Rabu, 24 Jul 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Rakyat Malaysia Donasikan Rp 695 Miliar untuk Bantu Bayar Utang Negara

Rakyat Malaysia Donasikan Rp 695 Miliar untuk Bantu Bayar Utang Negara

admin Senin, 11 Februari 2019 16:11 WIB
Ilustrasi.
Kuala Lumpur (SIB) -Sistem donasi yang dibuka oleh pemerintah Malaysia kepada rakyatnya untuk membantu membayar utang negara resmi ditutup setelah delapan bulan. Donasi bernama Tabung Harapan Malaysia itu resmi ditutup pada 14 Januari lalu, dengan jumlah donasi 202.716.775,10 ringgit atau Rp 695,4 miliar.

Menteri Keuangan Lim Guan Eng dikutip The Star via Asia One, Jumat (8/2) berkata, uang yang terkumpul setelah donasi ditutup bakal dikembalikan. Dalam keterangan resminya, Lim menjelaskan uang yang diberikan oleh warga seluruhnya bakal dipakai untuk membayar utang. "Saat ini, Kementerian Keuangan sedang mengurus penutupan rekening sebelum uang itu dihitung oleh Departemen Auditor Jenderal.

Setelah memenangkan pemilihan umum pada Mei 2018, pemerintahan Perdana Menteri Mahathir Mohamad langsung membuka rekening donasi. Kebijakan itu muncul setelah Mahathir mengumumkan saat ini Negeri "Jiran" tengah menghadapi utang sebesar 1 triliun ringgit, atau Rp 3.430 triliun. Juni 2018, mantan Raja Malaysia Sultan Muhammad V dari Kelantan memutuskan untuk memotong gajinya sebesar 10 persen untuk membantu mengurangi utang.

Langkah Sultan Muhammad V kemudian ditiru oleh jajaran menteri pimpinan Mahathir untuk memangkas 10 persen gaji sebagai simbol penghematan. "Pemerintah federal mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Malaysia yang telah menyumbang sebagai rasa cinta kepada kalian," ujar Lim. Menteri berusia 58 tahun itu menuturkan, donasi itu membuat pemerintahan Dr M, julukan Mahathir, harus bekerja keras untuk membayar utang negara. Komite yang diketuai Sekretaris Jenderal Pendapatan Ahmad Badri Mohd Xahir saat ini tengah mempertimbangkan bagaimana kontribusi itu bakal disalurkan.

Cegah Pernikahan Bocah
Sementara itu, Kepolisian di Perai, Malaysia, dilaporkan mencegah pernikahan antara gadis berusia 11 tahun dan pria berumur 21 tahun. Dilaporkan Asia One Sabtu (9/2), polisi bergerak setelah menerima laporan dari pendiri sekolah swasta khusus Rohingya, K Sudhagaran. Sudhagaran mengaku dia melapor setelah mendapat kabar mantan muridnya menerima lamaran pria yang juga berasal dari kelompok Rohingya.

Asisten Komisaris Polisi Central Seberang Perai Nik Ros Azhan Nik Abdul Hamid berkata, ide pernikahan itu datang dari ayah si bocah. Si ayah yang seorang kontraktor bangunan berniat menikahkan putrinya karena mempunyai permasalahan di bagian finansial. Polisi yang datang kemudian mengumpulkan gadis 11 tahun itu, ayahnya dan pengantin pria untuk memberikan penjelasan. "Pada akhirnya, kedua belah pihak sepakat untuk menunda pernikahan hingga bocah tersebut telah cukup umur," papar Azhan.

Dia melanjutkan, kasus tersebut sudah diberitahukan kepada Departemen Kesejahteraan Sosial dan Departemen Bidang Agama Penang. Polisi juga memberi tahu Badan PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) dengan Azhan berujar, kasus tersebut dipantau oleh departemen kesejahteraan sosial. (Asia One/kps/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments