Rabu, 24 Jul 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Maduro Resmikan Latihan Perang "Terpenting dalam Sejarah" Venezuela

AS Ajukan Resolusi Pemilu Venezuela ke DK PBB

Maduro Resmikan Latihan Perang "Terpenting dalam Sejarah" Venezuela

admin Selasa, 12 Februari 2019 15:41 WIB
SIB/AFP
Gambar yang dirilis oleh Kantor Pers Kepresidenan Venezuela menunjukkan Presiden Nicolas Maduro (dua kiri depan) bersama Menteri Pertahanan Vladimir Padrino (paling kiri), dan petinggi militer lain menghadiri latihan perang di Fort Guaicaipuro di Negara Bagian Miranda pada Minggu (10/2 ).
Caracas (SIB) -Amerika Serikat mengajukan draf resolusi ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar mendesak Venezuela menggelar pemilihan umum. Sejumlah diplomat AS mengonfirmasi kabar ini, tapi mereka belum mengetahui waktu pasti DK PBB akan melakukan pemungutan suara terkait draf tersebut. Namun, sejumlah diplomat lainnya memperkirakan Rusia sebagai sekutu Presiden Nicolas Maduro akan memveto draf resolusi itu.

Teks draf resolusi yang didapat AFP berisi "Desakan memulai proses politik menuju pemilu presiden yang bebas, adil, dan kredibel, dengan pengawas pemilu internasional, sejalan dengan konstitusi Venezuela." Draf resolusi itu juga meminta Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menggunakan kewenangannya untuk memastikan pemilu itu dilaksanakan.

Selain itu, resolusi itu juga menyuarakan "dukungan penuh bagi Majelis Nasional sebagai satu-satunya institusi di Venezuela yang dipilih secara demokratis."

Pemimpin Majelis Nasional Venezuela, Juan Guaido, sendiri sudah memproklamirkan diri sebagai presiden interim di tengah demonstrasi anti-Maduro besar-besaran pada Januari lalu. Draf resolusi itu juga menekankan "kekhawatiran mendalam atas kekerasan dan penggunaan pasukan berlebih oleh pasukan keamanan Venezuela terhadap demonstran tak bersenjata dan damai."

Lebih jauh, draf itu juga berisi desakan untuk membuka akses bantuan kemanusiaan ke Venezuela. Desakan ini muncul setelah Venezuela melarang bantuan AS masuk ke negara yang tengah dilanda krisis berkepanjangan itu. Di tengah kemelut ini, Guaido menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk mengizinkan intervensi militer AS, demi mendepak Maduro dan mengatasi krisis kemanusiaan di negaranya.

Maduro Resmikan Latihan Perang
Sementara itu, presiden Venezuela Nicolas Maduro meresmikan latihan perang yang diklaim "terpenting dalam sejarah" negara tersebut. Dilaporkan Russian Today Minggu (10/2), latihan perang yang diikuti tentara dan milisi tersebut bakal berlangsung hingga 15 Februari mendatang. Dalam pidatonya di Fort Guaicaipuro, Negara Bagian Miranda, Maduro menyebut latihan tersebut merupakan yang terbesar sepanjang 200 tahun sejarah Venezuela. "Kita harus mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, dan kemerdekaan Venezuela," ujar presiden berusia 56 tahun itu.

Dalam unggahan di Twitter, Maduro menyatakan rasa bangga terhadap kapasitas, logistik, dan kemampuan Pasukan Bolivar yang berisi dua juta tentara serta milisi. Maduro menyatakan saat ini Venezuela mengonsolidasikan doktrin militer "Perang Rakyat Semesta" yang merupakan kelanjutan dari ide mendiang Presiden Hugo Chavez. Kepada Sputnik, presiden yang berkuasa sejak 2013 itu mengatakan bakal melanjutkan investasi pembelian senjata yang diproduksi Rusia.

Maduro menegaskan bakal menyediakan setiap pasukan dan milisi Venezuela dengan senjata terbaru Rusia demi terciptanya perdamaian. Dia juga menekankan setiap pasukan Venezuela siap mati demi mempertahankan negara dari intervensi asing, dan menuturkan rakyat juga berperan dalam pertahanan. "Kami adalah negara damai yang tak ingin berkonflik dengan siapapun. Namun, negara lain harus berpikir jika ingin cari masalah dengan kami," tegas dia.

Venezuela merupakan importir utama persenjataan Kremlin di seluruh negara Amerika Latin, dengan kontrak pembelian itu terjadi sebelum krisis dimulai. Krisis di Venezuela terjadi setelah pemimpin oposisi Juan Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara pada Januari lalu. Deklarasi yang mendapat dukungan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Barat lain itu tidak menampik bakal mengizinkan "intervensi kemanusiaan". Sementara China, Rusia, serta Turki masih menyatakan dukungannya terhadap rezim Maduro. (Sputnik News/Russian Today/AFP/Kps/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments