Rabu, 18 Sep 2019

PM Boris Johnson Lebih Pilih Mati Daripada Menunda Brexit

* Berbicara Lebih 1 Jam, Taruna Polwan Pingsan
admin Sabtu, 07 September 2019 14:51 WIB
dailymail
PINGSAN: PM Inggris Boris Johnson menyaksikan seorang kadet polwan pingsan saat mendengarkan pidato Johnson lebih dari sejam ketika mengunjungi pusat pelatihan West Yorkshire Constabulary di London, Kamis (6/9).
London (SIB) -Usai dua kali menelan kekalahan di parlemen, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kini kembali menyampaikan pernyataan kontroversial. Dia mengaku lebih memilih mati ketimbang kembali meminta penundaan tenggat pengunduran diri negara itu dari Uni Eropa (Brexit). "Saya lebih baik mati di selokan daripada harus meminta Uni Eropa kembali menunda Brexit," kata Johnson saat berpidato di Akademi Kepolisian Wakefield, West Yorkshire, seperti dilansir AFP, Jumat (6/9).

Dalam pemungutan suara Rabu lalu, parlemen memutuskan menentang rencana Johnson untuk melakukan proses pengunduran diri negara itu dari Uni Eropa (Brexit) tanpa kesepakatan. Mereka juga menolak mendukung usul Johnson untuk menggelar pemilihan umum sela. Anggota parlemen yang menolak usulan Brexit Johnson mencapai 328 orang. Sedangkan yang setuju sebanyak 301 orang. Sebanyak 21 orang adalah anggota fraksi Konservatif. Mereka kemudian didepak dari partai.

Pemimpin oposisi sekaligus Ketua Partai Buruh, Jeremy Corbyn, mengatakan dia sebenarnya mendukung pemilu sela asal Johnson berjanji tidak akan melakukan Brexit tanpa kesepakatan. Sedangkan Johnson mengklaim perundingan Brexit dengan Uni Eropa mengalami kemajuan. "Kita harus keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober," kata Johnson. Sang adik, Jo Johnson, yang menentang Brexit memutuskan mundur dari jabatan Menteri Junior Universitas setelah Johnson kalah dalam voting di parlemen.

Jika Majelis Rendah berhasil meloloskan RUU menolak Brexit tanpa kesepakatan, maka bisa memaksa Johnson kembali menunda proses itu sampai 31 Januari 2020. Namun, Johnson menyatakan akan kembali mengajukan usul pemilu sela kepada Majelis Rendah pada Senin pekan depan, dan menantang oposisi untuk mendukungnya kali ini.

RUU yang diajukan Majelis Rendah juga harus disetujui terlebih dulu oleh Majelis Tinggi sebelum disahkan. Hal ini membuat urusan Brexit kembali dihantui ketidakjelasan dan khawatir kembali menjadi krisis politik seperti pada era mantan perdana menteri, Theresa May.

Uni Eropa sampai saat ini belum bersikap soal perdebatan baru soal Brexit di Inggris. Namun, Menteri Urusan Eropa Prancis, Amelie de Montchalin, menyatakan tidak baik jika tenggat Brexit kembali mundur. "Saya lihat memberikan kembali perpanjangan selama enam bulan tidak akan menyelesaikan masalah," kata Amelie. Di sisi lain, parlemen Inggris juga harus kerja keras untuk menyelesaikan RUU itu sebelum masa reses pada akhir pekan depan. Menurut Corbyn, hal itu adalah kesempatan terakhir untuk mencegah kekacauan situasi jika Brexit dilakukan tanpa kesepakatan.

Taruna Polwan Pingsan
Seorang taruna polisi wanita pingsan saat mendengarkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berpidato. Boris Johnson berbicara di depan para taruna Akademi Kepolisian Wakefield, West Yorkshire, pada Kamis (6/9) waktu setempat. Taruna polwan itu pingsan setelah berdiri lebih dari satu jam untuk mendengarkan pidato Johnson. Ketika calon polwan itu mulai menunjukkan tanda-tanda kegelisahan, Johnson terlihat berbalik dan bertanya, "Apakah Anda baik-baik saja?"

Johnson kemudian berbalik lagi dan berkata, "Tidak apa-apa, saya minta maaf, saya pikir itu sinyal bagi saya untuk menyudahi." Rupanya Johnson tetap terus berbicara bahkan setelah dia menyaksikan wanita itu merosot. Namun kadet itu bangkit lagi ketika Johnson menyelesaikan pidatonya.

Reaksi Johnson tersebut menimbulkan kemarahan lawan-lawan politiknya. "Johnson membiarkan para peserta ini menunggu, dan tidak heran salah satu dari mereka pingsan," kata juru bicara urusan dalam negeri untuk oposisi Partai Buruh Diane Abbott.

"Dia melihat itu terjadi dan membiarkannya, itu memperlihatkan apa yang perlu kamu ketahui tentang pria ini, dan seberapa besar dia benar-benar peduli dengan layanan kepolisian," ujarnya. Sementara tidak sedikit yang mengkritik keputusan Johnson menyampaikan pidato bernuansa politis di depan para taruna. Pidato Johnson disebut sebagian besar membahas soal Brexit. (CNNI/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments