Rabu, 23 Okt 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Tarik Pasukan, AS "Muluskan" Jalan Turki Menginvasi Wilayah Utara Suriah

Tarik Pasukan, AS "Muluskan" Jalan Turki Menginvasi Wilayah Utara Suriah

* SDF Bakal Merespons dengan Militer Skala Besar
admin Selasa, 08 Oktober 2019 20:34 WIB
SIB/Dok
Prajurit satuan penjaga perbatasan baru yang berada di bawah komando Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menari usai mengikuti upacara kelulusan di Hasaka beberapa waktu lalu. SDF yang dimotori Kurdi bakal merespons dengan militer skala besar, jika militer Turki menginvasi wilayah utara Suriah.
Washington DC (SIB) -Amerika Serikat (AS) menyatakan, mereka tidak akan mendukung atau berpartisipasi dalam rencana Turki menginvasi wilayah utara Suriah. Pernyataan itu memunculkan kekhawatiran bahwa Washington hendak meninggalkan milisi Kurdi yang menjadi sekutu dalam memerangi ISIS dan "memberi jalan menginvasi wilayah utara Suriah.

Gedung Putih menyatakan, keputusan itu diambil setelah percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dilansir Sky News Minggu (6/10), sekira 1.000 tentara AS yang berada di kawasan utara Suriah bakal ditarik "sesegera mungkin". "Pasukan AS tidak akan mendukung atau terlibat di dalam operasi, Turki bakal segera mengeksekusi operasi ke Utara Suriah," terang Washington dikutip BBC.

Turki ingin membersihkan milisi Kurdi, yang mereka anggap sebagai teroris, dari perbatasan. Erdogan pun telah mengancam bakal menggelar operasi militer. Milisi Kurdi, melalui organisasi Unit Perlindungan Rakyat (YPG), telah mendapat sokongan luar biasa dari Washington selama operasi melawan ISIS. Januari lalu, Trump sempat mengancam bakal menghancurkan ekonomi Turki jika mereka berani menyerang pasukan Kurdi, di tengah rencananya untuk memulangkan serdadu AS dari Suriah.

Diketahui bahwa Turki selama ini menganggap milisi Kurdi di Suriah sebagai teroris dan pecahan dari militan Kurdi yang kerap melancarkan serangan di Turki. Erdogan sebelumnya memperingatkan bahwa militer Turki bisa saja meluncurkan serangan lintas perbatasan 'sesegera mungkin'.

Secara terpisah, seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya menuturkan kepada Reuters, bahwa militer AS tidak akan melindungi milisi Kurdi di Suriah dari gempuran Turki. Menurut sumber ini, AS telah memberitahukan hal itu kepada komandan SDF yang dipimpin milisi Kurdi di Suriah.

Tidak disebutkan lebih lanjut jumlah tentara AS yang akan ditarik dari wilayah Suriah Utara. Namun sumber pejabat AS menyebut tentara AS di dua pos pemantauan di Tel Abyad dan Ras al Ain di Suriah bagian timur laut, sepanjang perbatasan Turki, telah ditarik mundur. Pasukan AS di posisi lain masih bertugas.

AS diketahui sebelumnya berniat menghentikan setiap operasi militer yang diluncurkan Turki terhadap milisi Kurdi di Suriah. Namun posisi itu berubah setelah Trump bicara dengan Erdogan via telepon pada Minggu (6/10) malam waktu AS.
SDF Bakal Merespons

Baik politisi Demokrat maupun Republik memperingatkan, serangan Ankara ke Kurdi bakal mengkhawatirkan sekutu AS di seluruh dunia. Keterangan dari Gedung Putih memaparkan, Ankara bakal bertanggung jawab atas tahanan ISIS setelah Prancis, Jerman, dan negara lain menolak permintaan mereka.

Seorang sumber pejabat senior AS mengungkapkan, jika Turki menyerang, maka Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dimotori Kurdi bakal merespons dengan militer skala besar. Ucapan sumber tersebut ditegaskan juru bicara SDF, Mustafa Bali. "Kami tak akan ragu melawan hingga perang penghabisan di seluruh perbatasan demi melindungi rakyat kami," tegasnya.

Kebijakan Trump untuk memulangkan pasukan AS dan tidak mendukung Kurdi membuat Menteri Pertahanan James Mattis mengundurkan diri sebagai bentuk protes Desember lalu. Mattis maupun pejabat Pentagon menyuarakan kekhawatiran penarikan itu bakal memicu kebangkitan ISIS di Suriah, terlebih jika SDF mengabaikan tahanan teroris karena merespons Turki.

Selama percakapan telepon Erdogan dan Trump, keduanya juga membahas "zona aman" di timur Sungai Eufrat sebagai penyangga militer Turki dan Kurdi. Selain memerangi "teroris", zona aman itu juga digunakan untuk memulangkan setidaknya dua juta dari 3,6 juta pengungsi Suriah. Pada Sabtu (5/10), Erdogan sempat mengancam bakal meluncurkan operasi lintas perbatasan dalam beberapa hari ke depan.

Turki Bantah Anggapan Soal ISIS
Turki membantah anggapan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) bakal kembali jika mereka menyerang milisi Kurdi. Melalui juru bicara pemerintahan Ibrahim Kalin, Ankara menegaskan mereka tidak akan membiarkan kelompok yang dinyatakan kalah pada Maret lalu itu kembali. "Turki akan melanjutkan melawan Daesh (akronim ISIS), dan tak akan membiarkan mereka kembali dalam bentuk apa pun," tegas Kalin di Twitter dikutip AFP, Senin (7/10).

Pernyataan itu terjadi setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan, mereka tidak akan mendukung atau terlibat dalam operasi Ankara di utara Suriah. Pengumuman itu seolah "memberi jalan" bagi pemerintahan Recep Tayyip Erdogan guna memerangi Kurdi, milisi yang selama ini disokong AS. Washington pun menyatakan mulai bakal menarik pasukan dari Suriah, buntut dari percakapan Presiden AS Donald Trump dan Erdogan.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dimotori Kurdi menanggapi dengan menyatakan, penarikan itu berdampak pada ancaman kosongnya kekuasaan yang bisa dimanfaatkan ISIS. Dalam pembicaraannya dengan Trump, Ankara juga menawarkan adanya "zona aman" untuk memulangkan dua juta pengungsi Suriah. Zona itu bakal memberikan fungsi ganda. Mengamankan perbatasan Turki dari "teroris", dan memberikan jalan bagi para pengungsi untuk pulang.

Kalin melanjutkan, meski melancarkan operasi militer, Turki tidak berambisi untuk melakukan pendudukan atau mengubah demografi negara. Terdapat sekitar 3,6 juta pengungsi Suriah di Turki, dan merupakan jumlah tertinggi di dunia. Menjadi sumber ketegangan di negara tersebut. (BBC/Sky News/kps/AFP/Rtr/dtc/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments