Minggu, 18 Agu 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Mantan Permaisuri Jepang Michiko Didiagnosa Kanker Payudara

Mantan Permaisuri Jepang Michiko Didiagnosa Kanker Payudara

admin Sabtu, 10 Agustus 2019 13:46 WIB
AFP / EUGENE HOSHIKO
Kaisar Emiritus Jepang Akihito (kiri) dan Permaisuri Emirita Michiko. Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang, Jumat (9/8), melaporkan bahwa Michiko akan menjalani operasi setelah didiagnosa menderita kanker payudara stadium awal.
Tokyo (SIB) -Mantan Permaisuri Jepang Michiko akan segera menjalani operasi setelah didiagnosa menderita kanker payudara stadium awal. Kabar tersebut disampaikan Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang, Jumat (9/8). Menurut seorang juru bicara Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang, mantan permaisuri berusia 84 tahun itu telah didiagnosa menderita kanker payudara setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Disampaikan bahwa mantan permaisuri Michiko akan segera menjalani operasi untuk mengobati kanker payudara tersebut, namun belum memberikan tanggal pasti.

Sebelumnya di bulan Juni, Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang mengumumkan bahwa pasangan dari mantan Kaisar Akihito yang mengundurkan diri itu akan menjalani pemeriksaan jantung setelah hasil tes darah menunjukkan bahwa dia memiliki risiko tinggi mengalami gagal jantung.

Michiko bersama dengan Akihito meninggalkan Istana Kekaisaran Jepang setelah turun tahkta pada April lalu, yang pertama terjadi selama sejarah 200 tahun monarki tertua di dunia. Akihito dan Michiko dikenal memodernisasi monarki terikat tradisi, membawa pasangan ini lebih dekat kepada publik Jepang dan meningkatkan dukungan rakyat terhadap rumah tangga kekaisaran.

Michiko menjadi orang awam pertama yang menikah dengan ahli waris kekaisaran Jepang. Michiko, yang lahir pada 1934 di Tokyo, menempuh pendidikan di sekolah khusus perempuan Christian Sacred Heart School di Jepang sebelum kemudian melanjutkan mempelajari sastra Inggris di universitas.

Michiko bertemu dengan Akihito di sebuah turnamen tenis, sebelum kemudian menikah pada 1959, dalam sebuah pernikahan yang menarik perhatian media. Keputusan Akihito, yang saat itu masih menjadi pangeran mahkota, untuk menghindari pernikahan yang diatur secara tradisional dan memilih menikah dengan wanita yang dicintainya, dipandang sebagai bentuk penegasan terhadap Jepang yang demokratis.

Pasangan ini juga memilih untuk tinggal bersama dan merawat serta membesarkan sendiri anak-anak mereka daripada menyerahkannya kepada pengasuh. Michiko melahirkan Naruhito, yang kini menjadi kaisar menggantikan Akihito, pada 1960 dan putra keduanya, Pangeran Akishino, lahir lima tahun berselang. Setelah meninggalkan Istana Kekaisaran, Michiko yang kini bergelar Permaisuri Emirita, tinggal di Istana Togu di Akasaka.

Kediaman itu memiliki makna penting bagi Akihito dan Michiko, karena penuh dengan kenangan indah karena merupakan tempat mereka membesarkan anak-anak mereka saat Akihito masih menjadi putra mahkota. Setelah resmi turun takhta, maka tugas-tugas kekaisaran akan diserahkan kepada kaisar baru dan Akihito akan menjalani hari-hari yang bebas dan santai.

"Pasangan itu akan berdoa untuk negara dan rakyat Jepang setelah mereka pindah dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman-teman, mendengarkan musik, atau membaca," kata pejabat Badan Rumah Tangga Kekaisaran. Sementara mantan permaisuri Michiko akan mengisi waktunya untuk membaca buku-buku yang sudah lama ingin dibacanya. Seperti yang sempat diucapkannya pada Oktober tahun lalu. "Saya berharap dapat meluangkan waktu untuk membaca setiap buku yang belum saya baca," ujar Michiko. (kps/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments