Kamis, 06 Agu 2020
  • Home
  • Luar Negeri
  • Diduga Ikut Berunjuk Rasa, Hong Kong Tangkap 2 Mahasiswa Jerman

Diduga Ikut Berunjuk Rasa, Hong Kong Tangkap 2 Mahasiswa Jerman

* Inggris Selidiki Penyerangan atas Menteri Kehakiman Hong Kong
redaksi Minggu, 17 November 2019 19:13 WIB
detik.com
BERJAGA : Seorang personil militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China berjaga-jaga dipintu masuk Osborn Barracks di Kowloon Tong, Hong Kong, Sabtu (16/11). Ketegangan yang terus terjadi di Hong Kong dikhawatirkan memancing kesabaran Presiden China Xi Jinping hingga berpotensi menurunkan tentara China dibekas koloni Inggris itu. dailymail

London (SIB)
Polisi menginvestigasi 'serangan' terhadap Menteri Kehakiman Hong Kong Teresa Cheng. Cheng sebelumnya jatuh ke tanah setelah dihadang oleh sekelompok demonstran pro-demokrasi di London, Inggris. Polisi London mengatakan penyelidikan "sedang berlangsung untuk memastikan keadaan penuh" dari insiden itu. Namun, sejauh ini belum ada penangkapan terkait insiden tersebut. "Seorang wanita dibawa ke rumah sakit oleh London Ambulance Service yang menderita cedera pada lengannya," tambahnya tanpa mengkonfirmasi identitas Cheng dikutip dari AFP, Jumat (15/11).


Sebelumnya, Cheng dijadwalkan memberi ceramah di Chartered Institute of Arbitrators (CIArb) di Bloomsbury Square, London pusat, Kamis malam. Tetapi CIArb mengatakan acara itu dibatalkan karena "ketika memasuki gedung (Cheng) diserang oleh kerumunan". Ia menambahkan: "Akibatnya dia mengalami cedera pada lengannya."


Video dari insiden yang beredar di media sosial menunjukkan Cheng dikelilingi oleh pengunjuk rasa pro-demokrasi, yang mengikutinya melalui jalan-jalan dekat markas CIArb. Dia jatuh ke tanah dan kemudian dikawal pergi.
China menyebut insiden itu sebagai "serangan mengerikan" dan mendesak London untuk memberikan keamanan yang lebih baik. Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mengecam keras insiden tersebut dengan menyebutnya sebagai 'serangan biadab'.


Sementara itu dua mahasiswa Jerman ditangkap di Hong Kong terkait aksi-aksi demo besar-besaran di wilayah tersebut. Kepolisian Hong Kong menyatakan, kedua mahasiswa berumur 22 tahun dan 23 tahun itu ditangkap karena diduga ikut serta dalam "perkumpulan ilegal".


Kepolisian tidak merilis identitas kedua mahasiswa tersebut, namun menyebut keduanya juga menghadapi dakwaan melanggar aturan antimasker saat aksi demo di Hong Kong. Sementara itu di Berlin, Kementerian Luar Negeri Jerman mengonfirmasi penangkapan kedua pria Jerman itu, namun tidak merilis identitas maupun dakwaan terhadap keduanya. "Konsulat kami di Hong Kong memberikan bantuan konsuler bagi mereka yang terdampak dan tengah berhubungan dengan seorang pengacara dan otoritas lokal," kata sumber kementerian.


Menurut surat kabar beroplah besar di Jerman, Bild yang mengutip para aktivis Hong Kong, kedua pria Jerman itu merupakan mahasiswa yang mengikuti program pertukaran mahasiswa di Universitas Lingnan di Hong Kong. Lingnan yang dulunya bernama Lingnan College merupakan satu-satunya universitas seni liberal publik di Hong Kong.


Abaikan Ancaman China

Sebelumnya ribuan demonstran pro-demokrasi Hong Kong kembali menggelar aksi unjuk rasa menentang ancaman dari Presiden China Xi Jinping. Aksi demo kali ini memicu gangguan masalah selama lima hari berturut-turut. Para demonstran menempati beberapa gedung perkuliahan, sementara karyawan kantoran lagi-lagi kesulitan mengakses transportasi umum. Operasional kereta bawah tanah dilaporkan kacau akibat akses jalanan yang diblokir hingga adanya barikade massa.


Tidak hanya para demonstran, ribuan pekerja kantoran juga menggelar aksi damai pada saat jam makan siang dengan menyerukan "Berdiri Bersama Hong Kong" sambil mengangkat telapak tangan yang terbuka serta merentangkan kelima jari tangan.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk tuntutan terhadap lima permintaan selama gerakan demonstrasi berlangsung. Salah satunya adalah kebebasan memilih pemimpin Hong Kong serta melakukan penyelidikan independen terhadap kekerasan polisi.


"Pemerintah tidak menanggapi sekali pun aksi damai dua juta orang. Sekarang ketika polisi menyalahgunakan kekuatannya, pemerintah hanya berpikir bahwa masalah ada pada demonstran," ungkap pekerja kantoran yang mengikuti aksi demo.
Presiden China Xi Jinping sebelumnya mengeluarkan ancaman bahwa aksi unjuk rasa telah mengancam prinsip 'satu negara, dua sistem' yang mengatur negara semi-otonom itu. Xi juga berharap agar pemerintah Hong Kong memprioritaskan penghentian kekerasan untuk mengendalikan kekacauan.


Aksi protes besar-besaran di Hong Kong telah memasuki bulan kelima dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, karena pendukung pro-demokrasi terus menuntut kepala eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mundur dari jabatannya di pemerintah setempat dan peninjauan kembali terhadap perilaku polisi harus dilakukan. Namun ketegangan yang terus terjadi dikhawatirkan memancing kesabaran Xi hingga berpotensi menurunkan tentara China di Hong Kong. (Detikcom/c)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments