Minggu, 08 Des 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Presiden Suriah: Tragedi Paris Merupakan Pil Pahit Kebijakan Prancis

Presiden Suriah: Tragedi Paris Merupakan Pil Pahit Kebijakan Prancis

* ISIS Ancam Serang Rusia Secepatnya
Minggu, 15 November 2015 14:18 WIB
Damascus (SIB)- Presiden Suriah Bashar al-Assad menanggapi serangan di Paris. Dalam pernyataannya, Bashar al-Assad mengatakan, tragedi yang menimpa kota menara Eiffel, yang menewaskan lebih dari 120 orang, merupakan ‘pil pahit’ dari kebijakan Prancis selama ini. Assad mengungkapkan bahwa kebijakan Prancis berkontribusi bagi “penyebaran terorisme,” yang diwujudkan dalam aksi serangan di Paris, yang telah diklaim dilakukan oleh ISIS.
Assad mengutarakan argumen tersebut saat bertemu dengan delegasi anggota Parlemen Prancis di Damaskus. “Serangan teroris yang menargetkan ibu kota Prancis tidak bisa dipisahkan dari apa yang terjadi di Beirut, Lebanon belakangan ini. Dan dari apa yang telah terjadi di Suriah dalam lima tahun terakhir, termasuk di wilayah-wilayah lainnya,” demikian kata Assad seperti dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (14/11). Assad menjelaskan pernyataan tersebut merujuk pada dua aksi pemboman yang menewaskan 44 orang, Kamis (12/11). Pemboman tersebut diklaim dilakukan oleh ISIS di pinggiran kota Beirut, yang merupakan area kekuasaan kelompok Syiah, Hezbollah, sekutu Bashar Assad.

Assad sendiri menganggap seluruh kelompok pemberontak yang memerangi pasukannya di Suriah adalah “teroris,” bukan hanya ISIS.

Assad mengatakan bahwa dirinya telah mengingatkan: “akan ada serangan yang menimpa Eropa atas apa yang mereka perbuat dalam tiga tahun terakhir.”
“Kami bilang, jangan anggap enteng apa yang terjadi di Suriah. Sayangnya, pejabat-pejabat Eropa tidak mendengarkan kami,” tukas Assad kepada delegasi Parlemen Prancis yang disiarkan radio Europe 1 Prancis.

Lebih lanjut, Assad menyarankan: Presiden Francois Hollande harus merubah kebijakannya. “Pertanyaan yang menyebar di kalangan rakyat Prancis saat ini adalah: apakah kebijakan Prancis dalam lima tahun terakhir sudah benar? Jawabannya tidak!” tegas Assad.

Prancis menjadi negara pendukung utama oposisi Suriah sejak meluasnya akis protes terhadap rezim Assad pada 2011. Prancis juga merupakan bagian dari koalisi pimpinan AS yang melancarkan serangan udara terhadap ISIS di Suriah dan Irak. Prancis melancarkan serangkaian serangan udara di Irak selama lebih dari setahun, dan serangan itu juga meluas ke Suriah pada September.

Ancam Serang Rusia Secepatnya
Kelompok militan ISIS mengunggah video baru beserta pernyataan audio berisi ancaman untuk menyerang Rusia "secepatnya." Dalam audio visual berdurasi lima menit tersebut, terlihat kompilasi gambar propaganda ISIS dan potongan video kota-kota dan bangunan di Rusia diiringi nyanyian berbahasa Rusia.

CNN, Jumat (12/11) belum dapat melakukan verifikasi keaslian video tersebut. Namun, video tersebut memang diunggah dalam akun media sosial yang berafiliasi dengan ISIS. Kantor berita Rusia, Sputnik, memberitakan bahwa aparat keamanan Rusia sedang berusaha melakukan verifikasi keaslian video itu.

"Saya sudah membaca berita mengenai video ini, tapi belum menontonnya sendiri. Saya tidak tahu keaslian video ini, dan saya tidak tahu kebenaran sumber-sumber ini. Namun, saya yakin materi ini akan dicermati oleh badan khusus kami," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Video bertajuk Soon Very Soon, the Blood Will Spill like an Ocean ini diunggah hanya berselang dua pekan setelah pesawat Rusia mengalami kecelakaan di Mesir. Kelompok Mesir yang berafiliasi dengan ISIS mengklaim menjadi dalang di balik insiden yang menewaskan 224 orang tersebut.

Rusia langsung menampik klaim tersebut. Namun pada Jumat (6/11), ISIS kembali meyakinkan klaim mereka dengan mengunggah sebuah video. Dalam video yang diunggah melalui sayap media ISIS di Aleppo tersebut, kelompok militan ini memuji para "pejuang singa" mereka di Sinai karena berhasil menjatuhkan pesawat Rusia. Video berjudul Healing Souls by Killing Russians itu tak menjabarkan dengan jelas bagaimana ISIS menjatuhkan pesawat tersebut. Namun, mereka menggambarkan aksi tersebut sebagai upaya balas dendam atas serangan udara Rusia di Suriah.

Rusia melancarkan serangan udara di Suriah untuk menggempur ISIS demi membela rezim Presiden Bashar al-Assad sejak 1 Oktober. Kendati demikian, CNN memberitakan bahwa ISIS sudah mengancam Rusia bahkan sebelum serangan udara tersebut dilancarkan. (AFP/R17/CNNIndo/c)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments