Sabtu, 23 Mar 2019

Maduro Usir Rombongan Parlemen Eropa

* Tolak Pemberian AS, Maduro Terima Bantuan dari Rusia
admin Rabu, 20 Februari 2019 21:29 WIB
SIB/New York Times
Senator AS Marco Rubio (kiri) meninjau gudang penyimpanan puluhan ton bantuan kemanusiaan di Kolombia yang hingga saat ini belum bisa memasuki Venezuela. Presiden Venezuela Nicolas Maduro bertindak tegas dengan mengusir lima anggota Parlemen Eropa yang sedang berkunjung atas undangan pemimpin oposisi, Senin (18/2).
Caracas (SIB) -Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengusir lima anggota Parlemen Eropa yang sedang berkunjung atas undangan Kepala Majelis Nasional sekaligus pemimpin oposisi, Juan Guaido. Mereka mengaku terkejut dengan perlakuan itu. "Kami diusir dari Venezuela. Paspor kami disita. Mereka tidak memberi tahu alasan pengusiran itu," kata anggota Anggota Parlemen Eropa asal Spanyol, Esteban Gonzalez Pons, seperti dilansir AFP, Senin (18/2).

Sejawat Pons yang turut diusir adalah Jose Ignacio Salafranca and Gabriel Mato Adrover, serta Esther de Lange dari Belanda dan Paulo Rangel asal Portugal. Mereka berasal dari Partai Rakyat Eropa (PPE).

Peristiwa ini menandai sikap konfrontasi Maduro dan perwakilan internasional. Sebab, Maduro dan Guaido saat ini sedang terlibat dalam konflik politik dan saling klaim sebagai pemimpin sah Venezuela. Guaido menyatakan pengusiran itu dilakukan oleh, "rezim yang terisolasi dan semakin tidak rasional". Saat ini dia didukung oleh 50 negara, 30 di antaranya dari Eropa.

Saat ini Maduro menutup seluruh perbatasan dan menolak aliran bantuan dari sejumlah negara. Guaido mengatakan bahwa ada sekitar 300 ribu warga Venezuela terancam meninggal akibat krisis ekonomi di negaranya yang sedang mengalami hiperinflasi.

Guaido pun mengumpulkan massa yang nantinya akan dikerahkan ke beberapa titik. Mereka bakal membawa masuk bantuan internasional yang tertahan di perbatasan menggunakan karavan, melawan militer di daerah tersebut. Guaido sendiri sudah memperingatkan militer, yang masih setia kepada Maduro, agar tidak memblokade bantuan kemanusiaan.

Sementara itu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak militer Venezuela untuk mencabut dukungan mereka kepada Presiden Nicolas Maduro. Membawa bantuan kemanusiaan merupakan upaya yang dilakukan pemimpin oposisi Juan Guaido setelah dia mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Januari lalu. Dia telah mewanti-wanti Maduro untuk membiarkan kapal AS lewat dan menyalurkan bantuan di tengah krisis yang terjadi di Venezuela.

Dalam pidatonya di hadapan ekspatriat Venezuela di Miami, Trump berkata dia mengirim pesan kepada figur yang masih mendukung Maduro. "Mata dari seluruh dunia kepada Anda setiap hari, hingga kapanpun," tegas Trump seperti dikutip AFP Selasa (19/2).

Presiden 72 tahun itu menjelaskan, militer kini tidak bisa mengabaikan dua pilihan krusial yang ada di depan mata mereka. Pertama adalah menarik dukungan kepada Maduro, dan menerima amnesti yang ditawarkan Guaido demi kelangsungan hidup mereka. "Atau Anda memilih opsi kedua. Di sini tidak ada jalan keluar atau yang bisa menyelamatkan nyawa Anda. Anda bakal kehilangan segalanya," ancam Trump.

Sementara itu Rusia akan mengirim 300 ton bantuan kemanusiaan ke Venezuela pada Rabu (20/2). Negara tersebut diketahui tengah dilanda krisis politik dan ekonomi. Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengklaim bantuan kemanusiaan dari Rusia adalah yang sah. "Pada hari Rabu 300 ton bantuan kemanusiaan yang sah akan tiba dari Rusia," ujarnya pada Senin (18/2), dikutip laman kantor berita Rusia, TASS. Menurut dia, Moskow juga akan mengirim obat-obatan. "Kami membayar mereka," kata Maduro. Pekan lalu lebih dari 60 kontainer mengangkut 933 ton obat-obatan dikirim ke Venezuela dari luar negeri. Sebagian besar kargo tiba dari China dan Kuba.

Maduro diketahui telah menolak bantuan kemanusiaan yang disalurkan Amerika Serikat (AS) melalui perbatasan Kolombia-Venezuela. Dia mengklaim pendistribusian bantuan itu merupakan bagian dari rencana AS untuk meningkatkan citra di negaranya.

Namun pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido menerima dan menghimpun bantuan tersebut di wilayah perbatasan, tepatnya di Cucuta. Menurut Guaido, relawan Venezuela akan membawa bantuan melintasi perbatasan pada 23 Februari mendatang. Guaido menilai, bantuan kemanusiaan yang diberikan AS memang sangat dibutuhkan negaranya. "Anak-anak kelaparan dan hampir setiap rumah sakit di Venezuela kekurangan obat-obatan," ujarnya.

Pada 23 Januari lalu, Guaido memproklamirkan diri sebagai presiden sementara Venezuela. Hal itu dia lakukan setelah ratusan ribu warga di sana menggelar demonstrasi menuntut Maduro mundur dari jabatannya.

Kepemimpinan Guaido di Venezuela seketika diakui AS. Langkah AS mengakui kepemimpinan Guaido dilakukan pula oleh Israel dan Australia. Saat ini negara-negara Eropa pun ikut membuntuti AS. Maduro telah menyatakan kesediaannya untuk berunding dengan oposisi tanpa prasyarat apa pun. Namun tawaran itu ditanggapi dingin oleh oposisi. (CNNI/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments