Selasa, 21 Jan 2020
  • Home
  • Luar Negeri
  • Putri Eks PM Australia Diminta Bungkam Soal Pemerkosaan yang Dialaminya

Putri Eks PM Australia Diminta Bungkam Soal Pemerkosaan yang Dialaminya

redaksi Selasa, 10 Desember 2019 20:44 WIB
WILLIAM WEST/AFP
Mendiang Bob Hawke dalam foto tahun 2010
Canberra (SIB)
Anak perempuan dari mantan Perdana Menteri (PM) Australia, Bob Hawke, mengklaim bahwa dirinya diminta sang ayah untuk bungkam soal pemerkosaan yang dialaminya karena sang ayah khawatir akan merusak karier politiknya. Pemerkosaan itu diduga dilakukan salah satu sekutu politik Hawke.

Seperti dilansir AFP, Senin (9/12), informasi mengejutkan ini dilaporkan oleh media lokal Australia, New Daily, pada akhir pekan. Informasi ini diungkapkan Rossyln Dillon yang merupakan anak perempuan Hawke, saat dia mengajukan gugatan harta warisan ke pengadilan setempat.

Laporan New Daily menyebut bahwa Dillon diperkosa sebanyak tiga kali oleh seorang anggota parlemen Australia dari Partai Buruh -- yang tidak disebut namanya -- pada tahun 1980-an silam. Menurut dokumen pengadilan, Dillon mengakui ayahnya -- salah satu PM Australia paling populer -- menyuruh dirinya untuk tidak melaporkan pemerkosaan yang dialaminya saat itu, demi menghindari kontroversi menjelang pemilihan ketua Partai Buruh tahun 1982 lalu.

Tindak pemerkosaan itu terjadi saat Hawke masih menjadi anggota parlemen Australia dan berniat mengajukan diri menjadi ketua Partai Buruh serta berniat menjadi PM Australia. Pada tahun 1982 silam, Hawke gagal menjadi ketua Partai Buruh.

Namun dia berhasil mencapai tujuannya setahun kemudian, atau pada tahun 1983. Hawke menjabat ketua Partai Buruh dan PM Australia antara tahun 1983 hingga 1991 lalu. Hawke meninggal dunia pada usia 89 tahun pada Mei lalu.

Dillon mengajukan gugatan ke pengadilan setelah hanya menerima US$ 750 ribu (Rp 10,3 miliar) sebagai warisan dari mendiang ayahnya. Dalam gugatannya, Dillon mengklaim AUS$ 4 juta (Rp 37,7 miliar) sebagai bagian haknya dari warisan sang ayah. Menurut New Daily, ada sejumlah ketidaksesuaian dalam klaim yang disampaikan Dillon, termasuk soal kerangka waktu dari peristiwa tertentu yang tercatat.

Saudara perempuan Dillon, Sue Pieters-Hawke, menyatakan bahwa pihak keluarga mengetahui adanya klaim tersebut sebelumnya dan dia menganggapnya sangat mengganggu. "Dia memberitahu orang-orang pada saat itu. Saya meyakini ada respons yang suportif namun tidak melibatkan sistem hukum," ucapnya. Dillon dilaporkan masih 'dihantui oleh tindak kekerasan seksual' tersebut dan mungkin akan mendapat kejelasan jika dia bisa melaporkannya ke polisi. (AFP/detikcom/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments