Sabtu, 14 Des 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Kelaparan Makin Buruk, Anak-anak di Venezuela Tidak Mau Sekolah

Kelaparan Makin Buruk, Anak-anak di Venezuela Tidak Mau Sekolah

redaksi Senin, 02 Desember 2019 20:24 WIB
today.line.me
Ilustrasi anak-anak di Venezuela tidak mau bersekolah akibat kelaparan yang semakin buruk di negara tersebut.
Boca De Uchire (SIB)
Krisis pangan yang membuat kelaparan warga Venezuela makin buruk. New York Times melaporkan, kelaparan itu kini juga dialami anak-anak. Mereka sampai pingsan di sekolah. Ini terjadi di sekolah Augusto D'Aubeterre Lyceum, pada di Boca de Uchire. Dalam upacara di pagi hari, Pendeta Jorge Quintero memimpin doa di lapangan sekolah. Kepada ratusan siswa, Quintero meminta agar mereka saling mendoakan anak-anak di jalanan yang tidak bisa bersekolah.

Setelah 15 menit doa dan upacara, lima anak terjatuh dan pingsan. Dua di antaranya dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Di sekolah dasar itu, pingsan telah menjadi peristiwa sehari-hari. Sebab, banyak anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan dan makan malam sehari sebelumnya. Sementara di sekolah lain, para siswa akan berangkat sekolah jika mereka tahu akan makan atau tidak. "Anda tidak bisa mengajar tulang dan orang kelaparan," kata Maira Marín, seorang guru sekaligus pemimpin serikat di Boca de Uchire.

Banyak sekolah yang tutup karena guru dan muridnya sama-sama mencari makan di jalan atau kabur ke luar negeri. Bolosnya murid-murid ini sudah mulai terlihat sejak Presiden Nicolas Maduro naik pada 2013. Jatuhnya harga minyak, ditambah dengan gagalnya Maduro mengendalikan inflasi dan nilai tukar membuat Venezuela menghadapi resesi ekonomi. Beberapa anak-anak Venezuela mulai bolos karena sekolah mereka tidak lagi memberi makan gratis atau orangtua mereka tidak sanggup membayar sekolah.
Anak-anak lainnya dibawa orangtua mereka ke luar negeri. Laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melaporkan empat juta warga Venezuela telah pergi sejak 2015. Memilih mencari makan Pada tahun ajaran yang dimulai September ini, sebagian dari 550.000 guru tidak hadir, menurut data serikat guru.

Mereka meninggalkan gaji 8 dolar AS sebulan sebagai guru untuk mencari peruntungan di negara lain atau menambang emas ilegal yang sedang marak. Di negara bagian Venezuela yang paling padat, Zulia, sekira 60 persen dari 65.000 guru telah pergi meninggalkan profesinya dalam beberapa tahun terakhir. "Mereka mengatakan ke kami bahwa mereka memilih mengecat kuku untuk beberapa dolar dibanding bekerja menjadi guru dengan upah minimal," ujar Alexander Castro, pemimpin serikat guru di Zulia.
Untuk tetap menghidupkan sekolah, guru yang tersisa kadang mengajar seluruh pelajaran atau menggabungkan siswa dengan tingkatan berbeda dalam satu kelas.

Di desa Parmana di tengah Venezuela, bahkan hanya empat dari 150 siswa yang tetap bersekolah di bulan Oktober. Keempat siswa dengan usia bervariasi itu, harus belajar di satu kelas tanpa listrik. Mereka belajar membaca, aljabar, dan semua pelajaran bersama-sama. Anak-anak lainnya, ikut orangtua mereka di sawah atau melaut untuk menghidupi keluarga mereka.

Di kota terbesar kedua Venezuela, Maracaibo, satu sekolah sampai memasang spanduk yang berbunyi, "Mohon masuk sekolah walaupun tanpa seragam." Anak-anak hanya mau datang jika sekolah menyediakan makanan. Sekolah terbesar di kota itu, tidak lagi punya kamar mandi yang berfungsi. Sekolah yang tadinya menampung 3.000 siswa, kini hanya punya 100 murid.
Di kota Santra Barbara, separuh guru satu sekolah tidak kembali setelah libur musim panas. Kepala sekolahnya terpaksa meminta tolong orangtua untuk menjadi relawan dan mengajar. Sementara di kota Rio Chico, banyak ruang kelas dikunci karena tidak ada lagi guru maupun murid. Murid yang masih bertahan, hanya bertanya di mana juru masak sekolah.

Krisis ekonomi melanda Venezuela selama enam tahun terakhir. Kini sekolah menjadi salah satu sistem yang terdampak. Padahal dulu Venezuela adalah negara dengan minyak berlimpah. Minyak itu yang mensejahterakan Venezuela selama beberapa dekade terakhir. Sekolah-sekolah di Venezuela, tadinya cukup berkualitas, bahkan yang di pedalaman pun mampu mengirimkan para pelajarnya lanjut sekolah di Amerika Serikat. Pendahulu Presiden Maduro, Hugo Chávez, menetapkan sekolah negeri sebagai pilar dari kampanye "Sosialisme Abad 21" yang digagasnya.

Chavez Membangun Ratusan Sekolah
Berpuluh-puluh tahun sebelum 2013, pertumbuhan sekolah di Venezuela berlangsung stabil. Ini berkat disediakannya makanan di sekolah, alat belajar, hingga uang saku yang disediakan kepada para pelajar. Kebijakan populis itu, sayangnya lebih berfokus pada kuantitas dibandingkan kualitas. Seiring dengan merosotnya perekonomian Venezuela, program pendidikan yang dibanggakan Chavez pun runtuh.

Namun kini, semua kesuksesan itu sirna akibat kelaparan. Jutaan warga Venezuela telah pergi dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan jumlah guru dan murid berkurang. Banyak di antara guru yang tetap bertahan di Venezuela, tidak lagi mengajar. Gaji mereka tidak ada artinya di tengah hiperinflasi yang melanda Venezuela. Buruknya sistem pendidikan di Venezuela kini, dikhawatirkan akan berdampak pada pertumbuhan negara dan anak-anak sendiri. Stunting menjadi salah satu bahaya dari krisis pangan. "Satu generasi tertinggal," kata Luis Bravo, peneliti pendidikan dari Central University, Venezuela. "Sistem pendidikan hari ini tidak bisa membuat anak menjadi anggota masyarakat yang penting," lanjut dia.

Maduro mengklaim tetap berfokus pada pendidikan kendati perang ekonomi yang brutal sedang berlangsung. "Di Venezuela, tidak ada satu pun sekolah yang tutup atau akan tutup, tidak ada satu pun," kata Maduro pada April lalu. "Kami tidak akan menyulitkan akses pendidikan," kata dia.

Untuk mengembalikan jumlah guru, pada Agustus lalu, Maduro berjanji akan mengirim anggota muda partainya untuk mengisi kelas-kelas kosong. Para pengamat ragu langkah ini bakal berhasil atau bahkan benar-benar bisa terlaksana. Di saat yang sama, lulusan sarjana pendidikan di Venezuela juga berkurang. Di Libertador Experimental Pedagogical University, lulusan dari 2014 ke 2018 berkurang hingga 70 persen. Guru dan anak-anak menjadi salah satu korban yang paling menderita akibat keruntuhan ekonomi Venezuela. (New York Times/kps/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments