Rabu, 23 Jan 2019

Kerajaan Malaysia akan Pilih Raja Baru Empat Pekan Lagi

Sultan Ibrahim Ismail Kandidat Raja Baru Malaysia

admin Selasa, 08 Januari 2019 16:51 WIB
SIB/wikipedia

Sultan Ibrahim Ismail dari Johor disebut-sebut kandidat raja baru Malaysia menyusul mundurnya Raja Muhammad V. Dewan Penguasa Malaysia, Senin (7/1), memutuskan akan kembali bertemu pada 24 Januari mendatang untuk memilih raja dan wakil raja yang

Kuala Lumpur (SIB) -Malaysia akan memilih Raja baru untuk menggantikan Yang di-Pertuan Agong, Sultan Muhammad V yang turun takhta pada pekan lalu. Raja baru diperkirakan baru akan dapat dipilih dalam empat pekan ke depan.

Gelar Yang di-Pertuan Agong yang merupakan kepala negara Malaysia bukanlah sebuah gelar absolut atau pun diturunkan secara turun temurun. Gelar tersebut dipilih setiap lima tahun sekali dalam pertemuan sembilan sultan negara bagian Malaysia dan biasanya diberikan secara bergilir tergantung pada senioritas, pengaruh dan lamanya mereka berkuasa di wilayah negara bagian masing-masing.

Mundurnya Sultan Kelantan Muhammad V, yang terpilih sebagai di-Pertuan Agong pada Desember 2016, adalah yang pertama kalinya terjadi dalam sejarah persemakmuran Inggris itu. Hal itu berarti, para sultan Malaysia harus menggelar pertemuan Konferensi Penguasa yang tak terjadwal sebelumnya untuk memilih penggantinya yang akan digelar dalam empat pekan mendatang.

Diwartakan Straits Times, Senin (7/1), Wakil Yang di-Pertuan Agong, Sultan Perak Nazrin Shah yang saat ini menjabat sebagai Raja sementara bukan sultan yang berada di posisi berikutnya untuk mengisi posisi tersebut.

Sementara Sultan Pahang, Ahmad Shah yang berada di urutan berikutnya sebagai Yang di-Pertuan Agong dalam kondisi yang tidak sehat. Bahkan putranya telah menggantikannya menjalankan tugas-tugas sebagai Sultan Pahang dalam dua tahun terakhir. Kemungkinan saat ini tertuju pada Sultan Ibrahim Ismail dari negara bagian Johor, yang berada dalam garis suksesi ketiga.

Namun, apa pun keputusan yang mungkin telah atau belum diputuskan oleh para sultan, Penjaga Tanda Penguasa Malaysia akan pertama-tama meminta persetujuan kesembilan sultan untuk dinominasikan sebagai Agong yang baru.

Daftar nominasi mengikuti urutan suksesi yang dimulai dengan kepala negara berikutnya, kecuali sultan yang terpilih telah menolak posisinya. Kesembilan sultan akan diberi kertas suara dengan nama calon yang pertama untuk menunjukkan apakah dia percaya kandidat itu cocok untuk menjadi Agong. Jika kandidat itu memperoleh dukungan mayoritas setidaknya dari lima sultan, ia akan ditawari posisi sebagai Agong. Jika tidak, atau jika ia menolak, proses diulangi dengan nama berikutnya dalam daftar.

Surat suara itu rahasia, dan semuanya dicetak dengan kertas tanpa tanda dan pena serta tinta yang sama. Surat suara dihancurkan begitu hasilnya diketahui. Setelah proses selesai, Penjaga Tanda Penguasa Malaysia akan memberi tahu Perdana Menteri dan Parlemen mengenai siapa yang akan menjadi kepala negara baru Malaysia. Perdana Menteri kemudian akan memberi tahu rakyat Malaysia, biasanya dengan siaran pers, siapa yang telah dipilih sebagai Raja mereka.

Yang di-Pertuan Agong akan mulai menjalankan fungsi-fungsi kerajaannya setelah menandatangani sumpah jabatan dalam upacara sebelum Konferensi Dewan Penguasa, dan di hadapan Ketua Mahkamah Agung Malaysia.

Turunnya Sultan Muhammad V dari singgasana Kesultanan Malaysia disinyalir berkaitan dengan kehidupan pribadinya yang sempat kontroversial beberapa waktu lalu, yakni ketika muncul pemberitaan singkat bahwa dia menikahi seorang ratu kecantikan asal Rusia.
Sultan Muhammad V dikabarkan pergi melakukan kontrol medis pada November lalu, dan kemudian di saat bersamaan, muncul foto-foto yang menunjukkan dia menikahi Miss Moscow Oksana Voevodina, yang diduga kuat berlangsung di ibu kota Rusia, Moskow. Hingga sekarang, pejabat istana belum juga mengomentari rumor pernikahan tersebut, ataupun memberikan rincian lebih lanjut tentang kondisi kesehatan Sultan Muhammad V.

Sutan Muhammad V, yang baru berusia 47 ketika menjadi raja Malaysia, telah mendapatkan reputasi sebagai sosok yang flamboyan dan berjiwa muda. Dia dikenal menyukai berbagai olahraga ekstrem, seperti balapan, menembak, dan lain sebagainya.

Malaysia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki monarki rotasi, diberlakukan sejak negara itu merdeka pada 1957 silam. Rotasi itu memberikan kesempatan bagi sembilan penguasa negara bagian untuk bergantian menjadi kepala negara Malaysia setiap lima tahun sekali.

Namun, tugas raja Malaysia hanya bersifat seremonial. Kekuasaan dalam mengatur negara sepenuhnya diserahkan pada parlemen dan perdana menteri. Meskipun demikian, peran ini dinilai sebagai prestise yang cukup besar, terutama di antara mayoritas muslim Melayu di negara itu, yang mengganggap raja sebagai salah junjungan tertinggi dalam bermasyarakat. Begitu dihormatinya, bahkan, kritik yang dianggap menghina raja dapat membuat seseorang dijebloskan ke penjara. (okz/l)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments