Senin, 21 Okt 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Pemilu Israel Dimulai, Netanyahu Bersaing Ketat dengan Eks Panglima Militer

Pemilu Israel Dimulai, Netanyahu Bersaing Ketat dengan Eks Panglima Militer

admin Rabu, 18 September 2019 20:26 WIB
Reuters/Nir Elias, Ariel Schalit/Pool via Reuters
PM Israel Benjamin Netanyahu (kanan) dan kandidat Benny Gantz bersiap mengikuti pemilihan umum, Selasa (17/9). Pemilihan ini akan menentukan pemimpin Israel periode selanjutnya, tetap Netanyahu atau bergulir ke tangan penggantinya.
Tel Aviv (SIB) -Israel membuka serentak seluruh tempat pemungutan suara, Selasa (17/9), tanda pemilihan umum yang menjadi medan pertempuran antara Benjamin Netanyahu dan Benny Gantz dimulai. Tempat-tempat pemungutan suara (TPS) dibuka pada pukul 07.00 waktu setempat dan ditutup pukul 22.00 waktu setempat.

Tak mau melewatkan kesempatan, para warga dilaporkan langsung memadati TPS. Di sebuah TPS di Yerusalem, para pemilih tiba begitu TPS dibuka. "Saya pikir Bibi (nama panggilan Netanyahu) harus pergi," ujar Gruny Tzivin, seorang guru berumur 37 tahun. "Setelah bertahun-tahun lamanya, ini waktunya untuk perubahan dan saya pikir itu sesuai dengan apa yang saya yakini untuk negara ini," imbuhnya.

Secara keseluruhan, 6,4 juta warga menggunakan hak suaranya dalam pemilu putaran kedua ini. Mereka akan menentukan pemimpin Israel periode selanjutnya, apakah tetap Netanyahu atau penggantinya. Hasil hitung cepat pertama akan dirilis begitu pemungutan suara ditutup, sedangkan hasil resmi baru akan diumumkan pada Rabu (18/9).

Dalam pemilu ini, Netanyahu berhadapan dengan delapan penantang lainnya. Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dirilis pada Jumat pekan lalu, Netanyahu diprediksi akan bersaing ketat dengan Benny Gantz dari koalisi Biru dan Putih. Gantz merupakan mantan panglima militer Israel.

Pemilu ini merupakan yang kedua kalinya digelar Israel dalam lima bulan terakhir. Pemungutan suara digelar menyusul kegagalan Netanyahu membentuk pemerintahan meski partainya, Likud, telah memenangkan pemilu pada April lalu.

Netanyahu memutuskan menggelar pemilu lagi untuk menghindari Presiden Rauven Rivlin menunjuk orang lain membentuk pemerintahan di parlemen. Netanyahu merupakan PM terlama Israel yang telah menjabat selama empat periode sejak 1996-1999 dan 2009-2019. Kegagalan membentuk pemerintahan pada April lalu dianggap sebagai kekalahan terbesar Netanyahu dalam karier politiknya.

Bagi pendukungnya, Gantz merupakan kepribadian yang bertolak belakang dengan Netanyahu. Namun, para pakar menganggap Gantz hanya ingin menonjolkan citra kepribadian yang berbeda, padahal kebijakannya sama saja, terutama terkait keamanan. Meski demikian, Gantz dianggap sangat lihai menarik perhatian publik dengan janji bakal menerapkan "nol toleransi" bagi korupsi.

Saat ini, Netanyahu sendiri sedang terseret berbagai kasus korupsi. Ia bahkan bakal menghadiri salah satu sidang pada Oktober mendatang, membuat popularitasnya kian merosot menjelang pemilu. Sejumlah pengamat menilai Gantz memiliki kans besar untuk meraih banyak suara dari masyarakat yang sudah muak akan kepemimpinan Netanyahu. (Detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments