Rabu, 19 Feb 2020

Jelang Berakhirnya Tenggat Waktu Brexit

PM Boris Perpanjang Masa Reses Parlemen Inggris

admin Jumat, 30 Agustus 2019 20:22 WIB
Boris Johnson
London (SIB) -Sebuah petisi online digalang untuk menentang langkah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memperpanjang masa reses parlemen hingga jelang tenggat Brexit. Johnson memperpanjang masa reses hingga 14 Oktober mendatang atau dua pekan menjelang tenggat Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit. Dikutip AFP, petisi yang dibuat Rabu (28/8) itu berhasil mengumpulkan lebih dari satu juta tanda tangan hanya dalam beberapa jam. Di situsnya, petisi menyatakan "parlemen tidak boleh diliburkan kecuali dan sampai" tenggat Inggris keluar dari Uni Eropa yang dijadwalkan 31 Oktober, diperpanjang atau dibatalkan.

Pemerintahan Inggris memang biasanya diliburkan menjelang pidato kerajaan. Namun, situasi saat ini dianggap cukup genting karena menjelang tenggat Brexit. Dengan keputusan memperpanjang masa reses ini, maka parlemen tak punya kesempatan untuk menjegal langkah Johnson yang ingin keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apa pun. Johnson sendiri akan menghadiri pertemuan Uni Eropa untuk terakhir kalinya pada 17 Oktober.

Tom Watson selaku wakil pemimpin partai oposisi terbesar Inggris, Partai Buruh, pun menganggap keputusan Johnson ini melanggar prinsip demokrasi. "Tindakan ini benar-benar penuh skandal dan bertentangan dengan demokrasi kami. Kami tidak bisa membiarkan ini terjadi," ucap Watson. Juru bicara Partai Brexit Demokrat Liberal, Tom Brake, juga mengecam keputusan tersebut. Ia bahkan menyebut keputusan Johnson itu sebagai deklarasi perang.

Pemerintahan Johnson membantah perpanjangan masa reses parlemen adalah taktik politik untuk menghalangi oposisi membentuk koalisi untuk menunda Brexit. Menteri senior kabinet yang menangani Brexit, Michael Gove, menyampaikan ada banyak waktu untuk membahas Brexit sebelum tenggat 31 Oktober. Namun, kubu oposisi dengan lantang menyuarakan kemarahannya terhadap keputusan pengganti Theresa May itu. Mereka mengecam pembekuan ini sama saja seperti kudeta politik untuk memuluskan keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan atau No Deal.

Rekan separtai Johnson, mantan Menteri Keuangan Philip Hammond yang berbeda haluan politik dengan Johnson mengenai Brexit, mencerca perpanjangan masa reses sebagai tindakan yang sangat tidak demokratis. Pembekuan berpotensi mengacaukan rencana kubu oposisi untuk merancang legislasi menghentikan No Deal. Penyebabnya adalah semakin pendeknya waktu bersidang akibat pembekuan. Para anggota akan kembali ke parlemen pada 3 September. Yang berarti oposisi hanya punya waktu sepekan sebelum pembekuan pada 9 September. Dua pekan yang tersisa dari 14 Oktober hingga 31 Oktober dikhawatirkan oposisi terlalu mepet untuk mencegah No Deal.

Salah satu solusi lain yang sedang dipersiapkan oposisi adalah mosi tidak percaya terhadap pemerintahan Johnson yang, jika berhasil, akan mengantarkan rakyat Inggris ke bilik suara untuk memilih di pemilu dini. (CNNI/kps/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments