Rabu, 20 Nov 2019

Menhan Israel kepada Hamas: Kami Memberi Makan Monster

Senin, 19 November 2018 12:11 WIB
TEL AVIV (SIB) -Menteri Pertahanan Israel yang mengumumkan mundur, Avigdor Lieberman, kembali melontarkan kritikan terhadap kabinet. Dalam pidato terakhirnya sebagai menhan, Lieberman menyoroti keputusan pemerintah menyepakati gencatan senjata dengan Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza. Dilansir Russian Today Sabtu (17/11), Lieberman mengatakan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) harus terus melanjutkan operasi menumpas Hamas. "Saat, kita sedang memberi makan monster. Jika kita tak menahan mereka, Hamas bakal menjadi kembaran Hezbollah, kata Lieberman. 

Ucapan Ketua Partai Yisrael Beitenu itu merujuk kepada faksi yang berkuasa di Lebanon, dan mempunyai kedekatan dengan Iran yang notabene musuh Israel. Lieberman juga menuduh ada menteri bermuka dua yang menyerangnya di kabinet dan juga media terkait janjinya pada 2016. Saat itu, sebelum dilantik dia berjanji bakal membunuh Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dalam 48 jam jika jenazah anggota IDF tak diserahkan. "Para menteri itu dalam wawancara di media terus berucap 'bagaimana tentang Haniyeh? bagaimana tentang 48 jam'," keluh Lieberman dikutip Haaretz. 

Sebelumnya pada Rabu (14/11), Lieberman mengumumkan mundur sebagai menhan setelah Tel Aviv menjalin kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas. Gencatan senjata yang dimediasi Mesir itu terjadi setelah Israel dan Hamas terlibat baku tembak di Gaza pada Minggu (11/11). Lieberman mengkritik keputusan kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menerima gencatan senjata itu sebagai "pernyataan kalah kepada teroris". "Saat ini, pemerintah berusaha membeli perdamaian jangka pendek yang bakal memberi kerugian bagi negara ini di masa depan," lanjutnya. 

Bersamaan dengan pengumuman pengunduran diri, Lieberman juga menyatakan partai Yisrael Beitenu meninggalkan koalisi Netanyahu. Dengan demikian, saat ini pemerintahan Netanyahu tetap mayoritas, namun hanya unggul satu kursi saja di Knesset (Parlemen Israel). Pemilihan umum rencananya digulirkan November 2019. Namun mundurnya Lieberman memunculkan kabar bakal terjadi pemilihan dini. (Haaretz/Russian Today/kps/f)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments