Senin, 21 Okt 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Dituduh AS Serang Pabrik Minyak Arab Saudi, Iran Siap Perang

Dituduh AS Serang Pabrik Minyak Arab Saudi, Iran Siap Perang

* PBB Minta Semua Pihak Menahan Diri
admin Selasa, 17 September 2019 20:01 WIB
afp
Asap mengepul dari kebakaran di fasilitas perusahaan minyak Aramco di Abqaiq, Arab Saudi, setelah serangan drone pada Sabtu dini hari (14/9). Iran menyatakan siap perang menanggapi tudingan AS, yang muduh Teheran dalang serangan terhadap fasilitas kilang minyak milik Arab Saudi tersebut.
Teheran (SIB) -Iran menyatakan mereka bersiap perang setelah sebelumnya dituduh AS sebagai dalang serangan drone ke pabrik minyak Arab Saudi. Menteri Luar Negeri AS MIke Pompeo menyalahkan Iran atas serangan drone di fasilitas minyak Aramco yang berlokasi di Provinsi Timur Sabtu dini hari (14/9). Dilansir Al Jazeera Minggu (15/9), Pompeo menyebut tidak ada bukti serangan itu datang dari Yaman, seperti yang diklaim oleh kelompok Houthi. "Sekarang, Iran telah melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ke persediaan energi dunia," terang mantan Direktur CIA itu.

Sumber dari intelijen kepada Associated Press memaparkan data yang mereka punya. Termasuk citra satelit yang memperlihatkan kondisi pasca-serangan. Pejabat intelijen itu menerangkan, dampak yang terlihat berdasarkan citra satelit menunjukkan arah serangan dari Iran, alih-alih Yaman. Alat tambahan yang nampaknya gagal dalam menghantam targetnya saat ini diamankan dan dianalisa oleh dinas intelijen AS serta Arab Saudi.

Melalui juru bicara menteri luar negeri Abbas Mousavi, Teheran menyanggah tuduhan yang dilayangkan AS atas serangan di Abqaiq dan Khurais. Dikutip Sky News, Mousavi mengatakan Washington saat ini menerapkan "tekanan maksimum" karena kegagalan dalam "kebohongan maksimum" kepada Iran. "Ucapan itu seperti rencana intelijen dan organisasi rahasia untuk merusak reputasi negara kami, dan membenarkan 'aksi' AS atas kami," terang Mousavi.

Sayap elite militer Iran, Garda Revolusi, kemudian menyatakan bahwa mereka sudah mempersiapkan diri jika terjadi "perang skala besar". Komandan Korps Angkasa Garda Revolusi menyatakan, rudal Iran bisa menghancurkan pangkalan maupun kapal perang AS dalam jarak 2.000 kilometer. "Dikarenakan situasi yang sensitif dan tensi yang meningkat, kawasan kami saat ini seperti bubuk mesiu yang siap meledak," ujar Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh.

Meski demikian, Hajizadeh berkata baik Teheran maupun AS tidak menginginkan adanya konflik. Tetapi dia menuturkan situasi itu mungkin terjadi jika ada kesalahpahaman. "Tentu saja para pasukan yang saling berhadapan bisa melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan perang. Kami sudah bersiap jika situasi itu terjadi," ujar Hajizadeh.

Senator Lindsey Graham, politisi Republik yang dekat dengan Presiden Donald Trump mendesak adanya serangan ke kilang minyak Iran sebagai balasan. "Iran tak akan menghentikan perilaku ngawur mereka hingga kita memberi konsekuensi, seperti menyerang fasilitas mereka, untuk menghancurkan rezim itu," kata Graham di Twitter.

Hajizadeh kemudian menanggapi dengan mengancam mereka bisa menyerang balik jika Gedung Putih sampai menggunakan militer untuk membalas mereka. Dia kemudian menyebut Pangkalan Al Udeid di Qatar, maupun Pangkalan Al Dhafra di Abu Dhabi, termasuk kapal perang di Teluk dan Laut Arab dijadikan sebagai target rudal mereka.

AS Siap Kerahkan Pasukan
Sementara itu, Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat siap kirim pasukan demi merespons serangan pesawat nirawak atau drone terhadap dua kilang minyak Arab Saudi, Aramco, pada Sabtu pekan lalu. Dalam kicauannya di Twitter, Trump juga mengaku bahwa AS mengetahui siapa dalang di balik serangan itu meski tidak menyebutkannya.

"Pasokan minyak Saudi diserang. Ada alasan untuk percaya bahwa kami mengetahui siapa pelakunya, kokang senjata akan dilakukan tergantung verifikasi," kata Trump pada Minggu (15/9). "Kami menunggu untuk mendengar dari Kerajaan Saudi siapa yang mereka yakini sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan ini di bawah persyaratan seperti apa kami akan meresponsnya," ujar dia.

Ini adalah pertama kalinya Trump mengisyaratkan respons militer terhadap serangan drone yang menerjang fasilitas minyak Saudi dalam beberapa waktu terakhir. Serangan drone terbaru ini dikabarkan memangkas setengah produksi minyak Saudi hingga membuat Riyadh dan Washington berencana menggunakan cadangan strategis mereka. Pemberontak Houthi di Yaman mengklaim serangan drone terbaru itu. Namun, di tempat terpisah, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuding Iran yang bertanggung jawab atas "agresi" itu.

"Tidak ada bukti bahwa serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pasokan energi dunia ini diluncurkan dari Yaman," kata Pompeo seperti dilansir AFP. "Amerika akan bekerja dengan mitra dan sekutu kami untuk memastikan bahwa pasar energi tetap dipasok dengan baik dan Iran bertanggung jawab atas agresi tersebut."

Juru bicara Kemlu Iran, Abbas Mousavi, menganggap tuduhan dan pernyataan AS "yang buta dan sia-sia seperti itu tidak dapat dipahami dan dimengerti." Mousavi menganggap tudingan AS itu sengaja untuk merusak reputasi Iran.

Trump sendiri telah menelepon Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan menunjukkan dukungan AS atas keamanan dan stabilitas kerajaan itu. Putra mahkota berjuluk MBS itu kemudian meyakinkan Trump bahwa negaranya siap dan akan mengonfrontasi serta menangani segala agresi teroris. Akibat serangan itu, Aramco menjelaskan bahwa 5,7 juta barel produksi minyak mereka hilang. Sementara produksi ethana dan gas alam berkurang setengahnya.

PBB Minta Semua Pihak Menahan Diri
Sekjen PBB Antonio Guterres mengutuk keras penyerangan ke fasilitas minyak milik Arab Saudi. Guterres meminta semua pihak untuk menahan diri. "Sekretaris Jenderal mengecam serangan Sabtu terhadap fasilitas minyak Aramco di Provinsi Timur di Kerajaan Arab Saudi yang diklaim oleh Houthi," kata juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, seperti dikutip dari Reuters, Senin (16/9).

Guterres juga meminta semua pihak untuk mematuhi hukum humaniter Internasional. "Sekretaris Jenderal menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri secara maksimal, mencegah eskalasi di tengah ketegangan yang meningkat dan untuk mematuhi setiap saat dengan Hukum Humaniter Internasional," kata Dujarric, mengutip Guterres.

Pemerintah China juga menyerukan Amerika Serikat dan Iran untuk menahan diri setelah serangan drone ke fasilitas minyak Arab Saudi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan bahwa tidaklah bertanggung jawab untuk menuduh pihak-pihak lain "tanpa adanya investigasi atau putusan konklusif". "Sikap pihak China adalah bahwa kami menentang semua tindakan yang memperbesar atau mengintensifkan konflik," ujarnya kepada para wartawan dalam konferensi pers di Beijing seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (16/9). "Kami harap agar kedua pihak bisa menahan diri dan bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas Timur Tengah," imbuhnya.

Kementerian Dalam Negeri Saudi sudah melakukan penyelidikan terhadap serangan-serangan drone itu. Asal serangan drone itu tidak disebut lebih lanjut oleh otoritas Saudi.

Sementara itu, Inggris meminta kelompok pemberontak Houthi Yaman harus berhenti menargetkan infrastruktur sipil dan komersial milik Saudi. Kelompok Houthi ini juga menyerang dua pabrik di jantung industri minyak Arab Saudi, termasuk fasilitas pemrosesan minyak bumi terbesar di dunia. "Serangan yang sama sekali tidak dapat diterima pada fasilitas minyak di Arab Saudi pagi ini," ujar Menteri Luar Negeri Inggris yang bertanggungjawab untuk urusan Timur-Tengan dan Afrika Utara, Andrew Murrison, seperti dilansir Reuters, Minggu (15/9). (Sky News/Al Jazeera/kps/CNNI/dtc/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments