Senin, 20 Mei 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Sri Lanka Tangkap Cendekiawan Saudi Terkait Teror Bom Minggu Paskah

Sri Lanka Tangkap Cendekiawan Saudi Terkait Teror Bom Minggu Paskah

* Dijaga Ketat Pasukan, Ribuan Umat Katolik Ikuti Ibadah
admin Senin, 13 Mei 2019 19:02 WIB
SIB/Lakruwan Wanniarachchi/AFP/Getty Images
Umat Katolik Sri Lanka mengikuti Misa di Gereja St Theresa di Colombo, Minggu (12/5), misa pertama sejak aksi bom bunuh diri pada 21 April silam yang menewaskan 258 orang.
Colombo (SIB) -Otoritas Sri Lanka menangkap seorang cendekiawan Arab Saudi karena memiliki hubungan dekat dengan Zahran Hashim, tersangka pemimpin aksi bom bunuh diri pada Minggu Paskah. Melansir Reuters, Minggu (12/5), cendekiawan Saudi itu bernama Mohamed Aliyar. Dia merupakan pendiri Centre for Islamic Guidance, yang memiliki masjid, sekolah agama, dan perpustakaan di kota kelahiran Zahran, Kattankudy.

"Informasi telah terungkap, tersangka ditangkap karena memiliki hubungan dekat dengan Zahran dan telah mengoperasikan transaksi keuangan," demikian pernyataan polisi. Aliyar diduga terlibat dengan pelatihan untuk kelompok teroris di kota Hambantota.

Kelompok itu kemudian melakukan serangan bom bunuh diri di hotel dan gereja. Juru bicara polisi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut soal tudingan yang dihadapkan pada Aliyar. Pria berusia 60 tahun itu mendirikan Centre for Islamic Guidance pada 1990, setahun setelah lulus dari Imam Muhammad ibn Saud Islamic University di Riyadh. Lembaga itu didanai oleh donatur asal Saudi dan Kuwait. Sebelum penangkapan Aliyar, tiga anggota dewan pusat menyebut Zahran sebagai pembuat onar. Mereka khawatir tentang pandangan ekstremisnya.

Terakhir kali dia mengunjungi perpustakaan sekitar 10 tahun lalu. Namun, mereka menyangkal ada buku-buku di perpustakaan yang membuat Zahran berpandangan demikian. Seperti diketahui, pemerintah Sri Lanka menyebut Zahran sebagai seorang radikal yang memimpin kelompok serangan.

Sementara itu ribuan umat Katolik mulai menghadiri ibadah Minggu di Ibu Kota Kolombo, Minggu (12/5). Mereka beribadah di bawah penjagaan ketat aparat keamanan, pasca teror bom bunuh diri pada 21 April lalu.

Pasukan bersenjata menjaga gereja St, Theresa di kawasan Thimbirigasyaya, Kolombo. Sementara anggota jemaat sempat ikut membantu menyisir gereja. Aparat juga meminta jemaat tidak membawa kendaraan sebagai bentuk antisipasi teroris menggunakan kendaraan sebagai kedok untuk melakukan serangan lanjutan.

Kebaktian Minggu sempat ditiadakan di semua gereja setelah serangan itu. Namun, Uskup Agung Kolombo, Kardinal Malcolm Ranjith, mengatakan ibadah akan dilakukan pekan ini di keuskupannya dan mengadakan misa khusus bagi korban serangan 21 April di Katedral St. Lucia.

Sebagian besar gereja di luar Kolombo telah memulai kembali ibadah pada pekan lalu. Namun tetap dalam pengawasan ketat polisi setempat. Pejabat gereja juga mengatakan sekolah swasta Katolik yang ditutup setelah liburan paskah akan mulai kembali kegiatan belajar mengajar pada Selasa (14/5). Tingkat pengamanan ketat juga tetap dilakukan seperti batasan parkir dekat sekolah.

Pemerintah Sri Lanka menyatakan seluruh tersangka dan pelaku teror bom pada Hari Paskah 21 April lalu, yang menargetkan tiga gereja beserta hotel berhasil ditangkap atau meninggal. Namun, menurut sumber masih ada sekitar puluhan orang yang diduga terlibat jaringan itu masih dalam pelarian.

Pelaksana Tugas Kepala Kepolisian Sri Lanka, Chandana Wickramaratne, menyatakan aparat juga berhasil menyita sejumlah bahan-bahan pembuat bom dari para tersangka. Diduga para terduga akan menggunakannya untuk menggelar serangan teror lanjutan. Akibat perbuatan para teroris, sebanyak 258 orang meninggal dan sekitar 500 lainnya luka-luka.

Pemerintah Sri Lanka sudah menyatakan kelompok Jemaah Tauhid Nasional (NTJ) dan Jemaah Agama Ibrahim (JMI) sebagai organisasi terlarang. Pemimpinnya, Zahra Hashim, diduga adalah otak serangan teror yang tewas dalam serangan di Hotel Shangri-La. Akan tetapi, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), mengklaim bertanggung jawab atas perbuatan keji itu.

Aparat menduga serangan itu sudah direncanakan selama bertahun-tahun. Terutama setelah perang sipil dengan kelompok pemberontak Macan Tamil berakhir pada 2009. Saat itu umat Muslim setempat juga menjadi korban sehingga harus mengungsi. Banyak dari mereka direkrut pemerintah untuk memerangi pemberontak karena fasih berbahasa Tamil dan Sinhala. (CNNI/kps/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments