Selasa, 29 Sep 2020

Pemimpin Korut Instruksikan Perbanyak Peluncuran Satelit

Selasa, 16 Februari 2016 13:08 WIB
Seoul (SIB)- Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un berjanji menempatkan satelit lebih banyak di ruang angkasa, meskipun masyarakat internasional menyiapkan sanksi bagi rezim tersebut atas peluncuran roket jarak jauh pekan lalu.

Dalam jamuan makan untuk mengucapkan selamat kepada para ilmuwan, teknisi, dan pejabat yang berperan dalam peluncuran 7 Februari lalu, Kim menegaskan bahwa misi itu dilakukan pada "waktu yang rumit ketika pasukan lawan bersikap lebih memusuhi" Korut, demikian laporan Kantor Berita resmi Korut KCNA sebagaimana dikutip AFP melaporkan, Senin (15/2).

Korut memicu kemarahan internasional atas peluncuran satelit Kwangmyongsong-4 yang dilakukan hanya sebulan setelah uji coba nuklir keempat.

Peluncuran yang mengundang perhatian hampir semua masyarakat internasional karena dianggap sebagai uji coba terselubung peluru kendali balistik tersebut melanggar sejumlah pasal resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melarang negara bersenjata nuklir menggunakan teknologi balistiknya.

Kim menyatakan bahwa keberhasilan peluncuran terwujud karena kepercayaan tim terhadap partai berkuasa dan menambahkan bahwa kerja keras para ilmuwan dalam menyediakan bahan bakar utama roket tersebut.

Dia memerintahkan para ilmuwan dan teknisi memanfaatkan keberhasilan tersebut sebagai batu loncatan untuk mencapai sasaran yang lebih tinggi sehinga harus bekerja lebih keras untuk peluncuran nuklir, demikian KCNA.

Amerika Serikat bersama dengan sekutunya di Asia, seperti Korea Selatan dan Jepang, memelopori berbagai upaya di Dewan Keamanan PBB untuk menyusun resolusi lebih kuat yang akan memberikan sanksi lebih berat kepada Pyongyang atas uji coba nuklir dan peluncuran roket.

Korut melakukan peledakan nuklir keempat pada 6 Januari 2016 di Punggye-ri atau sekitar 50 kilometer (30 mil) barat laut Kota Kilju.   

Media Korut melaporkan bahwa rezim Kim telah berhasil menguji bom hidrogen. Namun, para ilmuwan sebagai pihak ketiga serta pejabat dan lembaga di Korsel meragukan klaim rivalnya itu.

Korsel berpendapat bahwa perangkat seperti itu lebih cocok digunakan untuk bom fusi seperti fusi senjata pendorong.

Senjata tersebut menggunakan fusi hidrogen untuk menghasilkan daya ledak lebih kecil, hulu ledak lebih cocok digunakan untuk mempersenjatai perangkat pengiriman senjata seperti rudal, bukan untuk mencapai kekuatan destruktif sebagaimana bom hidrogen yang sebenarnya. (AFP/Ant/l)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments