Minggu, 22 Sep 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Tarik Pasukan dari Suriah, Putin Sebut Keputusan AS Sudah Tepat

Tarik Pasukan dari Suriah, Putin Sebut Keputusan AS Sudah Tepat

* Israel Bakal Tingkatkan Perlawanan
Admin Minggu, 23 Desember 2018 17:28 WIB
Moskow (SIB)- Presiden Rusia Vladimir Putin menyambut baik keputusan mitranya dari Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menarik pulang pasukannya dari Suriah setelah mengumumkan kemenangannya atas ISIS. "Fakta bahwa AS telah memutuskan untuk menarik pasukannya adalah keputusan yang tepat," kata Putin pada konferensi pers Kamis kemarin, seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (22/12).

Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa semua pasukan AS akan ditarik dari Suriah dan bahwa ISIS telah "dikalahkan". Presiden Rusia mengatakan bahwa "karena menyangkut kemenangan atas ISIS, secara keseluruhan, saya setuju dengan presiden AS," menambahkan bahwa "kami telah memukul serius (ISIS) di Suriah." Keputusan Trump untuk menarik sepenuhnya dikonfirmasi oleh pejabat AS dan diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang.

Namun demikian, Putin tetap sedikit meragukan rencana Washington DC, mengatakan "kami tidak melihat tanda-tanda AS menarik pasukan (saat ini), tetapi saya mengakui bahwa itu mungkin."

Dalam twit pada hari Kamis, Trump mengatakan bahwa keputusannya untuk menarik sekitar 2.000 pasukan AS dari Suriah "tidak mengherankan" dan bahwa ia ingin melakukannya lebih cepat. Dalam twit berikutnya, Trump mempertanyakan peran AS di Timur Tengah dan mengatakan bahwa itu adalah "waktu bagi (negara) yang lain untuk akhirnya bertempur".

Meskipun ada pernyataan Trump bahwa ISIS telah dikalahkan, para pejabat Prancis dan Inggris --yang berkoalisi dengan AS di Suriah-- menekankan ancaman kelompok teroris itu masih ada. Kedua negara Eropa itu juga berkomitmen untuk tetap berkoalisi untuk melawan ISIS di Suriah.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang tetap prihatin dengan pengaruh Iran di Suriah, mengatakan bahwa Israel akan meningkatkan perjuangannya melawan pasukan Negeri Para Mullah yang mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Israel juga khawatir keluarnya AS --yang merupakan sekutu utama mereka-- dapat mengurangi pengaruh diplomatiknya dengan Rusia, pendukung besar pemerintahan Assad. Israel akan menjadi salah satu negara yang dirugikan apabila pasukan Amerika Serikat benar-benar meninggalkan Suriah. "Kami akan terus bertindak sangat agresif terhadap upaya Iran untuk menguatkan keberadaannya di Suriah," kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan di televisi, Kamis (20/12). 

Israel selama ini telah menjalankan kampanye serangan udara di Suriah yang menargetkan fasilitas Iran, serta mencegah pengiriman persenjataan ke kelompok gerilyawan Hezbollah di Lebanon. "Kami tidak pernah berencana mengurangi upaya kami, bahkan akan semakin meningkatkannya. Dan saya percaya AS akan tetap memberikan dukungan penuhnya," kata Netanyahu dilansir Al Arabiya dari Reuters. 

Sebelumnya, pada Rabu (19/12), Presiden Trump telah mengumumkan kemenangan atas kelompok teroris ISIS di Suriah dan karena itu akan menarik pasukan AS dari negara itu. Namun Israel telah lama mencoba meyakinkan Washington bahwa Iran dapat menimbulkan ancaman yang lebih besar. "ISIS telah dikalahkan di Suriah dan hal itu berkat Amerika. Tapi Iran sudah bergerak dan mereka adalah ancaman yang lebih besar bagi seluruh dunia bebas," kata Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett, yang juga anggota kabinet keamanan Netanyahu. 

Ditambahkan anggota kabinet keamanan Israel lainnya, Menteri Keuangan Moshe Kahlon mengatakan bahwa menjaga keamanan Israel juga menjadi kepentingan AS di kawasan itu. "Tentu saja keputusan AS itu tidak menguntungkan kami, tetapi kami tahu bahwa menjaga keamanan Israel juga merupakan kepentingan Amerika di kawasan ini," ujarnya kepada Radio Militer Israel. 

Sedangkan bagi Turki, berita tentang pulangnya tentara AS dari Suriah kemungkinan akan disambut dengan baik. Hubungan Washington-Ankara telah lama tegang oleh perbedaan sikap atas Suriah, di mana AS telah mendukung kelompok politik YPG beretnis Kurdi Suriah --yang juga membentuk Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan berkoalisi dengan AS-- dalam perang melawan ISIS. 

Turki menganggap YPG sebagai kelompok teroris dan perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdi (PKK) yang dilarang oleh Ankara. Setelah deklarasi Trump, Turki kemudian meningkatkan retorikanya untuk melawan Kurdi. Menurut kantor berita negara Turki Anadolu Ajansi, Menteri Pertahanan Hulusi Akar mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis bahwa Turki sedang mempersiapkan operasi militer baru di beberapa bagian timur laut Suriah, bekas wilayah operasi pasukan AS. (Al Arabiya/Kps/Rtr/Liputan6/h)
Editor: Admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments