Minggu, 18 Agu 2019

Massa Pro-Demokrasi Kembali Duduki Bandara Hong Kong

China Minta AS Tidak Intervensi Urusan Hong KongRibuan
admin Sabtu, 10 Agustus 2019 13:50 WIB
dailymail
Ribuan demonstran menggelar aksi duduk sambil membawa spanduk di bandara internasional Hong Kong, Jumat (9/8), menarik perhatian penumpang asing yang baru turun. Aktivis pro-demokrasi berencana menggelar demo selama tiga hari untuk menekan pemerintah Hong Kong.
Hong Kong (SIB) -Massa pro-demokrasi Hong Kong, menggelar aksi di bandara internasional setempat untuk menarik perhatian penumpang asing yang baru melakukan embarkasi pada Jumat (9/8). Para demonstran, berpakaian serba hitam khas mereka, menuntut penyelidikan independen terhadap dugaan brutal polisi saat meredam aksi protes beberapa hari terakhir; pembatalan penuh RUU Ekstradisi yang kontroversial; dan pengunduran diri pemimpin eksekutif Hong Kong Carrie Lam.

Perhelatan itu menandai aksi pertama dari rangkaian demonstrasi tak berijin yang diperkirakan akan berlangsung selama tiga hari pada akhir pekan ini. Ini merupakan kelanjutan dari demonstrasi berantai yang telah mengguncang Hong Kong selama beberapa pekan terakhir.

Rangkaian protes di Hong Kong telah menimbulkan keresahan publik dan menuai ketegangan, antara para demonstran yang dikenal sebagai massa pro-demokrasi dengan pemerintah administratif Hong Kong serta Bejing.

Protes dipicu penolakan massa terhadap RUU Ekstradisi yang memungkinkan seorang pelanggar hukum untuk dikirim ke China guna menjalani proses peradilan. Massa menilai RUU itu sebagai bentuk pelunturan terhadap nilai-nilai independensi wilayah otonom eks-koloni Inggris tersebut. Protes terus berlanjut dan bermanifestasi menjadi bentuk protes secara luas terhadap pemerintahan Hong Kong serta China.

Demonstran berencana untuk melakukan aksi duduk di bandara sepanjang akhir pekan. Mereka mengibarkan spanduk yang ditulis dalam berbagai bahasa, mengecam pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam dan polisi, serta membagikan selebaran dengan karya seni yang menjelaskan protes baru-baru ini.

Pihak berwenang sejauh ini menoleransi demonstrasi damai, yang tidak terlalu mengganggu penumpang. Belum ada polisi di tempat kejadian. "Itu akan menjadi protes damai selama polisi tidak muncul," kata seorang demonstran. Boarding pass palsu, bagian dari atribut demo, yang mengatakan "HK to freedom" muncul di media sosial untuk mempromosikan rapat umum.

Otoritas bandara Hong Kong sebelumnya memberlakukan pengetatan pemeriksaan terhadap orang-orang yang hendak memasuki area terminal 1 bandara. "Otoritas Bandara Hong Kong menyadari bahwa ada seruan yang diunggah di internet untuk menggelar pertemuan publik di bandara pada 9-11 Agustus," ujar Otoritas Bandara Internasional Hong Kong. Disebutkan bahwa pengetatan akan dilakukan untuk izin memasuki lorong check-in di terminal 1 Bandara Internasional Hong Kong.

"Dalam rangka menjaga kelancaran untuk penumpang yang akan berangkat, hanya mereka yang telah memiliki tiket pesawat untuk 24 jam ke depan dan dokumen perjalanan yang sah, yang akan diizinkan memasuki lorong check-in di Terminal 1," kata Otoritas Bandara Hong Kong. Pemeriksaan juga akan dilakukan terhadap para staf bandara yang diwajibkan mengenakan dan menunjukkan identifikasi mereka. "Staf keamanan bandara akan ada di lokasi untuk membantu para penumpang atau staf bandara yang hendak memasuki area tersebut," ujar pihak berwenang.

Dalam pemberitahuan di situs web-nya, pihak Bandara Internasional Hong Kong mengatakan bahwa bandara akan tetap "beroperasi secara normal", namun juga menyarankan kepada calon penumpang untuk menyediakan waktu yang cukup sebelum jadwal keberangkatan. "Penumpang juga disarankan untuk memeriksa status penerbangan di situs web Bandara Internasional Hong Kong atau melalui aplikasi seluler HKG My Flight."

Bertemu Aktivis Hong Kong
Pemerintah China menyerukan kepada diplomat-diplomat Amerika Serikat (AS) untuk 'berhenti mencampuri' urusan kota Hong Kong. Seruan ini disampaikan China setelah laporan menyebut diplomat AS telah bertemu dengan para aktivis pro-demokrasi Hong Kong yang menggelar unjuk rasa besar-besaran beberapa bulan terakhir.

Kementerian Luar Negeri China dalam pernyataannya menyampaikan 'ketidakpuasan yang besar' terhadap otoritas AS, dengan mengutip laporan media lokal yang menyebut seorang pejabat dari Konsulat Jenderal AS di Hong Kong telah bertemu dengan 'kelompok independen' lokal.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri China mendorong kantor diplomatik AS di Hong Kong untuk 'segera memutuskan hubungan dengan berbagai perusuh anti-China' dan 'segera berhenti mencampuri urusan Hong Kong'.

Dilaporkan oleh surat kabar Hong Kong, Takungpao, bahwa ada sebuah pertemuan antara anggota partai politik Demosisto -- termasuk aktivis demokrasi terkemuka Joshua Wong -- dengan Julie Eadeh yang merupakan kepala unit politik pada Konsulat Jenderal AS di Hong Kong.

AS menanggapi seruan dan klaim China itu dengan komentar keras. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Morgan Ortagus, menolak klaim China dan menuduh negara itu membocorkan informasi detail soal diplomat AS. "Saya pikir itu bukanlah protes resmi, itu adalah apa yang akan dilakukan rezim preman," tegas Ortagus merujuk pada pemerintah China, kepada wartawan di Washington DC. "Itu bukanlah cara bagaimana sebuah negara yang bertanggung jawab akan bersikap," imbuhnya. "Diplomat kami melakukan tugasnya dan kami menghargai pekerjaannya. Ini adalah apa yang dilakukan diplomat-diplomat Amerika setiap harinya di seluruh dunia," sebut Ortagus. (Detikcom/CNNI/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments