Rabu, 21 Agu 2019

Malaysia Kembalikan Sampah Plastik ke Negara Asalnya

* Duterte Perintahkan Sewa Kapal untuk Kirim Sampah ke Kanada
admin Kamis, 23 Mei 2019 20:44 WIB
HuffPost
Pua Lay Peng, seorang aktivis yang juga warga lokal memeriksa area tempat pembuangan sampah ilegal di Jenjarom, Malaysia baru-baru ini. Malaysia, yang telah menjadi tempat pembuangan limbah plastik dunia, sudah mulai mengirim sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang ke negara-negara asalnya.
Kuala Lumpur (SIB) -Malaysia, yang telah menjadi tempat pembuangan limbah plastik dunia, sudah mulai mengirim sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang ke negara-negara asalnya. Malaysia tahun lalu menjadi tujuan alternatif utama untuk sampah plastik setelah China melarang impor limbah tersebut, yang mengganggu aliran lebih dari 7 juta ton limbah plastik per tahun. Sejak itu, Australia mengekspor bahan limbah ke Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Lusinan pabrik daur ulang muncul di Malaysia, banyak di antaranya tanpa izin operasi, dan penduduk mengeluhkan kerusakan lingkungan.

Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Australia termasuk pengekspor utama sampah plastik ke Malaysia. Sebagian besar limbah plastik yang masuk ke negara itu tercampur dan termasuk plastik berkualitas rendah dari negara maju yang tidak dapat didaur ulang. Menteri Energi dan Lingkungan Malaysia Yeo Bee Yin menyatakan Malaysia sudah mulai mengirim kembali limbah ke negara asalnya. "Negara-negara maju harus bertanggung jawab atas apa yang mereka kirim," kata Yeo.

Dia mengatakan beberapa potongan plastik yang dikirim ke Malaysia melanggar Konvensi Basel, perjanjian PBB tentang perdagangan limbah plastik dan pembuangannya. Menteri Yeo bulan lalu mengancam akan mengirim limbah kembali dengan mengatakan, "Malaysia tidak akan menjadi tempat pembuangan dunia."

Dia mengunggah gambar plastik ilegal kiriman di halaman Facebook-nya bersama dengan peraturan internasional tentang limbah plastik.

Sekarang prosesnya sedang berlangsung, dengan lima kontainer pertama sampah plastik yang terkontaminasi yang diselundupkan ke negara itu dikirim kembali ke Spanyol, kata Yeo. Dia tidak mengidentifikasi pihak penyelundup tetapi mengatakan penyelidikan sedang berlangsung. Lebih banyak plastik yang tidak dapat didaur ulang akan dikirim kembali ke sumbernya minggu depan, katanya.

Impor limbah plastik Malaysia dari 10 negara sumber terbesarnya melonjak menjadi 456.000 ton antara Januari dan Juli 2018, dibandingkan dengan 316.600 ton tahun 2017 dan 168.500 ton pada tahun 2016. Data terbaru tidak tersedia. Australia dihujat oleh para pencinta lingkungan Indonesia, yang mengatakan limbah Australia secara efektif "diselundupkan" dalam jumlah besar dengan kedok plastik dan kertas bekas yang diduga dikirim untuk didaur ulang. Bulan lalu, para pencinta lingkungan menggelar protes di luar konsulat Australia di Surabaya dengan spanduk bertuliskan "Indonesia bukan tempat daur ulangmu".

Mereka menyebut protes mereka "Ambil kembali sampahmu dari Indonesia", sambil menuntut agar Pemerintah Australia memberlakukan peraturan yang lebih ketat tentang ekspor limbah. Selama 2018, impor bahan limbah ke Jawa Timur dari Australia mencapai 52.000 ton, meningkat 250 persen dari 2014.

Sewa Kapal Kirim Sampah ke Kanada
Sementara itu, presiden Filipina Rodrigo Duterte meminta pemerintahannya segera menyewa perusahaan pelayaran swasta untuk mengirim 69 peti kemas berisi sampah ke Kanada. Dia menegaskan akan meninggalkan kontainer-kontainer itu di wilayah Kanada begitu saja apabila negara itu menolak sampah tersebut. "Filipina sebagai negara berdaulat yang merdeka tidak boleh diperlakukan sebagai sampah oleh negara asing lainnya," kata juru bicara kepresidenan Filipina Salvador Panelo, seperti diwartakan Reuters, Rabu (22/5).

Kanada sebelumnya mengatakan, limbah yang diekspor ke Filipina pada 2013-2014 itu merupakan transaksi komersial yang tidak didukung pemerintah Kanada. Sejak itu, Kanada telah menawarkan penarikan kembali sampah tersebut dan kedua negara sedang dalam mengatur proses pemindahan. Namun, Kanada melewatkan tenggat waktu pada 15 Mei 2019 yang ditetapkan Filipina untuk mengambil kembali sampah tersebut. Kasus sampah ini bahkan mendorong Filipina untuk menarik para diplomatnya dari Kanada pada pekan lalu. "Jelas, Kanada tidak menganggap serius masalah ini atau pun negara kami," ujar Panelo. "Rakyat Filipina sangat terhina karena perlakuan Kanada terhadap negara ini sebagai tempat pembuangan," imbuhnya. Sebelumnya, Filipina juga pernah mengajukan protes diplomatik ke Kanada sejak 2016 terkait sampah dalam peti kemas.

Peti kemas itu diberi label berisi plastik untuk didaur ulang di Filipina. Setelah dicek, kontainer tersebut ternyata dipenuhi dengan berbagai sampah, termasuk popok, koran, dan botol air. Masalah kedua negara tersebut tidak hanya itu, Tahun lalu, Duterte meminta militer membatalkan kesepakatan pembelian 16 helikopter dari Kanada. Langkah itu diputuskan setelah Kanada menyatakan keprihatinan atas kemungkinan penggunaan helikopter untuk melawan pemberontak.

Plastik yang tidak cocok untuk didaur ulang dibakar, yang melepaskan bahan kimia beracun ke atmosfer. Atau berakhir di TPA, berpotensi mencemari sumber air dan tanah. Sekitar 180 negara mencapai kesepakatan pada hari Jumat untuk mengubah Konvensi Basel untuk membuat perdagangan global limbah plastik lebih transparan dan diatur dengan lebih baik, sembari juga memastikan bahwa pengelolaannya lebih aman untuk kesehatan manusia dan lingkungan.

Amerika Serikat, pengekspor sampah plastik terbesar di dunia, belum meratifikasi pakta yang berusia 30 tahun itu. Amandemen perjanjian itu selanjutnya akan membatasi aliran sampah plastik ke negara-negara berkembang. Menurut Yeo tidak adil bagi negara maju untuk membuang limbah mereka di negara-negara berkembang seperti Malaysia. "Amandemen Konvensi Basel adalah langkah pertama dalam menyelesaikan masalah global gerakan sampah yang tidak adil dari negara maju ke negara berkembang," katanya. (ABC/Rtr/Detikcom/CNNI/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments