Minggu, 20 Okt 2019

Kurdi Suriah Mobilisasi Warga untuk Melawan Serbuan Turki

admin Kamis, 10 Oktober 2019 21:18 WIB
Ilustrasi
Suriah (SIB) -Pemerintahan sipil Kurdi Suriah mengumumkan supaya segenap warganya bersiap untuk angkat senjata melawan rencana serangan Turki. Kurdi Suriah menyerukan adanya mobilisasi massal untuk melawan Turki yang berencana melancarkan serangan terhadap mereka. "Kami mengumumkan tiga hari mobilisasi massal di utara dan timur Suriah," ujar pemerintah Kurdi Suriah dalam pernyataan resminya.

Pasukan Turki saat ini dilaporkan sudah bersiaga di wilayah perbatasan Suriah untuk menyerbu kelompok milisi yang dianggap sebagai kelompok teroris itu. Dilansir AFP Rabu (9/10), mereka juga meminta seluruh rakyat sipil untuk bergerak ke perbatasan Turki untuk melawan. Mereka juga meminta kepada warga Kurdi di luar Suriah maupun yang ada di luar negeri untuk menggelorakan aksi protes dengan rencana serangan Ankara. "Kami mengajak semua masyarakat dari seluruh etnis untuk bergerak maju ke daerah perbatasan Turki untuk melakukan perlawanan di masa bersejarah ini," demikian isi pernyataan Pemerintah Otonom Utara dan Timur Suriah, seperti dilansir Associated Press, Rabu (9/10).

Turki mengklaim bahwa mereka sudah merampungkan persiapan untuk menggempur pasukan Kurdi di utara Suriah. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa serangan itu bisa terjadi kapan saja, "tanpa peringatan." Pada Selasa (8/10), Ankara menyatakan mereka bakal memulai "secepatnya" operasi militer dengan konvoi kendaraan bergerak ke perbatasan.

Direktur Komunikasi Turki Fahrettin Altun dalam pernyataannya kepada Washington Post mengatakan: mereka bakal bergerak ke perbatasan "secepatnya". Dia menerangkan pasukan Kurdi bisa "mundur", atau tidak punya pilihan selain menghentikan mereka dari mengganggu upaya Turki menangkal ISIS.

Pemerintah Kurdi mengatakan, AS dan dunia internasional bakal bertanggung jawab jika terjadi "musibah kemanusiaan" di area mereka. Kurdi yang menyokong Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menderita korban paling banyak dalam kampanye menumpas ISIS yang disokong AS. Maret lalu, mereka mengumumkan bahwa ISIS secara teritorial sudah kalah setelah benteng terakhir mereka di desa Baghouz berhasil terebut.

Turki berulang kali menentang bantuan AS ke Kurdi, yang dianggap punya kaitan dengan organisasi Partai Rakyat Kurdistan (YKK). YKK dituding sebagai teroris oleh Turki karena menjadi dalang pemberontakan yang terjadi di negara tersebut sejak 1984 silam.
Rencana serangan ini kembali meningkatkan ketegangan antara Turki dan AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Sesaat setelah mengumumkan rencana ini, Erdogan berbincang dengan Trump melalui telepon. Trump tidak setuju dengan rencana tersebut dan memerintahkan penarikan pasukan AS dari Suriah. Selama ini, AS bekerja sama dengan pasukan Kurdi di Suriah untuk melawan kelompok militan ISIS. AS pun selalu membela Kurdi, walaupun selama ini Turki menganggap kelompok tersebut sebagai teroris yang memberontak.

Kelompok Kurdi pun kecewa karena menganggap AS tidak memenuhi janji untuk melindungi mereka dari Turki. Presiden AS Donald Trump berada dalam tekanan setelah pada Minggu (6/10), dia menyetujui penarikan 50-100 "operator khusus" dari medan utara Suriah. Pasukan itu bertindak sebagai penyangga untuk mencegah rencana serangan Turki ke Kurdi yang sudah direncanakan sejak lama.

Setelah memberikan lampu hijau, Trump dalam serangkaian kicauannya di Twitter nampaknya mulai menarik mundur dengan mengancam bakal "melenyapkan" ekonomi Turki jika bertindak kelewat batas. Selain itu, dia juga membantah hendak mengabaikan Kurdi Suriah dengan menyatakan, Washington memberikan bantuan senjata dan finansial. (AP/CNNI/AFP/kps/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments