Jumat, 20 Sep 2019

Mesir Gelar Referendum Konstitusional

Rabu, 15 Januari 2014 13:08 WIB
SIB/Int
Warga Mesir melakukan referendum konstitusional Referendum ini bertujuan untuk mengganti konstitusi lama yang disahkan oleh Morsi, beberapa bulan sebelum dia digulingkan oleh militer. Sedangkan konstitusi baru disusun oleh sebuah komite yang berisi 50 ora
Kairo (SIB)- Sebuah bom meledak di luar gedung pengadilan di Kairo, Mesir, Selasa (14/1). Insiden ini terjadi sebelum tempat-tempat pemungutan suara dibuka untuk referendum konstitusional yang diboikot para pendukung presiden terguling Mohamed Morsi.

Kepolisian mengatakan ledakan bom rakitan tersebut merusak bagian depan gedung pengadilan. Tak ada korban luka-luka dalam insiden ini.

Ini merupakan insiden terbaru dari serangkaian serangan serupa di negeri itu sejak militer Mesir menggulingkan kekuasaan Morsi pada Juli 2013 lalu.

Ledakan bom ini terjadi sementara ratusan ribu tentara dan polisi dikerahkan di seluruh penjuru Mesir untuk mengamankan tempat-tempat pemungutan suara selama berlangsungnya referendum.

Referendum ini bertujuan untuk mengganti konstitusi lama yang disahkan oleh Morsi, beberapa bulan sebelum dia digulingkan oleh militer. Sedangkan konstitusi baru disusun oleh sebuah komite yang berisi 50 orang dan hanya dua di antaranya berasal dari partai Islam.

Pemerintahan interim Mesir mengklaim, rancangan konstitusi ini memberikan lebih banyak kebebasan dan hak, serta menjadi kunci menuju stabilitas nasional.

Referendum yang akan berlangsung dua hari ini bisa membuka jalan untuk pemilihan umum. Namun Ikhwanul Muslimin, partai Morsi yang baru-baru ini dinyatakan sebagai kelompok teror oleh pemerintah interim Mesir, menyerukan aksi boikot atas referendum tersebut.

Para pemuka agama Mesir sebelumnya menyerukan seluruh rakyat untuk menyukseskan referendum penentuan konstitusi baru yang dijadwalkan berlangsung dua hari pada 14-15 Januari 2014.

"Mari kita semua rakyat Mesir menyukseskan referendum konstitusi untuk meratakan jalan bagi masa depan bangsa yang lebih baik," kata Syeikh Agung Al Azhar, Prof Dr Ahmed Al Tayeb di Kairo, Senin.

Seruan senada diutarakan pemimpin kharismatik Gereja Koptik Baba Tawadrus II. "Rakyat Mesir memiliki hak penuh menentukan perjalanan bangsa ini berdasarkan konstitusi yang kita hasilkan bersama. Oleh karena itu mari kita sukseskan referendum konstitusi," kata Baba Tawadrus.

Syeikh Al AZhar menepis tuduhan beberapa kalangan bahwa rancangan konstitusi tersebut bertentangan dengan syariat (hukum) Islam. "Sejumlah ulama terhormat Al Azhar dari berbagai disiplin ilmu mewakili lembaga Al Azhar untuk berperan aktif dalam penyusunan Rancangan Konstitusi," kata Syeikh Tayeb menegaskan.

Menanggapi argumen dari beberapa kalangan yang mengasumsikan kontitusi baru tersebut bertentangan dengan Islam, Syeikh Tayeb menandaskan bahwa sesungguhnya tuduhan itu tidak berdasar.

"Mereka yang menuduh rancangan konstitusi itu bertentangan dengan syariah Islam adalah karena mereka belum mendalami rancangan konstutusi tersebut," paparnya.

Sementara itu, warga Mesir di luar negeri telah merampungkan penggunaan suara di 138 Kedutaan Besar dan Konsulat Mesir di berbagai negara. Menurut Komisi Referendum, tercatat 94 ribu warga Mesir di luar negeri menggunakan hak pilihnya.

Jumlah tersebut berkurang jauh sekitar 60 persen dari pengguna hak suara pada refendum sebelumnya. "Berkurangnya pengguna hak suara di luar negeri itu akibat dibatalkannya penggunaan pengiriman suara lewat pos oleh Komisi Referendum," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Badr Abdel Aatie.

Konstitusi baru 2014 ini akan menggantikan konstitusi lama di masa pemerintahan presiden terguling Mohamed Moursi. Sejak Revolusi 25 Januari 2011 yang menumbangkan rezim Presiden Hosni Mubarak, Mesir telah mencatat tiga kali penetapan konstitusi melalui referendum, yaitu pertama di masa penguasa Dewan Tinggi Militer pada 2011 dan kedua di masa Presiden Moursi pada akhir 2012.

Bertalian dengan referendum tersebut, para wartawan asing di Mesir dibagikan naskah lengkap Rancangan Konstitusi tersebut. "Ini naskah rancangan konstitusi baru, diharapkan mesosialisasikannya," kata Madam Nahed dari Press Center. (detikcom/ r)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments