Sabtu, 08 Agu 2020
  • Home
  • Luar Negeri
  • Najib Razak Jadi Eks PM Malaysia Pertama yang Divonis Korupsi

Najib Razak Jadi Eks PM Malaysia Pertama yang Divonis Korupsi

* Najib Tegaskan Dirinya Tidak Bersalah
redaksisib Kamis, 30 Juli 2020 12:07 WIB
BBC/yahoonews

Najib Razak (tengah) dikawal aparat keamanan ke luar dari gedung Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur usai sidang, Rabu (29/7). Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia tersebut divonis hukuman 12 tahun penjara dan denda 210 juta ringgit. 

Kuala Lumpur (SIB)
Datuk Sri Najib Razak menjadi mantan perdana menteri pertama dalam sejarah Malaysia yang dijatuhi hukuman. Najib dinyatakan bersalah atas tujuh dakwaan kasus mega korupsi terkait perusahaan investasi negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Seperti dilansir dari The Star, Rabu (29/7) Hakim Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur, Mohd Nazlan Mohd Ghazali memutuskan bahwa pembelaan Najib gagal menimbulkan keraguan yang wajar atas tuduhan yang ditujukan kepadanya. Menurut catatan The Star, Najib adalah mantan PM Malaysia pertama yang dijatuhi hukuman atas kasus korupsi. "Karena itu saya menyatakan terdakwa bersalah dan menghukum terdakwa atas semua tujuh dakwaan," katanya dalam sidang, Selasa (28/7).

Hakim Nazlan mulai membaca keputusannya tepat setelah jam 10 pagi dan berbicara tentang pendirian SRC International, anak perusahaan 1MDB. Dia berbicara tentang pendapat pembelaan bahwa terdakwa percaya uang dalam rekeningnya berasal dari sumbangan Arab Saudi. "Dalam pandangan saya, bahkan pada titik ini, ketika terdakwa diberitahu tentang sumbangan (Arab Saudi) yang akan datang dari (pengusaha buron) Low Taek Jho (atau dikenal sebagai Jho Low), terdakwa harus mengambil langkah-langkah untuk memverifikasi dan mengemukakan bukti dari informasi itu," ujar hakim. "Tidak ada rincian tentang sumbangan atau apakah akan datang dengan syarat. Apakah itu bantuan asing, hibah atau pinjaman?" lanjutnya.

Mengenai masalah surat yang diterima oleh Najib, yang mengklaim menerima sumbangan dari Raja Abdullah, Hakim Nazlan mengatakan penulis - Pangeran Saud Abdulaziz - tidak menyebutkan bahwa ia menulis atas nama Raja. Di persidangan pada hari Selasa (28/7), Hakim Mohd Nazlan Mohd Ghazali menjatuhi Najib hukuman 12 tahun penjara dan denda 210 juta ringgit (US$ 49,38 juta).

Najib dinyatakan bersalah atas satu dakwaan penyalahgunaan kekuasaan, tiga dakwaan pidana pelanggaran kepercayaan dan tiga dakwaan pencucian uang.

Tidak Bersalah
Sementara itu, Najib Razak menyatakan tidak puas dengan keputusan hakim Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur. Dilansir dari Channel News Asia, dia menegaskan dirinya tidak bersalah . "Jelas saya tidak puas dengan apa yang telah terjadi (hasil putusan)," kata Najib seusai sidang, Selasa (28/7).

Menurut Najib, dia akan menempuh semua upaya hukum, mulai dari banding ke Pengadilan Banding kemudian ke Pengadilan Federal. “Kami berharap banding ini bisa dilakukan secepat mungkin karena saya ingin melanjutkan upaya untuk membersihkan nama saya dan saya akan melanjutkan perjuangan ini," ujar dia.

Najib mengatakan tim pengacara telah menyiapkan pembelaan guna meyakinkan para hakim. Kata dia, materi pembelaan sudah disiapkan pengacaranya Muhammad Shafee Abdullah. "Shafee akan terus memimpin tim. Dia sangat bertekad untuk mendapatkan hasil yang kami inginkan," ucapnya.

Setelah vonis dijatuhkan, Shafee mengajukan permohonan agar Najib diberi penundaan eksekusi sambil menunggu banding. Hakim mengabulkan penundaan eksekusi tetapi Najib harus membayar dua jaminan sebesar RM2 juta atau sekitar Rp6,8 miliar pada Rabu (29/7).

Najib juga perlu mengubah statusnya menjadi "terpidana" dan menyerahkan diri ke kantor polisi terdekat pada hari pertama dan hari ke-15 setiap bulan. Shafee meyakini timnya akan memenangkan kasus ini di tingkat banding. "Dasar putusannya jujur tapi dia (hakim) melakukan begitu banyak kesalahan. Saya merasa kami memiliki peluang kuat untuk memenangkan banding," kata Shafee. (thestar/dtc/c)
T#gs Divonis KorupsiEks PM MalaysiaKuala LumpurNajib RazakLuar Negeri
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments