Rabu, 24 Jul 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Korsel Bersedia Bayar Lebih Mahal agar Tentara AS Tetap Bertahan

Korsel Bersedia Bayar Lebih Mahal agar Tentara AS Tetap Bertahan

admin Senin, 11 Februari 2019 16:12 WIB
SIB/Rtr
Menteri Luar Negeri Korsel Kang Kyung-wha (kanan) berfoto bersama Timothy Betts, pejabat Kementerian Luar Negeri AS di sela-sela pertemuan keduanya di kantor Kementerian Luar Negeri Korsel, Minggu (10/2) di Seoul. Dalam pertemuan tersebut, Korsel bersedia membayar lebih mahal agar pasukan AS tetap bertahan di negara yang masih dalam status perang dengan Korut tersebut.
Seoul (SIB) -Pemerintah Korea Selatan menyatakan kesediaan untuk membayar lebih mahal agar pasukan militer Amerika Serikat bertahan di negara itu. Seperti diketahui, kedua negara merupakan sekutu keamanan sejak Perang Korea 1950-1953, yang berakhir dengan gencatan senjata dan bukan perjanjian damai. Ada lebih dari 28.000 tentara AS ditempatkan di Korea Selatan untuk berjaga-jaga terhadap ancaman Korea Utara. Namun, Presiden AS Donald Trump kerap mengeluhkan tentang biaya penempatan pasukannya di negara itu. Pemerintah AS disebut meminta Seoul untuk menggandakan kontribusi pembiayaan.

Laporan kantor berita AFP, Minggu (10/2), menyebutkan, negosiasi berakhir dengan Kementerian Luar Negeri Korsel akan membayar sekitar 1,04 triliun won atau sekitar Rp 12,9 triliun pada 2019. Nominal itu jauh lebih tinggi 8,2 persen yang ditawarkan dalam kesepakatan lima tahun sebelumnya, yang telah berakhir pada akhir 2018. Kemenlu Korsel menyatakan, meski AS menuntut peningkatan biaya yang lebih besar, pemerintah mampu mencapai kesepakatan yang mencerminkan situasi keamanan Semenanjung Korea. "Kedua negara menegaskan kembali pentingnya aliansi Korea Selatan-AS yang kuat dan perlunya penempatan pasukan AS yang stabil," demikian pernyataan Kemenlu Korsel.

Perselisihan soal biaya sempat menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan Trump menarik pasukan AS dari Korsel. Trump pernah berujar dalam wawancara dengan CBS pekan lalu, yakni ada kemungkinan suatu hari nanti akan menarik pasukan dari negara tersebut. "Sangat mahal untuk menjaga keberadaan pasukan di sana," katanya. Namun, dia meyakinkan bahwa tidak ada rencana menarik pasukan AS dari Korsel sebagai bagian dari kesepakatan pada pertemuan keduanya dengan pemimpin Korut Kim Jong Un akhir bulan ini. Kesepakatan hanya berlaku untuk setahun sehingga kedua belah pihak harus segera kembali ke meja perundingan.

Pemerintah Korsel berkontribusi sekitar 960 miliar won atau Rp 11,9 triliun pada tahun lalu untuk membiayai pembangunan fasilitas militer AS. Biaya yang 40 persen melebihi total tagihan itu juga dipakai untuk membayar warga sipil yang bekerja di pangkalan militer AS.

Trump Pilih Hanoi
Saat pidato kenegaraan tahunan atau State of Union pada 5 Februari lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan rencana perjumpaan keduanya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Pria berusia 72 tahun itu menyebut Vietnam menjadi negara yang akan menggelar kencan dua hari mereka pada 27-28 Februari 2019. Melansir dari NBC News, Sabtu (9/2), Trump telah mengonfirmasi lebih rinci tentang lokasi pertemuannya dengan Kim, yaitu di ibu kota Vietnam, Hanoi.

"Perwakilan saya baru saja meninggalkan Korea Utara setelah pertemuan yang sangat produktif dan disepakati waktu dan tanggal untuk KTT kedua dengan Kim Jong Un," kicaunya di Twitter. "Pertemuan akan digelar di Hanoi, Vietnam, pada 27-28 Februari. Saya berharap berjumpa Ketua Kim dan memajukan tujuan perdamaian," imbuhnya. Seperti diketahui, pada pertemuan pertama tahun lalu di Singapura, Trump dan Kim menyepakati langkah menuju denuklirisasi Korea Utara secara penuh dan terverifikasi. Namun, hanya ada sedikit kemajuan konkret pada rencana denuklirisasi.

Laporan dari pejabat AS menunjukkan, Pyongyang terus mengembangkan rudal balistik di lokasi yang tidak diumumkan. Sekali lagi, Trump justru memuji Kim melalu kicauan di Twitter. Dia juga berjanji akan membantu mendorong Korea Utara menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang hebat. "Korea Utara, di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, akan menjadi kekuatan ekonomi yang hebat," kicaunya. "Dia mungkin mengejutkan beberapa orang, tapi dia tidak akan mengejutkan saya karena saya telah mengenalnya dan memehami betapa cakapnya dia," lanjutnya. "Korea Utara akan menjadi sejenis Roket yang berbeda, yang berekonomi," imbuhnya.

Sementara itu, Utusan Khusus AS untuk Korea Utara Stephen Biegun memang telah mengunjungi Pyongyang selama tiga hari untuk mempersiapkan KTT kedua antara kedua negara. Biegun dan perwakilan Korut, Kim Hyok Chol, sepakat untuk bertemu lagi menjelang pertemuan akhir bulan ini. Biegun juga menyempatkan diri berjumpa dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatang Kang Kyung Wha pada Sabtu untuk memberi penjelasan singkat tentang perkembangan terkini terkait Korut. "Diskusi kami produktif," katanya, usai bertemu Kang. "Presiden sangat menantikan pengambilan langkah selanjutnya. Ada kerja keras yang harus dilakukan dengan Korut sekarang dan kemudian," tuturnya. (AFP/NBC News/kps/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments