Minggu, 22 Sep 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Dua Kapal Tanker Arab Saudi Diserang di Dekat Perairan UEA

Dua Kapal Tanker Arab Saudi Diserang di Dekat Perairan UEA

* Iran Anggap Militer AS di Teluk sebagai Target
admin Selasa, 14 Mei 2019 17:28 WIB
SIB/Dok
Pelabuhan Fujairah satu-satunya terminal di UAE yang berlokasi di pantai Laut Arabia, yang melintasi Selat Hormuz, dan merupakan jalur pengapalan ekspor minyak dari negara-negara Teluk.
Riyadh (SIB) -Arab Saudi menyebut dua kapal tanker minyak miliknya diserang di perairan dekat Uni Emirat Arab (UAE). Saudi mengecam serangan yang disebutnya 'serangan sabotase' sebagai upaya membahayakan keamanan suplai minyak mentah global. Seperti dilansir Reuters, Senin (13/5), otoritas UAE dalam pernyataannya menyebut empat kapal komersial diserang di dekat Emirat Fujairah, salah satu pusat bunkering (pengisian minyak) terbesar dunia yang ada di dekat Selat Hormuz. Tidak disebut lebih lanjut oleh UAE soal kronologi penyerangan atau siapa pelaku penyerangan. Disebutkan UAE bahwa tidak ada korban tewas dan operasional di Pelabuhan Fujairah masih berlangsung normal.

Selat Hormuz yang dikenal sebagai rute penyaluran minyak dan gas global yang penting, memisahkan negara-negara Teluk dan Iran. Serangan ini terjadi saat Iran sedang terlibat perang kata-kata dengan Amerika Serikat (AS) terkait sanksi-sanksi dan kehadiran militer AS di dekat wilayah Iran.

Menteri Energi Saudi, Khalid al-Falih, menyatakan bahwa salah satu dari dua kapal Saudi yang diserang itu sedang dalam pelayaran untuk diisi muatan minyak mentah Saudi dari Pelabuhan Ras Tanura, untuk selanjutnya dikirimkan ke pelanggan-pelanggan Saudi Aramco di AS.

Laporan Saudi Press Agency (SPA) menyatakan serangan itu tidak memicu korban jiwa atau memicu tumpahan minyak. SPA hanya menyebut bahwa serangan itu memicu kerusakan struktur yang signifikan terhadap dua kapal Saudi. Sumber-sumber perdagangan dan pelayaran mengidentifikasi kapal-kapal Saudi itu sebagai kapal tanker bernama Amjad yang merupakan jenis VLCC (very large crude carrier) yang dimiliki Perusahaan Pelayaran Nasional Arab Saudi (Bahri) dan kapal tanker minyak mentah Al Marzoqah. Belum ada komentar dari Bahri terkait insiden ini.

Disebutkan lebih lanjut oleh Falih bahwa serangan itu diduga dimaksudkan untuk merusak kebebasan maritim dan 'keamanan suplai minyak kepada para konsumen di seluruh dunia'. "Komunitas internasional memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi keamanan navigasi maritim dan keamanan kapal-kapal tanker, untuk mengurangi konsekuensi merugikan dari insiden semacam itu terhadap pasar energi dan bahaya yang diberikan untuk perekonomian global," sebut Falih dalam pernyataannya.
Iran: Serangan Mengkhawatirkan

Menanggapi insiden di UAE, pemerintah Iran menyebutnya sebagai insiden 'mengkhawatirkan dan mengerikan'. Iran meminta penyelidikan dilakukan terhadap insiden tersebut. "Insiden yang terjadi di Laut Oman mengkhawatirkan dan sangat disesalkan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi, dalam pernyataannya, Senin (13/5).

Pihaknya turut menyerukan agar segera dilakukan penyelidikan terhadap serangan dan memperingatkan kepada para pelaut asing akan adanya gangguan keamanan maritim.

Secara terpisah, Otoritas Maritim AS menyatakan dalam pernyataannya bahwa insiden di dekat Fujairah belum terkonfirmasi dan menyerukan kewaspadaan tinggi saat transit di perairan tersebut. AS menyebut 'serangan atau sabotase belum diketahui'. Awal bulan ini, AS memperingatkan bahwa sejumlah kapal komersial AS termasuk kapal-kapal tanker yang berlayar melalui jalur perairan Timur Tengah bisa menjadi target Iran. AS selalu menganggap Iran mendatangkan ancaman bagi kepentingan dan keamanan nasionalnya.

Pelabuhan Fujairah adalah satu-satunya terminal di UEA yang terletak di pesisir Luat Arab dan melewati Selat Hormuz, rute pengiriman global yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari negara Teluk. Mousavi menuntut dilakukannya klarifikasi terkait serangan terhadap kapal-kapal di Teluk, pada Minggu lalu. Dia menyebut insiden itu berpotensi memberi dampak negatif terhadap keselamatan pengiriman dan keamanan maritim di Teluk.

Insiden serangan terhadap kapal-kapal tangker itu terjadi di tengah peningkatan ketegangan antara Iran dan AS yang telah menambah kehadiran militernya di kawasan Teluk, dengan mengerahkan armada angkatan laut, pesawat pembom strategis, hingga sistem peluncur roket.

Target yang Bisa Diserang
Sebelumnya, seorang komandan senior Garda Revolusi Iran menyebut kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di dekat wilayah Iran saat ini dipandang sebagai target yang bisa diserang, bukan lagi sekadar dianggap sebagai ancaman serius seperti sebelumnya. Diketahui bahwa militer AS telah mengirimkan sejumlah armada termasuk satu kapal induk dan pesawat pengebom B-52, ke kawasan Timur Tengah dalam langkah yang disebut para pejabat AS untuk menangkal 'indikasi jelas' ancaman Iran untuk militer AS di kawasan tersebut.

Kapal induk AS bernama USS Abraham Lincoln menggantikan kapal AS lainnya dalam misi di kawasan Teluk, bulan lalu. "Satu kapal induk yang setidaknya membawa 40-50 pesawat di atasnya dan 6 ribu personel di dalamnya, merupakan ancaman serius bagi kita di masa lalu, tapi sekarang itu merupakan target dan ancaman telah bergeser menjadi kesempatan," ujar Kepala Divisi Dirgantara Garda Revolusi Iran, Amirali Hajizadeh, seperti dilaporkan kantor berita ISNA dan dilansir Reuters, Senin (13/5). "Jika mereka (AS) mengambil langkah, kita akan menyerang mereka," imbuhnya.

Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, mengambil langkah untuk menghentikan ekspor minyak Iran, demi membuat Iran menghentikan program nuklir dan rudalnya, serta mengakhiri dukungan untuk proxy Iran di Suriah, Irak, Lebanon dan Yaman.

Secara terpisah saat berbicara kepada CNBC, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyebut pengerahan armada militer ke kawasan Timur Tengah merespons informasi intelijen soal potensi serangan Iran dan bertujuan menangkal serangan itu dan menanggapinya jika diperlukan. "Kita telah melihat laporan ini. Sungguh nyata. Tampak seperti sesuatu yang aktual, itulah yang kita khawatirkan saat ini," sebut Pompeo.

"Jika Iran memutuskan untuk menyerang kepentingan AS -- baik di Irak atau Afghanistan atau Yaman atau lokasi lain di Timur Tengah -- kita bersiap untuk merespons dalam cara yang pantas," tegas Pompeo sembari menegaskan bahwa 'tujuan kita bukanlah perang'.
Sementara itu, Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Muda Hossein Khanzadi, menyatakan agar militer AS segera keluar dari kawasan Timur Tengah. "Kehadiran (militer) Amerika di kawasan Teluk Persia telah mencapai akhir dan mereka harus meninggalkan kawasan ini," tegasnya.

Sedangkan Mayor Jenderal Hossein Salami yang ditunjuk menjadi Panglima Garda Revolusi Iran bulan lalu, menuturkan kepada parlemen Iran pada Minggu (12/5) waktu setempat, bahwa AS telah memulai perang psikologis di kawasan Timur Tengah.

"Komandan Salami, dengan memperhatikan situasi di kawasan, menampilkan sebuah analisis bahwa Amerika telah memulai perang psikologis karena kedatangan dan kepergian militer mereka telah menjadi urusan normal," sebut juru bicara parlemen Iran, Behrouz Nemati. (Rtr/Detikcom/AFP/Kps/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments