Selasa, 12 Nov 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Pemberontak Suriah yang Didukung Turki Lakukan Kejahatan Perang kepada Milisi Kurdi

Pemberontak Suriah yang Didukung Turki Lakukan Kejahatan Perang kepada Milisi Kurdi

redaksi Selasa, 05 November 2019 15:04 WIB
suara.com
Ilustrasi
New York (SIB)
Pemberontak Suriah yang didukung Turki diduga melakukan kejahatan perang atas milisi Kurdi, dengan rekaman kebrutalan mereka beredar. PBB sudah memperingatkan bahwa Ankara bakal bertanggung jawab atas apa yang diperbuat sekutu mereka, yang direspons dengan janji untuk mengusut. Dalam rekaman yang diduga diambil dari ponsel, nampak seorang anggota pemberontak yang berjenggot berteriak mengucapkan takbir. "Kami adalah pejuang dari Batalyon Faylaq Al-Majd (Korps Kemuliaan)," ujar si pria dengan latar belakang mayat dari milisi Kurdi.

Dalam rekaman mengerikan itu, kelompok yang disokong Turki itu menginjak seorang jenazah perempuan, dengan ada yang mengatakan dia sebagai "PSK". Diketahui, pria itu adalah bagian dari Tentara Nasional Suriah (SNA), dilatih dan dipersenjatai, serta berada dalam komando Turki langsung. Dilansir BBC Sabtu (2/11), video itu direkam pada 21 Oktober di utara Suriah, dengan mayat perempuan yang dia injak adalah Amara Renas. Dia merupakan Unit Perlindungan Perempuan Kurdi (YPJ), milisi yang memberi dampak pada kekalahan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Pada 9 Oktober, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan Operation Peace Spring dengan klaim menciptakan "zona aman" bagi pengungsi. Beberapa hari setelah serangan, sejumlah video menyebar dengan salah satu pemberontak berteriak "Kami datang untuk memenggal kalian orang kafir dan murtad".

Dalam rekaman lainnya, seorang perempuan dikelilingi oleh milisi lainnya. "Cepat, bawa dia untuk dipenggal," terang pria itu. Wanita yang ditangkap itu merupakan Cicek Kobane yang juga anggota YPJ. Rekaman tersebut menuai kemarahan setelah beredar.
Beberapa hari pasca-muncul, stasiun televisi Turki menayangkan bahwa Cicek Kobane sedang mendapat perawatan di rumah sakit lokal.

Utusan Khusus ASuntuk Suriah James Jeffrey kepada Kongres menyatakan, beberapa tayangan menunjukkan dugaan kejahatan perang. "Banyak orang melarikan diri karena mereka begitu khawatir dengan perbuatan yang akan dilakukan pasukan pemberontak Suriah yang disokong Turki," kata Jeffrey.

Mantan Utusan AS untuk Koalisi Melawan ISIS Brett McGurk kepada CNN Oktober lalu berujar, dia mengelola kampanye melawan ekstremis itu. "Sebanyak 40.000 kombatan dari 110 negara. Semuanya datang ke Suriah di mana mereka melewati Turki," sindir McGurk dalam wawancara. Dia mengungkapkan sudah mencoba membujuk Turki untuk menutup perbatasan mereka guna memblokir ISIS. Tetapi Ankara menolak. "Tetapi hanya dalam waktu semenit ketika Kurdi mulai berpartisipasi dalam koalisi, mereka dengan sigap menutup perbatasan mereka," kecamnya.

Pejabat Washington menuturkan, mereka akan meminta penjelasan dari pemerintahan Erdogan terkait dugaan kejahatan perang dari proksi mereka. Ankara melalui juru bicara pemerintahan Ibrahim Kalin merespons dengan menjanjikan pihaknya bakal segera melaksanakan pengusutan. (BBC/kps/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments