Selasa, 12 Nov 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Media China Serukan Otoritas Lebih Keras terhadap Demonstran Hong Kong

Media China Serukan Otoritas Lebih Keras terhadap Demonstran Hong Kong

* Telinga Politisi Hong Kong Putus Digigit karena "Perbedaan Politik"
redaksi Selasa, 05 November 2019 15:14 WIB
Rtr
Anggota dewan sari Taikoo Shing West, Andrew Chiu Ka Yin (pegang telinga) mendapat pertolongan dari relawan setelah terluka karena telinganya terputus digigit dalam serangan di Taikoo Shing, Hong Kong, pada Minggu (3/11).
Hong Kong (SIB)
Media pemerintah China menyerukan otoritas untuk mengambil sikap lebih keras terhadap para demonstran di Hong Kong. Seruan ini disampaikan setelah para demonstran merusak gedung kantor berita pemerintah China, Xinhua dan gedung-gedung lainnya pada akhir pekan lalu.

Dalam editorialnya seperti dilansir Reuters, Senin (4/11), surat kabar China Daily yang disokong pemerintah China, mengkritik serangan-serangan "ceroboh" oleh para demonstran "naif", seraya menambahkan, "Mereka ditakdirkan untuk gagal karena kekerasan mereka akan berhadapan dengan beratnya hukum."

Pada Sabtu (2/11) waktu setempat, aparat polisi menembakkan gas air mata ke para demonstran berpakaian hitam-hitam dalam salah satu kekerasan terparah di Hong Kong dalam waktu hampir lima bulan ini. Sejumlah stasiun kereta bawah tanah dibakar dan gedung-gedung dirusak oleh massa demonstran, termasuk satu outlet kopi asal Amerika Serikat, Starbucks.

Media China lainnya, Global Times mengutuk aksi para demonstran terhadap Xinhua dan menyerukan tindakan oleh badan penegak hukum Hong Kong. "Dikarenakan gambar simbolis Xinhua, perusakan cabangnya tidak hanya provokasi terhadap aturan hukum di Hong Kong, tetapi juga kepada pemerintah pusat dan China daratan, yang merupakan tujuan utama para perusuh," tulis media tersebut.

Komisi Urusan Hong Kong, Macau dan Hukum Dasar, Shen Chunyao, menyebut bentrokan yang terjadi di Hong Kong, yang merupakan Wilayah Administrasi Khusus, menjadi topik penting dalam rapat besar Partai Komunis China yang dipimpin Presiden Xi Jinping pekan ini.

Pemerintah pusat China sejauh ini menyatakan yakin bahwa pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, dan Kepolisian Hong Kong akan mampu meredakan unjuk rasa sarat kekerasan yang masih marak di kota tersebut. Nyaris lima bulan belakangan ini, aksi protes besar-besaran di Hong Kong telah menarik perhatian dunia. Dilengkapi teknologi komunikasi modern, para demonstran memfokuskan kemarahan mereka kepada pemerintah Hong Kong, lembaga kepolisian dan simbol-simbol pemerintahan Beijing.
Telinga Politisi Putus Digigit

Sementara itu, seorang politisi Hong Kong dilaporkan kehilangan telinga setelah digigit dalam pertikaian karena "perbedaan pandangan politik". Dalam rekaman yang beredar seperti dikutip Sky News Minggu (3/11), terlihat sebagian telinga kiri Dr Andrew Chiu tercecer di jalan. Video itu menunjukkan terdapat paramedis yang menangani cedera Chiu, dengan benda yang disebut potongan telinganya dimasukkan kantong plastik.

Dalam pemberitaan media Hong Kong, telinga politisi distrik setempat itu digigit hingga putus, dengan polisi menyatakan karena "perbedaan politik". Polisi menuturkan, kejadian bermula ketika seorang pria bertengkar dengan keluarga sehabis makan malam di pusat perbelanjaan Cityplaza di Distrik Taikoo Shing Minggu malam waktu setempat.

Seorang perempuan yang terluka dalam insiden itu mengungkapkan, pria tersebut awalnya bersitegang dengan saudarinya dan ipar sebelum mengeluarkan pisau dari tas dan menyerang mereka. Perempuan itu mengatakan saudara iparnya ditusuk dan kemudian dia melihat seorang pria terbaring pingsan di tengah genangan darah. Tidak dijelaskan bagaimana Chiu terlibat.

Dikutip BBC, dia nampaknya berusaha mencegah serangan ketika ada pria yang menggigitnya. Andrew Chiu menjadi anggota dewan dari area Taikoo Shing Barat sejak 2007, dan berniat maju lagi pada pemilihan 24 November mendatang. Salah seorang pemimpin aktivis pergerakan pro-demokrasi Hong Kong, Joshua Wong, membenarkan Chiu diserang di lokasi konstitusinya. "Telinga kirinya secara brutal digigit. Saya mengecam dengan keras kekerasan yang terutama menyasar kandidat pemilihan," kata Wong.

Adapun si penyerang mengalami luka setelah babak belur dihajar oleh massa, sebelum polisi datang dan langsung menangkapnya. Perkelahian itu terjadi setelah polisi anti-huru hara ditempatkan di seantero mall sepanjang Minggu pasca-ratusan orang turun ke jalan menentang larangan berunjuk rasa.

Bentrokan antara demonstran dengan penegak hukum pun tidak terhindari, dengan sejumlah restoran dirusak dan telur dilempar ke dinding mall.

3 Orang Kritis
Tiga orang saat ini dalam kondisi kritis di Hong Kong setelah bentrokan yang terjadi antara polisi dan demonstran akhir pekan lalu. Aparat polisi antihuru-hara menyerbu sejumlah pusat perbelanjaan pada Minggu (3/11), termasuk Cityplaza, yang dipenuhi keluarga dan anak-anak, yang berada di pinggiran Taikoo Shing, Hong Kong timur. Para demonstran yang berkumpul di mal tersebut, awalnya membentuk rantai manusia secara damai, sebelum kemudian berhadapan dengan polisi dalam bentrokan.

Dalam insiden kemarin, seorang pria bersenjatakan pisau juga menyerang sejumlah orang hingga terluka. Pria tersebut kemudian terluka usai dipukuli para demonstran dengan kayu. Otoritas Rumah Sakit Hong Kong menyatakan seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (4/11), tiga orang dalam kondisi kritis, dengan satu orang lainnya mengalami luka-luka serius. Mereka termasuk di antara total 30 orang yang terluka dalam bentrokan pada Minggu (3/11) tersebut.

Seorang mahasiswa di Universitas Shue Yan dipukul dengan tabung gas air mata dan menderita luka bakar parah dalam insiden terpisah di akhir pekan tersebut. Demikian disampaikan serikat mahasiswa universitas tersebut. Aksi demo terbaru pada akhir pekan lalu tersebut, digelar setelah pemerintah China memperingatkan tidak akan menoleransi setiap perbedaan pendapat dan tantangan terhadap sistem pemerintahan di Hong Kong. China disebut tengah menyusun langkah untuk meningkatkan pendidikan patriotisme di kota semi-otonomi tersebut.

Aksi demo terbaru pada Sabtu (2/11) tersebut digelar sehari setelah pemerintah China memperingatkan tidak akan menoleransi setiap perbedaan pendapat dan tantangan terhadap sistem pemerintahan di Hong Kong. China disebut tengah menyusun langkah untuk meningkatkan pendidikan patriotisme di kota semi-otonomi tersebut. (Rtr/dtc/BBC/Sky News/kps/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments