Minggu, 17 Nov 2019

Pemimpin Demonstran Hong Kong Diserang dengan Palu

bantors Jumat, 18 Oktober 2019 20:03 WIB
SIB/Telegram
Pemimpin protes Hong Kong, Jimmy Sham, tergeletak di jalanan dengan kepala mengeluarkan darah setelah diserang sekelompok orang tak dikenal yang bersenjatakan palu di distrik Mong Kok pada Rabu (16/10) malam waktu setempat.
Hong Kong (SIB) -Pemimpin demonstran Hong Kong, Jimmy Sham, diserang oleh sekelompok orang tak dikenal yang bersenjatakan palu. Sham dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi berlumuran darah. Seperti dilansir AFP, Kamis (17/10), Front HAM Sipil (CHRF) dalam pernyataannya menyebut pemimpin organisasi mereka, Sham, diserang oleh sekitar 4-5 orang yang bersenjatakan palu di distrik Mong Kok pada Rabu (16/10) malam waktu setempat. CHRF menyebut serangan itu sebagai aksi 'teror politik'. "Dia (Sham-red) mengalami luka berdarah di kepala dan dibawa ke rumah sakit Kwong Wah," sebut CHRF dalam pernyataannya.

Sham dilaporkan masih dalam kondisi sadarkan diri saat paramedis tiba di lokasi kejadian. Foto-foto yang diunggah via online menunjukkan Sham yang memakai kaos warna merah, tergeletak di jalanan di atas genangan darah. "Tidak sulit untuk mengaitkan insiden ini dengan teror politik yang sedang meluas untuk mengancam dan menghalangi penegakan hak-hak dasar dan hak-hak hukum," imbuh CHRF dalam pernyataannya. Dalam postingan via Facebook, CHRF menyebut sejumlah orang berusaha menolong Sham, namun para penyerang mengancam mereka dengan pisau.

Diketahui bahwa Sham merupakan juru bicara utama dari CHRF, sebuah kelompok yang menyuarakan gerakan antikekerasan dan menggelar serangkaian aksi damai pada awal musim panas ini. CHRF diketahui ikut memprotes rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang mengatur ekstradisi ke China daratan.

Ini adalah kedua kalinya Tuan Sham diserang sejak protes dimulai. CHRF mengaitkan serangan itu dengan para pendukung pemerintah, yang dicurigai menyerang aktivis pro-demokrasi lainnya dalam beberapa bulan terakhir. "Tidak sulit untuk
menghubungkan insiden ini dengan teror politik yang menyebar untuk mengancam dan menghambat pelaksanaan yang sah dari hak-hak alam dan hukum," kata CHRF dalam sebuah pernyataan

Unjuk rasa besar-besaran yang dimulai empat bulan lalu di Hong Kong awalnya bertujuan memprotes RUU ekstradisi, yang kini telah dicabut. Saat ini, unjuk rasa meluas menjadi gerakan menuntut reformasi demokrasi dan meminta polisi bertanggung jawab atas serentetan tindak kekerasan saat menangani demonstran. Sejumlah aktivis Hong Kong telah diserang oleh massa pro-China beberapa bulan terakhir. Sham sendiri sebelumnya pernah diserang pada Agustus lalu. (Detikcom/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments