Rabu, 20 Nov 2019

Korban Jiwa Akibat Ledakan di Afghanistan Jadi 62 Orang

bantors Minggu, 20 Oktober 2019 14:09 WIB
theguardian.com
Warga menggotong seorang remaja yang terluka akibat ledakan di sebuah masjid di distrik Haska Mina, Afghanistan, pada Jumat (18/10). Militan Taliban mengecam serangan yang menewaskan 62 orang.
Kabul (SIB) -Jumlah korban jiwa akibat ledakan diduga bom di sebuah masjid di Afghanistan telah bertambah menjadi 62 orang. Serangan terjadi saat salat Jumat tengah berlangsung di masjid tersebut. Serangan mematikan tersebut terjadi di provinsi Nangarhar, Afghanistan timur dan juga melukai setidaknya 33 orang. Juru bicara pemerintah Afghan, Attaullah Khogyani mengatakan, ledakan timbul akibat bahan peledak yang ditempatkan di dalam masjid. Namun menurut sumber-sumber lain, termasuk kelompok militan Taliban, gedung masjid tersebut kemungkinan telah terkena serangan mortir.

Belum ada pihak atau kelompok yang mengklaim serangan tersebut. Juru bicara Taliban mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/10), bahwa kelompoknya "mengutuk kekejaman ini sekeras-kerasnya" dan menyebut serangan itu sebagai "kejahatan besar". Diketahui bahwa kelompok radikal ISIS juga aktif di wilayah Nangarhar.

Menurut saksi-saksi mata, atap masjid ambruk setelah ledakan besar. Sekitar 350 jemaah tengah berada di dalam masjid saat kejadian pada Jumat (18/10) siang waktu setempat itu. "Puluhan orang yang tewas dan luka-luka dibawa dalam beberapa ambulans," kata warga setempat, Haji Amanat Khan (65) kepada AFP.

Sekjen PBB Antonio Guterres, lewat juru bicaranya, mengatakan bahwa anak-anak termasuk di antara korban luka dalam serangan itu. Ledakan ini terjadi sehari setelah PBB merilis sebuah laporan baru yang menyatakan bahwa kekerasan di Afghanistan telah mencapai level "yang tak bisa diterima".

"Korban warga sipil benar-benar tak bisa diterima," tegas Tadamichi Yamamoto, perwakilan khusus PBB di Afghanistan. Disebutkan bahwa terhitung sejak 1 Juli hingga 30 September tahun ini, sebanyak 1.174 orang tewas dan 3.139 orang luka-luka akibat berbagai kekerasan di negeri itu -- atau naik 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. PBB menyalahkan lonjakan jumlah korban tersebut pada unsur-unsur antipemerintah seperti Taliban, yang telah melakukan pemberontakan di Afghanistan selama lebih dari 18 tahun. (Detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments