Senin, 22 Apr 2019

Selandia Baru Larang Senapan Semi-Otomatis Gaya Militer

* Geng Pemotor akan Jaga Warga Muslim Saat Salat Jumat * Pelaku Teror Tembaki Pejalan Kaki Sebelum Jalankan Aksinya
admin Jumat, 22 Maret 2019 22:09 WIB
SIB/dailymail
Lebih dari ribuan warga Selandia Baru sambil memegang lilin berkumpul di sebuah stadion di Du nedin, Kamis (21/3), mengikuti hening cipta mengenang korban teror penembakan di Christchurch yang menewaskan 50 orang.
Wellington (SIB) -Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengumumkan larangan untuk senapan bergaya militer jenis semi-otomatis dan senapan serbu menindaklanjuti aksi teror di dua masjid di Christchurch yang menewaskan 50 orang. Larangan itu diberlakukan di bawah undang-undang kepemilikan senjata api baru yang lebih ketat.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Kamis (21/3), PM Ardern mengharapkan Undang-undang (UU) baru akan mulai diberlakukan pada 11 April mendatang. Dia juga mengumumkan skema buy-back atau pembelian kembali untuk senjata-senjata yang akan dilarang.

"Sekarang, enam hari setelah serangan ini, kami mengumumkan larangan terhadap semua senapan semi-otomatis bergaya militer (MSSA) dan senapan serbu di Selandia Baru," tegas PM Ardern dalam pernyataan terbarunya. "Suku cadang terkait yang biasa digunakan untuk mengubah senjata-senjata ini menjadi tipe MSSA juga dilarang, bersama dengan magasin berkapasitas tinggi," ucapnya.

Pelaku teror di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood yang sama-sama ada di kota Christchurch pada Jumat (15/3) lalu menggunakan sejumlah senapan semi-otomatis, termasuk jenis AR-15. Senjata-senjata api itu didapatkan pelaku secara legal atau dibeli dengan izin kepemilikan senjata api yang dimiliki pelaku.

"Pada 15 Maret, sejarah kita berubah selamanya. Sekarang, aturan hukum kita juga akan berubah. Kami mengumumkan tindakan atas nama seluruh warga Selandia Baru untuk memperketat aturan senjata kita dan menjadikan negara kita tempat yang lebih aman," sebut PM Ardern. "Seluruh senjata semi-otomatis yang digunakan selama serangan teroris pada Jumat, 15 Maret, akan dilarang," tegasnya lagi.

Pengecualian berlaku untuk senjata api kaliber rendah seperti .22 yang biasa digunakan para petani untuk mengendalikan hama dan menjaga kesejahteraan binatang. PM Ardern meyakini bahwa senjata-senjata yang dipakai para petani tidak dirancang untuk digunakan dalam kengerian yang sama seperti di Christchurch.

Untuk para pemilik senjata yang akan dilarang, sebut PM Ardern, pemerintah akan menetapkan periode amnesti dan menggelar skema buy-back. Diperkirakan skema itu membutuhkan dana antara NZ$ 100 juta hingga NZ$ 200 juta (Rp 963,1 miliar hingga Rp 1,9 triliun), tergantung jumlah senjata yang diterima dari para pemiliknya.

"Para pemilik senjata yang akan dilarang, saya tahu bahwa kebanyakan dari Anda akan bertindak sesuai hukum. Untuk mengakui hal itu dan untuk memberi insentif atas upaya penyerahan (senjata), kami akan menetapkan skema buy-back," sebut PM Ardern.

Pihak kepolisian untuk selanjutnya akan mulai menerima penyerahan senjata dari dari warga, namun diimbau agar warga
menghubungi polisi terlebih dulu sebelum mendatangi kantor polisi setempat menyerahkan senjatanya. Bagi pihak-pihak yang tetap menyimpan atau bahkan menimbun senjata yang dilarang setelah periode amnesti berakhir, bisa terancam hukuman maksimum tiga tahun penjara atau hukuman denda maksimum NZ$ 4 ribu (Rp 38,5 juta).

"Untuk para pemilik yang memiliki penggunaan sah untuk senjata-senjata mereka, saya ingin menekankan bahwa tindakan ini diumumkan hari ini bukan karena Anda, dan tidak ditargetkan pada Anda. Tindakan kita, atas nama seluruh warga Selandia Baru, yang ditargetkan untuk menjamin hal ini tidak pernah terjadi lagi," ucapnya.

PM Ardern mengesampingkan potensi adanya perlawanan terhadap larangan senjata api itu. "Kebanyakan warga Selandia Baru akan mendukung perubahan ini. Saya merasa sangat yakin akan hal itu," tandasnya.

Jaga Warga Muslim
Geng pemotor Selandia Baru berjanji akan menjaga warga muslim saat menjalankan salat Jumat, menyusul teror mematikan di dua masjid di Christchurch, pekan lalu. Janji ini disampaikan geng pemotor Mongrel Bob setelah menerima kabar bahwa warga muslim di Hamilton, Waikato, takut untuk beribadah di masjid setempat.

Sonny Fatu, pemimpin geng pemotor Mongrel Mob, yang didominasi etnis Maori, untuk wilayah Waikato, menyatakan kelompoknya akan mengamankan Masjid Jamia di Hamilton, North Island. "Kami akan mendukung dan membantu saudara-saudara muslim kami seberapa lama pun mereka membutuhkan kami," ucap Fatu seperti dikutip media lokal New Zealand, Stuff.co.nz.

Ditambahkan Fatu bahwa kini saat untuk bersatu. Dia juga menyebut bahwa Islam seringkali disalahartikan. "Perbedaan-perbedaan kita menjadi lem yang merekatkan kita bersama. Kita sekarang harus fokus tidak pada di mana kita, tapi ke mana kita akan bergerak. Mari perbaiki lubang-lubang di kapal kita dan atur ulang strategi untuk sisa perjalanan kita," ucapnya.

Tidak hanya Mongrel Mob di Waikato yang mendukung warga muslim usai teror di Christchurch. Geng lain seperti King Cobra, Black Power juga cabang Mongrel Mob lainnya juga menunjukkan dukungan mereka. Bahkan dilaporkan cabang Mongrel Mob di Sydney, Australia melakukan patroli di sekitar masjid setempat.

Kepala Asosiasi Muslim Waikato, Asad Mohsin, menyampaikan apresiasinya untuk dukungan geng Mongrel Mob. Mohsin bahkan mengharapkan agar anggota geng Mongrel Mob ikut bergabung dalam ibadah di dalam masjid. "Kami akan menyambut mereka untuk datang ke dalam masjid dan berdoa bersama kami. Mereka adalah bagian dari kami seperti kami adalah bagian mereka," ucapnya.

Tembaki Pejalan Kaki
Sementara itu kepolisian mendapatkan bukti tambahan terkait kasus penembakan. Rekaman kamera CCTV yang diberikan oleh seorang pemilik hotel dekat tempat kejadian perkara kepada pihak berwajib menguak fakta terkini. Dalam rekaman itu, dapat diketahui bahwa pelaku penembakan dua masjid di Selandia Baru sempat menargetkan pejalan kaki.

Dalam rekaman CCTV dengan keterangan waktu pukul 13.41, terlihat sebuah mobil melintasi jalan Deans Avenue Kota Christchurch, Selandia Baru. Pejalan kaki tengah berjalan santai di sepanjang trotoar. Semua tampak sebagaimana Jumat biasanya, tidak ada hal yang mencurigakan. Namun dalam cuplikan berikutnya, dari tempat parkir hotel yang dilintasi oleh beberapa pejalan kaki menuju Masjid Al Noor, tampak Brenton Tarrant menyasar mereka.

Tersangka terlihat berhenti beberapa kali dalam perjalanan menuju Al Noor untuk menembaki pejalan kaki. Tembakan pertama terdengar pada pukul 13.42 dalam rekaman. Dua orang yang menuju Masjid Al Noor tampak tidak menyadari bahaya. Seorang lelaki tetap mengayuh sepedanya, sedangkan pria lain yang mengenakan blazer hijau tidak gentar.

Tiga detik berikutnya, serangkaian tembakan terdengar dari kejauhan. Tampak dua pria lain yang mengenakan pakaian tradisional shalwar kameez berjalan melalui tempat parkir, diduga juga akan menuju masjid.

Kurang dari satu menit setelahnya, dua tembakan keras terdengar. Spontan, dua pria --salah satunya satu laki-laki yang mengenakan blazer hijau-- melarikan diri dari arah masjid. Ia kemudian bersembunyi, merunduk di balik deretan semak-semak yang terdapat di tempat parkir hotel.

Saat tembakan lain terdengar, ia berteriak keras "go" dan mulai berlari menyusuri jalan. Pukul 13.46, tampak dua pria berpakaian shalwar kameez kembali ke tempat parkir dari arah masjid. Di saat yang sama, sirene polisi terdengar meraung. Beberapa detik kemudian, sebuah mobil Subaru Outback berhenti di pintu masuk tempat parkir hotel. Pengemudi membunyikan klakson dua kali, membuat salah satu pria yang terlihat lebih tua berbalik menghadap ke arah kendaraan.

Dari jarak sekitar dua hingga tiga meter, pengemudi tersebut menembak pria itu. Terlihat jendela samping depan sisi penumpang hancur, lalu pria itu jatuh ke tanah. Setelah itu, rekaman CCTV memperlihatkan bahwa mobil itu hilang dari pantauan kamera. Sejauh ini pihak kepolisian menolak berkomentar lebih jauh terkait rekaman CCTV tersebut. "Investigasi terkait serangan masih berjalan dan kami tidak dalam posisi untuk berkomentar apapun, yang mungkin menjadi bukti," kata seorang anggota tim media kepolisian Selandia Baru. (Detikcom/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments