Kamis, 12 Des 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Siksa Anaknya yang Berusia 5 Tahun hingga Tewas, Ternyata Ayah Punya Kecerdasan Rendah

Siksa Anaknya yang Berusia 5 Tahun hingga Tewas, Ternyata Ayah Punya Kecerdasan Rendah

redaksi Senin, 18 November 2019 17:12 WIB
beritatagar.id
Ilustrasi
Singapura (SIB)
Seorang ayah di Singapura yang secara sadis menyiksa anaknya berusia 5 tahun hingga tewas diketahui punya kecerdasan yang rendah. Ridzuan Mega Abdul Rahman dihadirkan dalam sidang bersama istrinya, Azlin Arujunah, karena membunuh putra mereka pada 2016 silam. Mereka berdua menyiksa sang anak dengan cara yang sadis. Seperti menyiramkan air panas dan tidak segera membawanya ke rumah sakit hingga dia tewas.

Dilansir Channel News Asia Jumat (15/11), bocah 5 tahun sempat tinggal bersama keluarga asuh sebelum kembali kepada ayah dan ibunya di usia empat tahun. Psikolog dari Institut Kesehatan Mental (IMH) Leung Hoi Ting memberikan kesaksian terkait Ridzuan dalam persidangan Jumat siang. Dia telah mewawancarai pria 27 tahun itu di Rumah Sakit Changi sekitar dua bulan sejak kasus penyiksaan tersebut terungkap.

Leung mencoba mengorek soal masa kecil pelaku, termasuk bagaimana pengalamannya, dan melakukan pemeriksaan atas kecerdasan Ridzuan. Pemeriksaan intelektual itu mencakup dua komponen: penilaian standar, serta penilaian fungsi adaptif dari individu yang bersangkutan. Hasilnya, diketahui intelijensia Ridzuan berada di kisaran "sangat rendah". Meski begitu, dia tidak mengalami disabilitas.

Pengacara terdakwa Eugene Thuraisingam mengatakan, nenek Ridzuan yang berprofesi sebagai petugas kebersihan sempat menyebutnya "bodoh". Sementara pamannya mengaku tidak bisa memahami si pelaku karena dia sering berbicara cepat, dan kalimatnya sukar dipahami. Namun, saat hakim menanyakan apakah faktor itu berasal dari fungsi adaptifnya, Leung dengan tegas menyatakannya tidak. "Jika itu yang dijadikan patokan, tentunya ada cukup banyak orang yang bisa dikategorikan rendah dalam hal fungsi adaptif," terangnya. Thuraisingam menunjukkan masa kecil Ridzuan yang lain. Seperti fakta bahwa dia tidak terlalu bagus dalam mata pelajaran SD.

Sebaliknya, dia malah "bangga" jika mendapat nilai nol di ujian. Dia disebut cenderung menghindari tugas yang dia tidak suka. "Kemudian dia sering membolos, lebih suka bermain di geladak, serta meminta bibinya untuk mengerjakan PR-nya," ujar Thuraisingam. Jika bibinya tidak bisa menyelesaikannya, maka Ridzuan akan memukul tangan sang bibi menggunakan penggaris dalam kemarahannya. Leung kemudian menjawab dia akan menanyai Ridzuan mengapa dia "bangga" ketika mendapat nilai nol di sekolah, dan menyebut ada banyak alasan mengapa dia tidak pandai.

Namun, Leung memberikan prediksi bahwa "kegembiraan" si ayah kemungkinan berasal dari ibu maupun neneknya yang sering tidak memerhatikannya. Jika nantinya terbukti secara sengaja menyiksa si anak hingga tewas, Ridzuan terancam menghadapi hukuman mati, atau seumur hidup dengan dicambuk. (Channel News Asia/kps/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments