Selasa, 18 Jun 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Qatar Tuduh Saudi Biang Kerok Ketidakstabilan di Timur Tengah

Qatar Tuduh Saudi Biang Kerok Ketidakstabilan di Timur Tengah

admin Selasa, 11 Juni 2019 18:25 WIB
Ilustrasi
Doha (SIB) -Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani baru-baru ini menuduh Arab Saudi sebagai kekuatan yang menciptakan gangguan di Timur Tengah dan Afrika. Mengutip laman The Guardian, Senin (10/6), Qatar menuduh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengganggu gerakan rakyat di Sudan, Libya, dan Somalia.

Al-Thani juga melihat perseturuan antara Doha dan Riyadh selama dua tahun terakhir telah memicu perselisihan lain di berbagai wilayah. Hal itu telah menyebabkan ketegangan bilateral sulit untuk diselesaikan.

Sebagaimana diketahui, Arab Saudi dan sekutu regional terdekatnya: Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir, telah meluncurkan boikot ekonomi dan politik kepada Qatar yang kaya gas sejak dua tahun lalu. Hal itu disebabkan karena adanya keberatan terhadap kebijakan luar negeri Qatar, termasuk dugaan dukungan terhadap Ikhwanul Muslimin (IM).

Menlu al-Thani mengakui perselisihan itu telah meluas di seluruh wilayah, menyebut Libya dan Somalia sebagai dua negara di mana Saudi telah bertekad untuk memasang rezim yang simpatik kepada pihaknya. "Qatar telah menjadi target dari banyaknya upaya, terutama yang dipimpin oleh Arab Saudi dan UEA untuk menjelekkan kita," kata Thani.

"Beberapa negara, terutama yang membutuhkan dukungan Saudi dan UEA, bahkan telah diperas untuk mengikuti kebijakan yang sama terhadap Qatar. Hal ini menciptakan banyak ketidakstabilan di Horn of Africa (Afrika Timur Laut) dan daerah sub-Sahara.
Terutama fokusnya adalah Afrika, tetapi ada upaya di tempat lain. Afrika menjadi fokus karena banyak negara membutuhkan bantuan dan dukungan," lanjut sang diplomat senior.

Menlu Qatar menambahkan, Arab Saudi dan sekutu telah mencoba mendekati banyak pihak di Timur Tengah. "Di beberapa tempat mereka berhasil hingga tingkat tertentu, beberapa berhasil 100 persen dan beberapa gagal," katanya.

Adapun terkait citra Arab Saudi dan UEA sebagai benteng stabilitas dan kekuatan melawan terorisme, Thani menantang definisi mereka terkait hal itu. "Setiap negara yang tidak dipimpin oleh seorang otoriter, mereka melihat sebagai teroris. Seorang teroris bisa termasuk siapa saja yang tidak setuju dengan mereka," katanya. (liputan6/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments