Sabtu, 23 Mar 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Selamatkan Sekolahnya dari Bom, Pelajar Pakistan Korbankan Nyawa

Selamatkan Sekolahnya dari Bom, Pelajar Pakistan Korbankan Nyawa

Sabtu, 11 Januari 2014 12:07 WIB
SIB/int
Aitazaz Hassan Bangash tewas setelag melindungi sekolahnya di Distrik Hangu, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang akan diledakkan oleh pembom bunuh diri.
Hangu (SIB)- Aitazaz Hassan Bangash tak berumur panjang. Bocah asal Pakistan itu meninggal pada usia masih belia: 14 tahun. Namun, namanya akan terus dikenang sebagai pahlawan. Dengan berani, Aitazaz menghentikan seorang bomber bunuh diri yang akan beraksi. Melawannya. Hingga akhirnya ia tewas mengenaskan di gerbang sekolahnya. Kematiannya tak sia-sia, ia menyelamatkan ratusan nyawa temannya yang berkumpul di lapangan untuk apel pagi.

Hari itu, Senin pagi 6 Januari 2014, Aitazaz yang duduk di kelas 9 dalam perjalanan menuju Sekolah Ibrahimzai yang terletak di Distrik Hangu, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa -- tempatnya menuntut ilmu. Di tengah jalan, seorang remaja tak dikenal, berpakaian seragam sekolah, menanyakan letak sekolahnya. Dia ternyata bomber yang siap beraksi.

Aitazaz dan sepupunya, Musadiq Ali Bangash curiga. "Siswa-siswa lain mundur, namun Aitazaz melawan bomber itu dan mencoba menangkapnya. Selama perkelahian itu, si bomber panik dan meledakkan bomnya," kata sepupu korban, Musadiq, seperti dilansir CNN, Kamis (9/1).

Rajab Ali, yang jadi saksi mata, mengaku melihat Aitazaz melempar batu besar ke seorang anak lelaki yang mencoba masuk sekolahnya. Ledakan terjadi saat Aitazaz mencoba menangkapnya. Akibatnya, Aitazaz dan sang bomber tewas seketika. Ledakan juga melukai 2 orang lainnya.

Iftikhar Ahmed, perwira polisi di Distrik Hangu mengonfirmasi detil kejadian tersebut. Hangu adalah distrik yang bergolak, yang membatasi wilayah kesukuan Pakistan. Wilayah yang jauh dari damai dan penuh dengan kekerasan sektarian -- Syiah atau Sunni. "Sungguh pengorbanan yang luar biasa. Aitazaz mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan ratusan siswa -- Syiah dan Sunni -- yang bersiap apel pagi," kata Musadiq, sepupu korban.

Kepergian Aitazaz meninggalkan duka bagi keluarganya: ayahnya Mujaad Ali Bangash yang seorang buruh, kakaknya Mustajab Hassan Bangash yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi, juga 3 saudara perempuannya.  Bangash, pria berusia 55 tahun, memuji anak laki-lakinya karena telah menyelamatkan ratusan nyawa dengan keberaniannya.

"Aitzaz membuat kami bangga atas keberaniannya mencegat pelaku bom bunuh diri dan menyelamatkan nyawa ratusan teman sekolahnya. Saya senang putra saya menjadi seorang martir dengan mengorbankan nyawa untuk tujuan mulia," ucap Bangash.

Bangash bekerja di Uni Emirat Arab dan baru berhasil tiba di rumahnya yang ada di desa Ibrahimzai sehari setelah pemakaman anaknya. "Banyak orang datang untuk menyampaikan simpati kepada saya, saya beritahu mereka untuk menyelamati saya karena menjadi ayah seorang martir," terang Bangash. "Saya akan lebih senang jika anak kedua saya juga mengorbakan nyawanya untuk negara ini," tambahnya.

Penduduk setempat, salah satunya Nawaz Khan meminta agar Aitazaz diberi penghargaan anumerta atas keberaniannya. "Ia menyelamatkan ratusan nyawa. Ia berhak mendapat penghargaan lebih dari Malala Yousafzai," kata dia.

Para warga Pakistan menyamakan tindakan heroik Aitazaz dengan Malala, gadis cilik yang ditembak Taliban pada Oktober 2012 karena mengkampanyekan pendidikan untuk semua anak, termasuk murid perempuan. Nama Aitazaz juga harum di media sosial. Pengguna Twitter meminta semua orang menggunakan hashtag #onemillionaitzazs, atau versi yang lebih sederhana #aitzaz. Menyerukan agar keberanian remaja ini diakui. (Detikcom)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments