Sabtu, 23 Nov 2019

Pertama Kali, Obama Kritik Langsung Donald Trump

* Duterte Salahkan Trump Atas Inflasi di Filipina
Minggu, 09 September 2018 13:23 WIB
Washington (SIB) -Barack Obama mengkritik keras Partai Republik karena tidak bisa mengendalikan Presiden Donald Trump dalam pidato politik pertamanya yang bertujuan mendorong Partai Demokrat menjelang pemilu sela penting.  Sejak menyelesaikan masa jabatannya, presiden AS ke-44 ini menghindari untuk mengkritik langsung penerusnya itu dan tidak pernah menyebut nama Trump dengan penuh perhitungan. Tetapi pada Jumat (7/9) topeng itu dibuka. "Apa yang terjadi dengan Partai Republik?" tanya Obama sembari menuduh Donald Trump "memanfaatkan ketakutan dan kemarahan."

Terkait kegaduhan yang terjadi minggu ini, yaitu dugaan ada kelompok "perlawanan" di dalam Gedung Putih, Obama mengecam ide bahwa "semua akan berakhir baik" karena pada kenyataannya sebagian staf Trump diam-diam tidak melakukan perintah atasan mereka. 

"Demokrasi kita tidak seharusnya berjalan seperti itu," kata Obama yang merujuk pada buku baru karya wartawan investigasi Bob Woodward yang menggambarkan para pembantu Trump berjuang untuk mengekang presiden yang penuh amarah dan kurang informasi itu. 

Mantan presiden dari Partai Demokrat ini juga mengecam keras Partai Republik dan menyebutnya "tidak mau mencari keberanian" untuk menentang langsung Trump. Dia menuduh partai itu menjawab keputusan "sembrono" dengan "pernyataan kekecewaan yang sumir." "Mereka tidak membantu kita dengan mempromosikan secara aktif 90 persen keputusan Gedung Putih, dan mengatakan, "Jangan khawatir, kami mencegah yang 10 persen,'" ujarnya. 

Pidato Obama di aula satu universitas di Illinois itu menandai serangan pembuka dari serangkaian kampanye untuk membantu caleg partai Demokrat di pemilihan sela November mendatang. Pemilu sela ini akan mempertaruhkan sebagian besar kursi Kongres dan 36 jabatan gubernur negara bagian. 

Dalam pidato yang berisi berbagai isu dan seringkali diselingi oleh tepuk tangan, Obama mengkritik politik perpecahan saat ini. Dia mengecam serangan Trump pada media dan sistem yudisial, juga terhadap semangat Trump untuk bekerja sama dengan Rusia namun meninggalkan negara sekutu AS. 

Tetapi dia menyuarakan harapan terkait mobilisasi pemberi suara Partai Demokrat. "Di dalam kegelapan politik ini saya melihat ada kebangkitan warga di seluruh pelosok negeri," kata Obama. Dengan menyebut nama presiden AS, Obama mengatakan Trump adalah satu "gejala, bukan penyebab" dari sakit yang melanda politik nasional Amerika Serikat. 

Presiden Trump yang sedang berada di North Dakota membalas serangan pendahulunya itu dengan mengatakan kepada peserta acara penggalangan dana: "Saya menonton, tetapi saya tertidur." "Menurut saya dia bagus, bagus untuk membuat kita tertidur." Ketika menyerang visi dan misi utama dalam kampanye Partai Republik, Obama menantang klaim partai itu atas perbaikan ekonomi negara itu. 

"Jika anda mendengar betapa bagus ekonomi saat ini, coba diingat kapan perbaikan ini dimulai," ujarnya sambil membeberkan bagaimana dia mewarisi kekacauan ekonomi ketika pertama kali menjabat sebagai presiden dan meninggalkan jabatan itu ketika perbaikan ekonomi terjadi.

Trump membalas dengan merujuk pada angka pertumbuhan ekonomi AS di kuartal kedua sebesar 4,2 persen dan menuduh Obama "mencoba mengambil kredit dari hal luar biasa yang kini trjadi." Dia mengatakan jika Partai Demokrat menjadi mayoritas di Kongres dua tahun lalu, "sejujurnya ekonomi bukan tumbuh 4,2 persen, tetapi turun 4,2 persen." 

SALAHKAN TRUMP
Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas inflasi tinggi yang terjadi di Filipina. Komentar Duterte ini mengejutkan mengingat pemimpin yang kerap berkata kasar itu, selama ini menunjukkan sikap hangatnya pada AS dan Donald Trump setelah terpilih menjadi presiden. Berbeda ketika Barack Obama masih menjadi presiden, Duterte kerap melancarkan kritikan tajam terhadap pemerintah AS dan menghina Obama.

Ketika ditanya mengenai inflasi 6,4 persen pada Agustus lalu, yang tertinggi di Filipina dalam 9 tahun terakhir, Duterte menyalahkan kebijakan-kebijakan ekonomi Trump. "Siapa yang memulai itu? Amerika. Ketika Amerika menaikkan suku bunganya, semua orang juga menaikkan suka bunga mereka. Seperti itulah. Tidak ada yang bisa kita lakukan," ujar Duterte kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (8/9).

"Karena Amerika.... Trump menginginkan itu. Bahkan pajak-pajak seperti pajak cukai, mereka menaikkannya," tutur Duterte. Namun Duterte tidak menjelaskan bagaimana kebijakan ekonomi AS bisa berdampak pada inflasi di Filipina.

Duterte juga menekankan bahwa dirinya tidak marah pada Trump yang disebutnya 'teman' itu. "Saya akan bicara dengan teman Trump," kata Duterte. "Saya tak ada masalah dengan rakyat Amerika, tidak sedikit pun... tidak kesal terhadap Trump," imbuhnya. (CNNI/Detikcom/h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments