di saat dirinya tengah menjadi fokus penyelidikan pemakzulan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump malah secara terang-terangan mengundang intervensi asing ke dalam pemilihan presiden (pilpres) AS. Trump kali ini menyerukan China untuk menyelidiki Joe Biden, calon penantang utamanya dalam pilpres 2020.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (4/10), permintaan kepada pemerintah asing untuk menyelidiki rival politik semacam ini, telah memicu penyelidikan pemakzulan terhadap Trump oleh Kongres AS. Trump dituduh mempengaruhi pemerintahan asing untuk menyerang rival politiknya, setelah dalam percakapan telepon 25 Juli lalu, terungkap Trump berusaha menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki Biden dan putranya, Hunter.

Biden yang merupakan mantan Wakil Presiden AS era Barack Obama, kini menjadi kandidat capres terkemuka Partai Demokrat dan berpotensi menjadi penantang utama Trump dalam pilpres 2020 mendatang. Anak Biden, Hunter, diketahui pernah bekerja di sebuah perusahaan pengeboran gas yang diselidiki otoritas Ukraina.

Dalam pernyataan terbaru, Trump menyebut penyelidikan pemakzulan terhadapnya sebagai 'omong kosong'. Sebelumnya, Trump menyebutnya sebagai 'kudeta'. Saat bicara pada wartawan di Gedung Putih, Trump secara terang-terangan menyatakan keyakinan bahwa China dan Ukraina sama-sama harus memeriksa Biden dan putranya.

"Dan omong-omong, demikian juga China harus memulai penyelidikan terhadap Biden. Karena apa yang terjadi di China sama buruknya dengan apa yang terjadi dengan Ukraina," ucap Trump kepada wartawan setempat pada Kamis (4/10) waktu setempat.
Saat ditanya apakah dirinya telah meminta secara langsung Presiden China Xi Jinping untuk menyelidiki Biden, Trump menjawab: "Saya belum melakukannya, tapi itu tentu menjadi hal yang mulai kita pikirkan."

Hunter, anak Biden, diketahui menjadi salah satu direksi perusahaan gas Ukraina saat AS dan Eropa sibuk berupaya menjauhkan Ukraina dari Rusia beberapa tahun lalu. Beberapa politikus Partai Republik juga mengkritik Biden karena membawa Hunter ke dalam Air Force Two--pesawat wakil presiden AS--saat kunjungan ke China tahun 2013 lalu. Saat itu diketahui Hunter memiliki kepentingan bisnis di China. Terkait tuduhan korupsi yang dilontarkan ke Biden dan anaknya, Trump maupun pengacara pribadinya, Rudy Giuliani, tidak pernah memberikan bukti kuat.

Dalam sebuah acara di Florida, Trump menyebut Partai Demokrat meluncurkan penyelidikan pemakzulan karena tidak bisa mengalahkan dirinya dalam pilpres 2020 mendatang. "Itulah mengapa mereka (Demokrat) melakukan omong kosong pemakzulan ini -- mereka tahu mereka tidak bisa menang," ucap Trump.

Secara terpisah, wakil manajer kampanye Biden, Kate Bedingfield, menyebut komentar terbaru Trump itu menunjukkan bagaimana dia 'mati-matian berpegang pada teori konspirasi yang telah dibantah'. Sementara Kepala Komisi Intelijen pada House of Representatives (HOR) atau DPR AS, Adam Schiff, menuduh Trump telah melakukan 'pelanggaran fundamental terhadap sumpah jabatan presiden' karena komentarnya soal China.

Dalam peringatan untuk Trump, Kepala Komisi Pemilu Federal, Ellen Weintraub, me-retweet postingan Juni lalu soal menerima bantuan asing dalam pemilu. "Biarkan saya memperjelas 100 persen kepada publik Amerika dan siapa saja yang mencalonkan diri untuk jabatan publik: Adalah ilegal bagi siapa pun untuk meminta, menerima atau mendapat sesuatu yang berharga dari seorang warga negara asing terkait pemilu AS. Itu bukan konsep baru," demikian bunyi peringatan itu.

Takut Dikalahkan
Calon presiden (capres) dari Partai Demokrat, melancarkan sindiran kepada petahana Presiden Donald Trump atas skandal percakapan telepon dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. "Saya ingin menegaskan dengan jelas kepada Trump, kaki tangan, dan kroninya yang telah melancarkan serangan kepada saya bahwa saya tidak takut, saya tidak akan ke mana-mana," ucap Biden ketika berkampanye di Reno, Nevada.

Joe Biden menyatakan Trump tidak akan bisa menghancurkannya, seberapa banyak uang atau cara kotor yang sang presiden gunakan. Politisi berusia 76 tahun itu menegaskan, rakyat AS jelas tahu benar siapa dia, dan juga mengetahui seperti apa Trump. "Jelas Trump sangat takut saya akan mengalahkan dia di Pilpres 2020," ujar mantan senator dari Delaware itu.

Hasil survei menunjukan Biden konsisten unggul 8-10 poin dari Trump. Adapun Trump yang tengah menghadapi penyelidikan pemakzulan dari DPR AS tak henti-hentinya menggulirkan narasi politik, terutama melalui pengacaranya, Rudy Giuliani. Giuliani yang sering muncul di media menuduh Biden telah menggunakan kekuasaannya untuk melobi pemecatan Jaksa Penuntut Ukraina Viktor Shokin pada Desember 2015.

Ketika itu, Shokin sedang menyelidiki dugaan korupsi, pencucian uang, dan penyelewengan pajak di perusahaan gas bernama Burisma. Di perusahaan tersebut, putra Biden, Hunter, duduk sebagai anggota direksi. Otoritas Ukraina kemudian menyatakan Biden dan putranya tidak melakukan perbuatan melanggar hukum. Tim kampanye Biden telah meminta televisi AS berhenti mengundang Giuliani ke studio karena terus menyebar kebohongan mengenai Biden dan putranya.

Biden kembali menyampaikan bahwa dia menjalankan tugas dari pemerintahan Obama untuk melobi pemecatan Shokin yang dinilai terlalu permisif terhadap korupsi di Ukraina. Politisi kawakan ini menyebut presiden berusia 73 tahun itu sudah panik dan ketakutan dengan terus berkicau di Twitter secara gila.

Dalam kicauannya, Trump mengancam akan menghukum Ketua Komisi Intelijen DPR AS Adam Chiff, dan mengeksekusi whistleblower yang melaporkan percakapan teleponnya dengan Zelensky. Dia juga menuduh pemakzulan ini adalah kudeta dan "bullshit", serta menebar ketakutan akan terjadi perang saudara jika Partai Demokrat bersikeras melanjutkan penyelidikan. (detikcom/kps)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments