Senin, 22 Apr 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Pengungsi Venezuela Jual Perhiasan hingga Rambut untuk Bertahan Hidup

Ribuan Warga Mengungsi Setiap Hari

Pengungsi Venezuela Jual Perhiasan hingga Rambut untuk Bertahan Hidup

* Venezuela Tahan Lima Wartawan Asing
admin Jumat, 01 Februari 2019 14:32 WIB
SIB/AFP
Dihadapan barikade pasukan militer, seorang demonstran mengibarkan bendera Venezuela saat massa menggelar aksi demo anti Presiden Nicolas Maduro, di Caracas, Kamis (31/1). Ribuan demonstran kembali turun ke jalan mendesak militer agar menolak kepemimpinan Presiden Maduro.
Caracas (SIB) -Krisis politik melanda Venezuela. Akibat situasi tidak menentu itu, nyaris 5 ribu warga Venezuela meninggalkan negara tersebut setiap harinya. Angka tersebut disampaikan oleh Badan Pengungsi PBB, UN High Commissioner for Refugees (UNHCR). Juru bicara UNHCR, Joung-ah Ghedini-Williams mengatakan, warga Venezuela memilih untuk angkat kaki dari negara mereka dikarenakan "instabilitas dan ketidakpastian" di tengah krisis mengenai kepresidenan Venezuela. "Brasil, Kolombia, Ekuador dan Peru masih menjadi negara-negara yang menerima jumlah terbesar warga Venezuela," tutur Ghedini-Williams saat konferensi pers di markas besar PBB di New York, seperti dilansir media Anadolu Agency, Kamis (31/1).

Data UNHCR menunjukkan, sekitar 3 juta warga Venezuela telah meninggalkan negara tersebut sejak tahun 2015. Hiperinflasi dan kekurangan barang-barang kebutuhan pokok, seperti makanan dan obat-obatan, telah memaksa jutaan orang tersebut meninggalkan negara itu.

Pada siang hari yang terik, ribuan warga Venezuela berjubel di Jembatan Simon Bolivar dan hendak menuju Kolombia. Dengan membawa koper, membawa kereta bayi, hingga kanvas, mereka menuju negara di mana segepok uang yang mereka bawa tidak berarti apa-apa. Inflasi hingga 80.000 persen di Venezuela membuat gaji yang mereka dapatkan menjadi tidak berguna, dan menyulut serangkaian aksi kekerasan serta kemiskinan.

Di kota perbatasan seperti diwartakan Daily Mirror Rabu (30/1), kebanyakan para pengungsi itu datang dalam keadaan lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Di antara pengungsi itu terdapat keluarga kecil Graicel Sulado, suaminya Franyer Suarez, serta putra mereka yang berusia 10 tahun Adrian. Dia berusaha tegar. Namun berkali-kali dia menyeka air matanya karena tidak menyangka, mereka bakal hidup dalam kondisi serba kekurangan. "Saya ingin menangis. Saya hanya tak menyangka hal ini bakal terjadi dalam kehidupan kami," kata perempuan berusia 29 tahun itu.
Sulado mengatakan, mereka datang ke Kolombia tanpa mempunyai uang untuk sekadar membayar makanan dan minuman selama perjalanan. Sementara Suarez mengeluhkan dia dulunya mempunyai pekerjaan yang bagus. Namun kini, hasilnya tidak cukup untuk sepotong roti. "Saya sampai tidak bisa tidur karena saya khawatir tentang nasib kami. Kota Barquisimento tempat kami tinggal tidak aman, di mana polisi dan tentara di mana-mana," tuturnya. Karena para pengungsi itu datang dalam keadaan tidak punya uang, mereka menjual segala kepunyaan mereka untuk bertahan hidup.

Dalam keadaan putus asa, para pengungsi itu memilih untuk menjual rambut dan mengenakan wig demi mendapat sedikit uang. Para pedagang rambut itu bakal membayar antara 10-60 poundsterling, sekitar Rp 180.000-1 juta, tergantung panjang maupun kondisi rambut. Ketika jurnalis Mirror mendekati salah satu pedagang rambut itu, salah satunya mengangkat tangan untuk menunjukkan mereka tidak diterima. Selain itu, ada juga yang menjual perhiasan berharga seperti cincin, arloji, gelang, maupun kalung dalam upaya ke Kolombia. Sementara para perempuan muda yang datang sendiri dilaporkan dipikat oleh pria yang mereka temui untuk terjun ke industri seks. "Banyak kekerasan di jalan saat ini. Orang-orang bakal berbuat apa saja untuk mendapat uang," terang Dajarlene Rodriquez yang datang bersama putrinya, Victoria.

Pekan lalu, pemimpin oposisi yang menjabat sebagai ketua parlemen Venezuela, Juan Guaido memproklamirkan dirinya sebagai presiden sementara negeri itu. Langkah Guaido dengan cepat mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Lebih dari 20 negara telah mengikuti langkah AS dalam mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela. Namun demikian, sejumlah negara seperti Rusia, China, Meksiko dan Turki menyatakan secara terbuka bahwa mereka mendukung Maduro.

Menanggapi situasi itu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan cepat memutus hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Maduro pun menuding AS mendalangi upaya kudeta terhadap pemerintahannya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Venezuela menghadapi krisis ekonomi yang akut dan telah terjadi aksi-aksi demo yang diwarnai kerusuhan dan kekerasan. Aksi protes telah digelar di seluruh negeri sejak Maduro memulai masa jabatan keduanya pada 10 Januari lalu.
Dia terpilih tahun lalu dalam pemilu kontroversial yang ditandai larangan kepada kandidat oposisi untuk dapat dicalonkan, atau bahkan dipenjara. Menurut PBB, setidaknya 40 orang diyakini telah tewas dan ratusan orang lainnya ditangkap sejak 21 Januari lalu.
Tahan Lima Wartawan Asing

Aparat Venezuela menahan lima wartawan asing yang meliput krisis politik di negara itu. Mereka terdiri dari dua wartawan Prancis, dua lainnya dari Kolombia, dan satu orang berasal dari Spanyol. Dua wartawan Kolombia dan seorang dari Spanyol bekerja untuk kantor berita Efe asal Negeri Matador. Kepala biro Efe di Kolombia, Nelida Fernandez, mengatakan ketiganya sengaja dikirim ke Venezuela untuk meliput krisis politik dan ekonomi yang semakin pelik.

Sementara itu, dua wartawan Prancis bekerja untuk program televisi Quotidien dan ditahan sejak Selasa (29/1) lalu. Selain kelima jurnalis tersebut, dua wartawan televisi asal Chili telah lebih dulu ditahan dan dideportasi. Menteri Luar Negeri Chili, Roberto Ampuero mengatakan dua warganya itu ditangkap pada Selasa malam di dekat istana presiden. Dia menuturkan otoritas Venezuela beralasan penangkapan dilakukan karena kedua wartawan itu meliput di "zona keamanan".

Ampuero menuturkan mereka ditahan selama 14 jam sebelum diusir dari Venezuela. "Inilah yang dilakukan kediktatoran. Menginjak kebebasan pers," ucap Ampuero melalui Twitternya, seperti dikutip AFP pada Kamis (31/1). Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wartawan asing ditahan dan diusir dari Venezuela. Rezim pemerintah setempat beralasan pengusiran dilakukan karena para jurnalis itu tak memiliki izin pers.

Tanpa menyinggung penangkapan terbaru, Menlu Venezuela Jorge Arreaza mengatakan para wartawan asing telah memasuki negaranya tanpa izin kerja yang semestinya. Krisis politik Venezuela semakin pelik terutama setelah Presiden Majelis Nasional, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai pemimpin interim negara di Amerika Selatan itu dan menantang rezim Maduro.

Guaido juga telah meminta militer membelot dari rezim pesaingnya dengan imbalan amnesti. Langkah Guaido didukung sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jerman, Kanada, hingga Brasil, dan Kolombia. Hal itu juga membuka kemungkinan bagi pihak ketiga menjadi penengah bagi kedua belah pihak yang tengah bertikai. Kemelut semakin rumit saat sejumlah pihak, termasuk Amerika Serikat mengakui kepemimpinan politikus berusia 35 tahun itu. Di sisi lain, Rusia yang menjadi sekutu rezim terus mendukung Maduro. (Anadoluagency/Mirror/Kps/AFP/CNNI/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments