Kamis, 18 Jul 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Diserang "Drone" Bersenjata Houthi, Saudi Tutup Jaringan Pipa Minyak

Diserang "Drone" Bersenjata Houthi, Saudi Tutup Jaringan Pipa Minyak

* Serangan Kapal Tanker Ancam Pasokan Minyak Global
admin Kamis, 16 Mei 2019 15:35 WIB
Riyadh (SIB) -Serangan drone atau pesawat tak berawak yang diklaim oleh pemberontak Yaman, Houthi, membuat Arab Saudi harus menutup salah satu jaringan pipa minyak utama. Serangan tersebut semakin meningkatkan ketegangan di wilayah Teluk setelah sabotase misterius beberapa kapal di Uni Emirat Arab. Laporan kantor berita AFP menyebutkan, dua stasiun pompa minyak telah menjadi target drone pada Selasa (14/5) pagi.

Dua stasiun itu terletak di East West Pipeline, yang mampu memompa lima juta barel minyak sehari dari Provinsi Timur yang kaya minyak ke pelabuhan di Laut Merah. Menteri Energi Khalid al-Falih mengatakan perusahaan Aramco telah menutup sementara pipa sehingga peninjauan kondisi bisa dilakukan. Meski demikian, dia meyakini hal tersebut tidak akan menganggu produksi minyak dan ekspor. "Ini aksi terorisme yang tidak hanya menargetkan kerajaan tetapi juga keamanan pasokan minyak dunia dan ekonomi global," katanya.

Pipa sepanjang 1.200 km itu berfungsi sebagai alternatif ekspor minyak mentah Saudi apabila Selat Hormuz akan ditutup. Iran berulang kali mengancam akan menutup selat itu jika terjadi konfrontasi militer dengan AS. Juru bicara kelompok Houthi, Mohammed Abdulsalam, menyatakan serangan drone tersebut merupakan respons terhadap agresor yang terus melakukan genosida terhadap Yaman. "Ada perasi unik lainnya jika para penyerang melanjutkan kejahatan mereka dan memblokade," demikian pernyataan kelompok tersebut. "Kami mampu melaksanakan operasi unik pada skala yang lebih besar dan lebih luas di jantung negara-negara musuh," lanjutnya. Seperti diketahui, Saudi dan UEA melakukan intervensi dalam perang Yaman pada Maret 2015.

Sebelum serangan drone di stasiun pompa minyak, kapal tanker minyak Saudi Al-Marzoqah dan Amjad disabotase di Fujairah bersama dengan kapal tanker Norwegia Andrea Victory dan kapal Emirat, A. Michel. Tidak ada korban dalam insiden tersebut, dan tidak ada kapal yang tenggelam. Namun Saudi mengklaim, dua kapal tankernya mengalami kerusakan signifikan meski tidak ada minyak yang tumpah. UEA menggandeng Saudi, AS, Perancis, dan Norwegia dalam penyelidikan serangan kapal.

Serangan sabotase tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan minyak global. Sebab, Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan ekspor minyak mentah global terutama bagi produsen utama yakni Kuwait dan Arab Saudi. Sekitar 40 persen minyak mentah dunia diangkut melalui Selat Hormuz. Selain itu, Pelabuhan Fujairah juga memegang peranan penting dan sangat signifikan dalam perdagangan minyak global. Fujairah berjarak sekitar 140 kilometer sebelah selatan dari Selat Hormuz.

Ancaman dan gangguan yang terjadi di Selat Hormuz telah membuat kegelisahan di pasar minyak global, karena harga patokan minyak mentah Brent naik menjadi lebih dari 71,50 dolar AS per barel pada Senin lalu dengan perubahan 1,3 persen.

Menteri Energi Arab Saudi, Khalid Al-Falih mengatakan, dua kapal tanker milik Saudi menjadi korban serangan sabotase pada Ahad lalu sekitar pukul 6.00 waktu setempat. Falih mengatakan, serangan tersebut tidak menimbulkan korban dan tumpahan minyak. Namun, dia mengakui bahwa serangan sabotase itu dapat mempengaruhi keamanan pasokan minyak dunia.

"Ini adalah tanggung jawab bersama masyarakat internasional untuk melindungi keselamatan navigasi maritim dan keamanan kapal tanker minyak, untuk mengurangi dampak buruk dari insiden seperti itu di pasar energi, dan bahaya yang ditimbulkannya terhadap ekonomi global," ujar Falih dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Saudi Press Agency, Selasa (14/5).

Departemen Energi Amerika Serikat (AS) langsung memantau pasar minyak dan optimistis mereka tetap mendapatkan pasokan yang baik. Dilaporkan New York Times, penurunan pengiriman minyak dan kenaikan harga mungkin akan memukul importir Asia seperti Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Sementara, Iran, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirate Arab sebagai produsen utama sangat bergantung pada situasi Selat Hormuz untuk mengekspor minyak dan gas alam. Bahkan, stabilitas politik mereka sangat bergantung pada perdagangan yang melalui jalur tersebut.

Dalam hal ekonomi, AS akan menjadi salah satu negara yang paling sedikit terpengaruh oleh gangguan minyak. Sebab, produksi domestik AS meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu dapat memotong impor dari Timur Tengah dengan sangat tajam. (Kps/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments