Selasa, 22 Okt 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • PM Abbott Lebih Pilih Dikritik Ketimbang Tidak Bekerja Menghentikan Pencari Suaka

Tolak Minta Maaf

PM Abbott Lebih Pilih Dikritik Ketimbang Tidak Bekerja Menghentikan Pencari Suaka

Jumat, 10 Januari 2014 16:07 WIB
SIB/int
PM Abbott
Canberra (SIB)- Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, mengaku tidak akan meminta maaf terhadap kebijakan pemerintahannya yang tertutup soal cara membendung para pencari suaka ke negaranya.

Dia mengatakan, lebih baik dikritik karena dianggap tertutup ketimbang tidak bekerja. Harian Australia, Sydney Morning Herald (SMH), Kamis (9/1) melansir pernyataan Abbott itu setelah Pemerintah Australia bungkam soal didorongnya kembali dua perahu pencari suaka ke perairan Indonesia. Sikap bungkam Abbott dan Menteri Imigrasi, Scott Morrison, menuai kritikan tajam dari Partai Buruh dan Hijau.

"Saya lebih baik dikritik karena dianggap sedikit tertutup terhadap isu ini, tetapi benar-benar bekerja menghentikan perahu," ujarnya saat diwawancarai Radio 2GB. Intinya, Abbott melanjutkan, pemerintahannya tidak akan memberikan tempat untuk diskusi publik. "Kami tetap berfokus untuk menghentikan perahu," imbuh dia.

Dalam kesempatan itu, Abbott turut menyinggung soal adanya komunikasi antara Panglima TNI, Jenderal Moeldoko dan Panglima Militer Negeri Kanguru, Jenderal David Hurley. Dia tidak menutupi fakta adanya saling pengertian di antara kedua panglima militer itu soal cara Australia menangani para pencari suaka.

Kepada media yang menemuinya di Cilangkap, Rabu kemarin, Moeldoko mengatakan telah mengetahui kebijakan Australia itu. Dia bahkan menyebut hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar, sehingga Indonesia tidak perlu merasa tersinggung.

"Dia mengatakan kepada saya, Indonesia seharusnya memahami apabila Australia mendorong kembali imigran ilegal yang berupaya memasuki negaranya menggunakan perahu Indonesia atau apabila menemukan warga Indonesia di dalam perahu." kata Moeldoko.

Fairfax Media lantas mengonfirmasi pernyataan Moeldoko itu kepada Juru Bicara Militer, Kolonel Bernadus Robert. Dia membenarkan adanya komunikasi di antara dua panglima militer itu pada dua pekan lalu.

"Alasannya, kami memahami bahwa perahu milik orang Indonesia dan krunya juga berasal dari Indonesia. Tetapi, penumpangnya orang asing. Panglima Australia menelepon Panglima RI untuk membicarakan itu," ujar Bernadus.

Menurut Jenderal Moeldoko, lanjut Bernadus, langkah itu sebagai upaya yang positif. Australia juga disebut memiliki etika yang baik dengan menginformasikan soal kebijakan mereka lebih dulu kepada Indonesia.

Pernyataan Moeldoko ini tidak senada dengan kalimat Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Di matanya, langkah mendorong kembali perahu pencari suaka ke perairan Indonesia bukan menjadi solusi, melainkan akan menambah masalah. (SMH/vvn)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments