Kamis, 21 Feb 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Maduro Klaim Venezuela Siap Perang, Bantah Terjadi Krisis Kemanusiaan

Maduro Klaim Venezuela Siap Perang, Bantah Terjadi Krisis Kemanusiaan

admin Rabu, 06 Februari 2019 19:23 WIB
dailymail
Presiden Nicolas Maduro bertemu dengan personil angkatan bersenjata Venezuela di Turiamo, Minggu (3/2). Maduro mengatakan sudah siap angkat senjata jika terjadi perang sipil atau menghadapi campur tangan negara lain.
Caracas (SIB) -Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menyatakan tidak akan menaati peringatan siapapun terkait krisis multidimensi di negaranya. Bahkan, dia mengatakan sudah siap angkat senjata jika terjadi perang sipil atau menghadapi campur tangan negara lain.

"Kami minta tidak ada pihak asing yang ikut campur urusan dalam negeri kami. Dan kami bersiap mempertahankan negara kami. Jika Kekaisaran Amerika Utara menyerang, kami harus mempertahankan negara kami," kata Maduro dalam wawancara dengan stasiun televisi Spanyol, LaSexta, seperti dilansir Associated Press, Selasa (4/2).

Dalam wawancara itu, Maduro menyatakan dia sudah memerintahkan angkatan bersenjata untuk merekrut 50 ribu warga sipil menjadi milisi. Dia menyatakan mereka adalah penduduk yang akan menggalang dukungan di pemukiman, pabrik-pabrik, dan kampus-kampus.

Pada kesempatan itu, Maduro juga menitipkan pesan kepada seterunya, Kepala Majelis Nasional, Juan Guaido. Menurut dia, politikus muda itu masih punya jalan panjang dan jangan membuat gaduh negara itu dengan segala manuver politiknya.

"Tinggalkan taktik kudeta. Berhenti berlagak menjadi presiden yang mana belum tentu ada yang mau memilihnya. Kalau dia mau membicarakan sesuatu, mari kita duduk bersama berbicara empat mata. Mari bicarakan masalah negara ini dan jalan keluarnya. Berpolitik pada tingkat negara butuh tanggung jawab besar dan mendengarkan banyak nasihat," ujar Maduro.

Maduro juga menolak sebutan terjadi krisis kemanusiaan di negaranya. Dia meminta negara-negara lain melihat bangsanya secara utuh, dan tidak hanya dari sudut pandang kelompok pemodal seperti Amerika Serikat.

Pemerintah Venezuela juga menyatakan sedang mengevaluasi kembali kerja sama dengan negara-negara yang mengakui dan mendukung Guaido, sebagai presiden interim. Menurut mereka negara-negara itu ikut campur dalam masalah dalam negeri mereka, dan terseret hasutan Amerika Serikat untuk menggulingkan Maduro.

Maduro juga mengancam akan membuat "Gedung Putih bersimbah darah" jika pemerintahan Donald Trump bersikeras menggulingkannya, dengan cara yang disebutnya sebagai "taktik imperialis kotor".

"Cukup, hentikan, Trump! Anda melakukan kesalahan besar yang akan membuat tangan Anda berlumuran darah, meninggalkan kursi kepresidenan dengan penuh darah," ancam Maduro selama wawancara agresif dengan wartawan Spanyol Jordi …vole. "Mengapa Anda ingin terjadi pengulangan (krisis) Vietnam?" lanjutnya menyasar Trump.

Maduro juga menolak seruan Eropa untuk menggelar pemilu ulang, dengan mengatakan: "Kami tidak menerima ultimatum dari siapa pun. Saya menolak untuk menyerukan pemilihan sekarang, karena akan ada pemilu pada 2024. Kami tidak peduli apa kata Eropa." Dia menambahkan: "Anda tidak dapat mendasarkan politik internasional pada ultimatum. Itulah produk-produk imperialisme, zaman kolonial."

Maduro, yang berkuasa setelah kematian pendahulu sekaligus mentor politiknya, Hugo Chavez, pada 2013, mengisyaratkan ia tidak punya rencana untuk pergi ke mana pun. "Jika imperialisme Amerika Utara menyerang kita, maka kita harus mempertahankan diri ... Kita tidak akan menyerahkan Venezuela," kata Maduro.

PBB memperkirakan bahwa lebih dari 3 juta orang Venezuela telah melarikan diri ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir, untuk menghindari hiperinflasi, kekurangan makanan, obat-obatan dan perawatan kesehatan, serta ketidakamanan kronis.

Angka itu diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 5 juta orang tahun ini Tetapi Maduro membantah bahwa negaranya menderita darurat kemanusiaan dan mengklaim tidak lebih dari 800.000 orang telah melarikan diri. "Venezuela tidak memiliki krisis kemanusiaan," katanya. "Venezuela memiliki krisis politik. Venezuela mengalami krisis ekonomi ... Banyak orang telah tertipu, dan pergi meninggalkan negara ini. Kami akan segera kembali meraih kejayaan," pungkas Maduro.

Sejauh ini sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, berbondong-bondong mengakui Guaido sebagai pemimpin interim negara Amerika Selatan tersebut. "Inggris bersama sejumlah sekutu Uni Eropa lainnya mulai saat ini mengakui @jguaido sebagai presiden sementara Venezuela berdasarkan konstitusi negara sampai pilpres kredibel digelar," kata Menlu Inggris, Jeremy Hunt, melalui Twitter-nya.

Selain Inggris, langkah serupa juga diambil Spanyol. "Spanyol mengumumkan secara resmi bahwa pemerintah mengakui Presiden Majelis Nasional Juan Guaido sebagai pelaksana presiden Venezuela," kata Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez yang juga menuntut Guaido segera menggelar pemilihan umum yang bersih dan bebas.

Selain Inggris dan Spanyol, Amerika Serikat telah lebih dulu mengakui Guaido sebagai pengganti Maduro. Tak hanya melalui politik dan diplomasi, Washington bahkan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan minyak utama Venezuela, PDVSA, yang selama ini pemasukannya menopang rezim Maduro.

AS mengambil langkah itu sebagai bentuk tekanan terhadap Maduro agar mau menyerahkan kewenangan eksekutifnya kepada Guaido. Presiden Donald Trump bahkan menjadikan intervensi militer ke Venezuela sebagai opsi jika krisis politik tak kunjung usai. (CNNI/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments